Perahu Pinisi Bulukumba jadi kebanggaan dunia

Perahu Pinisi kebanggaan dunia kini telah diakui dunia sebagai warisan takbenda dunia oleh UNESCO

TERKINI.id, BULUKUMBA – Perahu Pinisi kini telah menjadi kebanggaan, bukan hanya bagi warga Bulukumba namun juga Sulawesi-Selatan bahkan Indonesia sekalipun. Keberadaannya kini telah diakui dunia sebagai warisan takbenda dunia oleh UNESCO.

Pembuatan Perahu Pinisi sendiri berada di Kelurahan Tanah Beru Kecamatan Bontobahari Bulukumba, namun ada juga pembuatan perahu Pinisi yang bisa ditemukan di beberapa tempat di Bulukumba seperti di Desa Ara Kecamatan Bontotiro dan di Desa Bira Bontobahari.

Konon awal pembuatan Perahu Pinisi pertama dibuat di Desa Ara kemudian dikembangkan di wilayah Tanah Beru Kecamatan Bontobahari, atau lebih lazim disebut bila pembuat Perahu Pinisi adalah orang Ara dan dibuat di Tanah Beru.

Proses pembuatan Perahu Pinisi dilakukan oleh tenaga pekerja dari Kelurahan Tanah Beru Kecamatan Bontobahari Bulukumba.

Nama Pinisi konon diambil dari bahasa Inggris yakni Finish.

Perahu Pinisi dari segi model memang beda dari perahu atau kapal pada umumnya dimana perahu ini dijumpai beberapa tiang layar. Awalnya Perahu Pinisi hanya ada dua tiang saja namun seiring berkembangnya waktu kini bisa dipasang hingga tujuh tiang sesuai pesanan dan kebutuhan.

Baca :Hebat, cara umur panjang warga desa ini wajib ditiru

Ukuran Perahu Pinisi sendiri bermacam-macam, sesuai keinginan pemesan yang menginginkan ukuran berapa. Untuk ukuran Perahu Pinisi ukuran 35 GT atau sekitar 20 x 1,5 meter dalam proses pembuatannya dibutuhkan sedikitnya 50 kubik kayu. Adapun jenis kayu digunakan yakni kayu besi untuk lunas, lambung kapal, linggi kapal dan penindis kapal. Sedangkan untuk dek kapal dan kabin menggunakan kayu jati asli atau kayu maranti. Sementara untuk tulang kapal sendiri menggunakan kayu bitti atau kayu pude dan kayu jati.

Ini uniknya Perahu Pinisi karena proses pembuatan manual dilakukan oleh tenaga pekerja dari Kelurahan Tanah Beru Kecamatan Bontobahari Bulukumba.

Ini uniknya Perahu Pinisi karena proses pembuatan manual dilakukan oleh tenaga pekerja dari Kelurahan Tanah Beru Kecamatan Bontobahari Bulukumba.
Untuk proses pembuatan satu unit Perahu Pinisi sendiri bisa memakan waktu 5 hingga 6 bulan tergantung ukuran kapal itu sendiri. Sedangkan harganya juga bermacam macam, untuk ukuran 35 GT saja ditaksir 1,5 miliar rupiah.

Umumnya para peminat Perahu Tradisional khas Sulawesi-Selatan ini bukan hanya diminati konsumen lokal saja, namun juga diminati konsumen luar negeri.

Negara-negara yang sering melakukan pemesanan Perahu Pinisi di tempat ini, umumnya dari negara-negara Eropa dan Asia seperti Belanda, Swiss, Austria, Inggris, Jepang, Tiongkok, Filipina dan Malaysia.

Baca :Luar Biasa, Selangkah Lagi Makassar Menuju Kota Gastronomi Jejaring UNESCO

Modelnya yang unik dan tentu saja didukung kualitas yang bagus membuat Perahu Pinisi selalu menjadi Primadona para konsumennya. Apalagi cara pembuatan Perahu ini masih terbilang manual.

Salah seorang saudagar Perahu/Kapal Pinisi, Haji Kardi mengatakan dalam setahun dirinya mampu menjual perahu dua hingga lima unit.

“Dalam kurung waktu tahun 2016 hingga 2018 kebanyakan konsumen itu memesan perahu pesiar,” ungkap Haji Kardi.

Haji Kardi mengatakan bahwa pesona Perahu Pinisi memang selalu menjadi daya tarik tersendiri, jadi tidak heran kalau tiap tahun omzet penjualan perahu pinisi selalu meningkat.

Saat ini jumlah pembuat atau pengrajin Perahu Pinisi di Bontobahari sudah mencapai 40 orang. Untuk buruh atau pekerja semuanya berasal dari daerah Bontobahari saja.

Itulah alasan mengapa UNESCO menjadikan Perahu Pinisi sebagai warisan takbenda dunia, karena bukan hanya perahunya saja, namun jauh dari pada itu ada pengakuan terkait peradaban dan budaya dalam proses pembuatan Perahu Pinisi yang turun temurun yang hanya bisa dilakukan orang orang tertentu di Desa Ara dan Bontobahari Bulukumba.

Baca :Begini Cara Dispar Makassar Wujudkan Makassar Jejaring Kota Kreatif UNESCO

Diva Alodia