Pengamat Sebut Problem Calon Kepala Daerah Adalah Cost Politik

Pakar Politik Universitas Hasanuddin, Andi Lukman Irwan.

Terkini.id — Untuk maju mencalonkan diri pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) tentunya tidak harus memiliki popularitas, Integritas dan elektabilitas saja yang harus dimiliki para calon.

Namun yang paling utama untuk maju adalah isi tas. Pakar Politik Universitas Hasanuddin, Andi Lukman Irwan mengatakan, yang menjadi problem kandidat pilkada adalah cost politik atau biaya politik yang tergolong mahal.

Pemicu mahalnya cost politik karena partai politik hanya menentukan usungan berdasarkan faktor isi tas atau kemampuan finansial.

“Hal itu memunculkan calon pemimpin yang tidak berintegritas,” ujar Lukman, pada kegiatan Ngobrol Politik bertemakan “Bedah Integritas Calon Walikota Makassar”, Minggu 22 Desember 2019.

Pemicu lain tingginya cost politik adalah transaksional suara (jual-beli suara) pada Pilkada. Menurutnya, hampir semua calon mengeluarkan uang banyak dalam momentum Pilkada.

“Adakah calon yang berani maju di Pilkada tanpa menggunakan uang. Hampir Semua calon menggunakan isi tas,” ujarnya.

Olehnya itu, ia berharap, partai politik harusnya melahirkan calon-calon pemimpin yang memiliki integritas dan rekam jejak dan tidak mengusung berdasarkan isi tas.

Komentar

Rekomendasi

Amirulllah Nur Siap Bangun Koalisi PKB dan PPP di Pilkada Maros

Ini Tanggapan Gubernur Terkait Pilwali Makassar Masuk Kategori Rawan Konflik

Adnan-Kio Resmi Kantongi Rekomendasi PKB, Sejarah Baru Usung Klan Yasin Limpo

Hasil Survei GSI, Appi Tempel Danny Pomanto

Nurdin Halid Pastikan Rekomendasi Golkar Untuk Pilwali Makassar Keluar 7 Maret 2020

PDIP Tegaskan Harga Mati Usung Kader di Pilwali Makassar 2020

Munafri Arifuddin Akan Gandeng Ipar Gubernur Untuk Pilwali Makassar 2020

Sejumlah Partai Usulkan Calon Pendamping Danny Pomanto di Pilwali Makassar

Cerita 5 Hari KPU Makassar Menanti Bakal Calon Wali Kota Makassar di Jalur Perseorangan

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar