Pengusaha asing resahkan pembuat Pinisi di Bulukumba

Kapal Pinisi / Masyudi Firmansyah

BULUKUMBA – Sejumlah pengusaha pembuat kapal Pinisi di Desa Bira, Kecamatan Bontobahari, Bulukumba kian resah.

Pasalnya, saat ini sudah ada warga asing yang juga turut membuka usaha pembuatan kapal Pinisi di Desa Bira juga Bontobahari.

Dari data yang dihimpun MAKASSARTERKINI.com, saat ini sudah ada lima Warga Negara Asing (WNA) yang membuka usaha tersebut. Kehadiran mereka tentu ditunjang dengan kondisi finansial yang baik dan jaringan yang luas.

Salah seorang pengusaha bernama Ariawan mengaku semenjak WNA tersebut membuka usaha pembuatan Pinisi orderannya menurun. Biasanya dirinya bisa mendapatkan lima orderan kapal dalam setahun, namun kini hanya ada dua dalam satu tahun

"Saya minta pemerintah tidak tinggal diam dengan adanya WNA yang buka usaha pembuatan Pinisi di sini. Pengusaha lokal jadi terancam apalagi mereka punya kekuatan modal yang kuat ditambah jaringan mereka di luar banyak jadi promosinya lancar," ungkap Ariawan pada MAKASSAR TERKINI, Rabu 28 Desember 2016.

Bukan hanya itu, konflik sosial yang ditakutkan juga bisa terjadi, dikarenakan pekerja atau buruh yang dipekerjakan di tempat WNA itu merupakan penduduk lokal.

Baca :Yuk Hadiri Festival Pinisi 2018, Berikut Jadwal dan Agendanya

"Ya kita takutnya bila konflik sosial antara warga lokal terjadi, di mana pengusaha lokal yang konflik dengan pekerja di sana ini bisa berbahaya bila tidak segera ditangani dengan serius," beber Pemerhati Seni Bulukmba, Ahmad Haris.

Ia menambahkan, Pinisi merupakan warisan leluhur nenek moyang Bulukumba. Menurutnya, tidak boleh ada kekuatan asing yang merebut ikon Butta Panrita Lopi ini.

Ahmad juga menjelaskan, Pinisi dibuat oleh ahlinya yang disebut Panrita karena di situlah terkandung nilai-nilai luhur para pembuat Pinisi. "Bukan sekedar dibuat saja," tegasnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Bulukumba Tommy Satria mengatakan, pihaknya bersama Lantamal saat ini sudah turun ke lapangan untuk memonitirong keberadaan WNA yang juga turut membuka usaha di Bira dan Bontobahari.

"Kita akan lihat apakah para warga asing tersebut memiliki visa tinggal atau visa kerja," kata Tommy

Pengusaha lokal juga perlu membuat asosiasi untuk melindungi kepentingan pengusaha dari intervensi pengusaha asing. 

"Kita juga akan memastikan apakah pengusaha asing memiliki izin usaha di Bontobahari. Ada indikasi mereka hanya meminjam dan menyewa tempat pembuatan perahu pengusaha lokal. Ini yg membuat kita sedikit kesulitan memonitor itu," jelasnya. (B)

Baca :Kapal Pinisi diusulkan menjadi warisan budaya dunia

Diva