Penuh darah dan mayat, inilah 5 sungai paling mengerikan di Indonesia

Ilustrasi sungai darah. (foto/geologi.co.id)

Terkini.id, – Sungai menjadi pusat segala aktivitas dari manusia. Entah itu mencari air, mandi, bekerja, dan lain sebagainya. Namun dalam praktiknya, sungai juga difungsikan sebagai bagian dari budaya dan adat setempat.

Ada kalanya sungai juga dijadikan “kuburan”, tempat orang-orang membuang mayat. Jadinya sungai yang biasanya tampak indah dan sejuk berubah menjadi seram dan berbau tak sedap.

Beberapa sungai di Indonesia juga pernah menjadi saksi bisu tragedi kemanusiaan paling berdarah di negeri ini. Dilansir dari boombastis, berikut ini 5 sungai paling mengerikan di Indonesia.

1. Sungai Poso

Sungai Poso. (foto/blogspot.com)

Salah satu tragedi kelam yang pernah terjadi di negeri ini yakni konflik antar agama di daerah Poso. Konflik tersebut membuat puluhan atau bahkan ratusan nyawa direnggut secara paksa. Anak-anak dan wanita yang tak bersalah harus mati setelah disiksa.

Salah satu kasus yang menjadi sorotan tajam karena kerusuhan Poso ketika itu adalah penyerangan dan pembantaian yang terjadi di pondok pesantren Walisongo. Jasad korban pembantaian kemudian dihanyutkan di Sungai Poso.

Baca :7 sungai paling indah di dunia, salah satunya ada di Indonesia

Menurut pengakuan warga yang tinggal di pinggiran sungai, dari pagi sampai siang terhitung ada 70-an mayat yang hanyut terbawa arus. Dan jumlahnya terus bertambah hingga petang menjelang. Mereka juga menemukan mayat orang tua, anak-anak, dan wanita.

2. Sungai Brantas

Sungai Brantas. (foto/wikipedia.com)

Di Kota Batu, Kecamatan Bumiaji, Desa Sumber Brantas, terdapat sungai yang memiliki mata air dan merupakan sungai terpanjang kedua di Pulau Jawa, setelah Bengawan Solo.

Ketika pembantaian massal 1965 pecah di negeri ini, tak ada satu pun warga yang berani mendekati Sungai Brantas. Hal itu dikarenakan jasad dari korban pembantaian biasanya dihanyutkan di sungai tersebut sehingga air sungai berubah merah dan baunya jadi anyir karena darah.

Menurut pengakuan warga yang menjadi saksi, sebagian besar mayat yang dibuang ke Sungai Brantas sudah tak berkepala. Entah di mana kepala-kelapa itu dikubur.

3. Sungai Ular

Sungai Ular. (foto/kwikku.com)

Sungai Ular terletak di Desa Citaman Jernih, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdangbedagai. Sungai ini dulunya dijadikan tempat penjagalan terduga PKI.

Baca :Sempat viral, ternyata ini penyebab tumpukan batu misterius di aliran sungai

Namun, siapa sangka kalau dulunya sungai ini pernah berubah “merah” karena mayat-mayat korban pembantaian. Baru-baru ini, Sungai Ular memang muncul sebagai salah satu latar dari film terkenal The Act of Killing (Jagal), karya sutradara Joshua Oppenheimer.

Film The Act of Killing memberi penonton gambaran tentang bagaimana dulunya sungai itu dijadikan tempat penjagalan dan pembuangan mayat dari para terduga PKI.

4. Sungai Mentaya

Sungai Mentaya. (foto/wikipedia.com)

Gesekan yang terjadi antara etnis Madura dan Dayak di Sampit telah memicu pertumpahan darah. Belum ada angka pasti berapa yang meninggal dalam peristiwa itu, namun beberapa menyebut kalau angkanya bisa mencapai ratusan atau bahkan ribuan nyawa.

Salah satu yang menjadi penyebab bentrokan ini adalah perkelahian siswa SMK di Baamang. Konflik antar pelajar itu melibatkan anak warga Dayak serta Madura sehingga berubah menjadi perselisihan antar keluarga, etnis, agama, sampai akhirnya pecah perang.

Aksi saling balas antar suku Madura dan Dayak membuat Sampit membara. Suku Dayak yang telah lama dikenal dengan kekuatan spiritualnya yang kuat, berhasil menguasai Sampit dan membantai orang-orang Madura.

Baca :Sosialisasi Peraturan DAS, Rahman Syah : Sungai harus dijaga kelestariannya

Para korban yang mayatnya sudah tanpa kepala banyak dibuang di aliran sungai Mentaya. Air sungai pun berubah merah dan mengeluarkan bau anyir dari darah.

5. Sungai Bengawan Solo

Sungai Bengawan Solo. (foto/wikipedia.com)

Sungai Bengawan Solo pernah menjadi saksi bisu dari tragedi kemanusiaan paling berdarah di Indonesia.  Jembatan Bacem yang dibangun tepat di atas aliran Bengawan Solo merupaan salah satu spot yang dijadikan tempat jagal para korban tragedi 1965.

Setiap malam, para tentara menembaki tahanan terduga PKI di Jembatan Bacem, dan kemudian mayatnya dihanyutkan begitu saja di aliran Sungai Bengawan Solo. Nelayan yang kerap menangkap ikan di sana sering kali mendapati jari atau bagian tubuh manusia lainnya di dalam perut ikan.