Pengamen Tuntut Polisi Hampir Rp 1 M Gegara Disiksa dan Disetrum, Padahal Salah Tangkap

Terkini.id, Jakarta – Empat orang pengamen jalanan menjadi korban salah tangkap terkait kasus pembunuhan.

Karena salah tangkap, mereka pun menuntut ganti rugi pihak Polda Metro Jaya dan Kejaksaan Tinggi DKI sebesar Rp 746 juta.

Dibantu oleh Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, empat orang pengamen jalanan tersebut menuntut ganti rugi kepada Polda Metro Jaya dan Kejaksaan Tinggi DKI.

Tuntutan tersebut dilayangkan empat pengamen bersama LBH Jakarta lantaran Polda Metro Jaya dianggap sudah salah menangkap orang dalam kasus pembunuhan.

Mirisnya lagi, empat orang pengamen tersebut masih di bawah umur ketika ditangkap.

Temukan Mayat, Malah Dituduh Pelaku Pembunuhnya

Dilansir dari kompascom, kejadian ini bermula ketika Fikri (17), Fatahillah (12), Ucok (13) dan Pau (16) menemukan sesosok mayat di bawah kolong jembatan samping Kali Cipulir, Jakarta Selatan pada 2013 silam.

Keempat orang tersebut pun lantas melaporkan penemuan mereka ke sekuriti setempat, yang kemudian langsung menghubungi pihak kepolisian.

Salah satu pelapor, Fikri Pribadi, mengatakan bahwa saat itu dia dan ketiga rekannya diminta menjadi saksi oleh petugas kepolisian yang datang ke lokasi penemuan mayat.

“Polisinya bilangnya, ‘Tolong ya Abang jadi saksi ya’. ‘Iya enggak papa saya mau’, saya jawab begitu,” jelasnya.

“Tahunya pas sudah di Polda, malah kami yang diteken,” ungkap Fikri di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Rabu 17 Juli 2019 lalu.

Fikri mengaku, bahwa dia dan ketiga rekannya tidak cuma diperiksa, namun juga disiksa oleh para oknum polisi setibanya di Polda Metro Jaya.

Fikri Pribadi, pengamen jalanan yang mengaku disiksa oknum polisi Polda Metro Jaya.

“Saya langsung dilakbanin, disiksa pokoknya di Polda.

“Disetrum, dilakbanin, dipukulin, sampai disuruh mengaku,” tambahnya.

Berdasarkan pengakuan Fikri, penyiksaan itu berlangsung selama seminggu.

Tidak kuat menerima siksaan lagi, Fikri dan ketiga temannya akhirnya lebih memilih untuk mengaku.

Padahal, keempat pengamen ini tidak tahu atas dasar apa polisi menuduh mereka sebagai tersangka.

Pengakuan tersebut membuat kasus mereka naik ke kejaksaan hingga ke meja hijau.

Fikri (17), Fatahillah (12), Ucok (13) dan Pau (16) divonis bersalah oleh hakim, dan harus melanjutkan hidup mereka di dalam penjara anak Tangerang.

Kisah malang mereka akhirnya menemui titik terang saat Mahkamah Agung menyatakan jika Fikri dan ketiga rekannya tidak bersalah dalam peristiwa pembunuhan Cipulir.

Keempatnya bebas pada tahun 2016 berkat putusan Mahkamah Agung Nomor 131 PK/Pid.Sus/2016.

Tiga tahun berselang, kini keempat korban dengan ditemani oleh LBH Jakarta, menuntut ganti rugi kepada sebesar Rp 746 juta kepada Polda Metro Jaya dan Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta.

Kuasa hukum korban dari LBH Jakarta, Oky Wiratama Siagian, mengatakan jika korban berhak menuntut ganti rugi.

“Di Mahkamah Agung, putusannya menyatakan membebaskan keempat anak kecil ini. Nah, kami memberitahu kepada mereka, ketika putusannya bebas maka ada hak mereka yang bisa dituntut ganti kerugian. Dan udah ada mekanismenya dari PP 92 tahun 2015,” ungkap Oky, dikutip Grid.ID dari Tribun Jakarta.

Oky mengungkapkan bahwa keempat korban kehilangan waktu yang sebenarnya bisa membuat kehidupan mereka lebih baik.

“Mereka enggak bersalah, sebenarnya mereka bisa kerja akhirnya gara-gara saya dipidana, enggak kerja kan. Ini yang dituntut,” tegasnya.

Jumlah kerugian yang dituntut pihak korban pun mencapai hingga Rp 186.600.00 untuk per anak, yang kemudian ditotal menjadi sebesar Rp 746,4 juta.

“Selama ini ditahan dia nggak sekolah dan lain-lain, itu yang harus dituntut. Dan pihak kepolisian harus menyatakan bahwa memang harus mengakui kalau mereka salah tangkap, gak fair dong,” tambahnya.

Rencananya, sidang guna menuntut kerugian ini akan kembali dilaksanakan pada Senin 22 Juli 2019 pukul 09.00 WIB.

Berita Terkait
Komentar
Terkini