Perhelatan Piala Dunia 2018 dan Pesta Demokrasi Indonesia 2019

Ketua Panwaslu Kabupaten Jeneponto,Saiful,SH.
Ketua Panwaslu Kabupaten Jeneponto,Saiful,SH.

Terkini.id,Jeneponto – Perhelatan Piala dunia 2018 telah berakhir, Perwakilan dua tim terbaik dari  8 grup fase penyisihan telah menghadirkan berbagai kejutan dengan mempertontonkan permainan yang dramatis.

Kejutan paling dramatis adalah tersisihnya sang juara bertahan Jerman. Jerman yang hanya membutuhkan kemenangan satu gol harus tersisih karena dipermalukan oleh wakil Asia yang juga sudah pasti tersisih yakni Korea Selatan.

Selain Jerman, negara yang memiliki bintang sepak bola dunia pun seperti, Argentina, Spanyol, Fortugal, Ingris dan sang tuan rumah harus mengakui tim yang mengalahkannya.

Namun kekalahan para negara raksasa sepek bola itu diterima dengan lapang dada, bahkan di setiap akhir pertandingan para pemain saling berpelukan dan saling memberikan motivasi bagi para pemenang.

Padahal dalam pertandingan sepok bola ada pelaksana, ada wasit sebagai pengadil di lapangan yang merupakan seorang manusia biasa, yang terkadang salah dalam mengambil keputusan, tapi yang terjadi tidak ada protes atau tindakan yang berlanjut kemeja pengadilan, kerusuhanpun tidak terjadi.

Menarik untuk Anda:

Inti dari semua cerita di atas adalah, apapun itu, semua sudah ada aturan mainnya. Semua pihak menghormati bersama aturan yang sudah disepakati. Bahkan pilihan teknologi yang dilibatkan juga dihormati bersama.

Piala Dunia kali ini memanfaatkan teknologi Video Assistant Referee (VAR) dan Goal Line Technology (GLT) yang didukung semua pihak karena semua sepakat untuk menghadirkan akurasi fakta dan objektivitas keputusan dalam setiap pertandingan.

Bagaimana dengan pesta demokrasi Indonesia? 

Menurut Ketua Panwaslu Jeneponto,Saiful,SH. Belajar dari Piala Dunia 2018, dirinya salut dengan proses dan penyikapan atas hasil kontestasi piala dunia, khususnya tim Prancis dan Kroasia yang ketemu di final.

“Semua tim mengakui dan menerima hasilnya dengan baik, tidak ada yang protes, tidak ada yang demo menolak, apalagi sampai melakukan aduan sengketa ke Mahkamah,” kata Saiful.

Menurutnya, meskipun kemenangan itu telah diraih dengan kerja keras bersama tim yang solid, namun euforia kemenangan tetap dalam batasan kewajaran.

“Tentu banyak pelajaran yang bisa diambil, khususnya dalam menyikapi berbagai kontestasi yang telah dan akan kita hadapi kedepan. Kita mesti bisa belajar kepada tim-tim yang bertanding dalam kompetisi besar tersebut. Mereka memang bersaing dan berusaha saling mengalahkan, tetapi itu hanya terjadi dalam lapangan selama lebih-kurang 90 menit. Setelah itu mereka saling berangkulan, saling tukar baju, tidak saling membully apalagi saling menghina, baik sebelum ataupun setelah bertanding,” tuturnya.

Lebih lanjut Saiful mengatakan, usaha keras untuk saling mengalahkan di lapangan, tidak lalu menghalalkan segala cara, mereka semua patuh pada rambu dan aturan permainan, jika ada pemain yang dilanggar, maka yang melakukannya (tentu tidak sengaja), bahkan para pemain datang menolong dan membantunya bangkit.

“Mereka mengajari kita tentang sportifitas dalam berkompetisi. Juga mengajari kita bahwa untuk sebuah kemenangan, kualitas individu yang dirangkai dalam sebuah tim kerja yang solid, akan sangat menentukan, bukan dan tidak dengan tindakan atau perilaku kecurangan, apalagi dalam bentuk intimidasi,” ungkapnya.

Pertandingan di piala dunia itu juga mengajari kepada kita bagaimana mengelola perhelatan kompetisi ini dengan baik. Panitia sejak awal telah mempersiapkan semua kebutuhan dengan baik dan detail, sehingga tidak ada protes terkait fasilitas, tidak ada keterlambatan bahan dan alat yang dibutuhkan.

“Panitia yang ada juga faham apa yang mesti dan seharusnya mereka lakukan, mereka sudah dilatih dan dibimtek secara berjenjang hingga di tingkat paling bawah, tidak ada lagi kesalahan prosedur,  tertukar atau senagaja ditukar, kesalahan tulisan atau rekapan hasil, tidak ada yang diberi izin memalsukan identitas agar bisa mengelabui yang lain, jumlah pemilik tiket dan kapasitas stadion memuat sesuai kapasitasnya, sehingga tidak ada surat keterangan (suket) yang diterbitkan ganda,” ujarnya.

Momen Piala Dunia 2018 bisa jadi contoh pesta demokrasi tanah air

Demikian pula tim yang ditunjuk sebagai pengadil, pengawas pertandingan dan yang lainnya, mereka bertindak sesuai prosedur, tidak memihak kepada tim tertentu, baik karena kedekatan emisional, satu daerah, ataupun karena faktor lain. Tim pengadil akan meniup pluit, memberi peringatan, mengeluarkan kartu kuning bahkan kartu merah, jika memang mesti dikeluarkan karena adanya tindak pelanggaran yang dilakukan, baik oleh pemain yang berkompetisi, juga terhadap siapa yang dianggap dapat menggangu jalannya pertandingan.

“Sikap tegas, adil, tidak memihak, mandiri, terbuka (transparan) dan akutable (putusan yang bisa dipertanggungjawabkan) menjadi dasar semua tindakan tim pengadil. Dan yang tidak kalah pentingnya, adalah sikap sportifitas yang ditunjukkan oleh sporter yang menyaksikan pertandingan itu,Mereka memiliki pilihan-pilihan serta dukungan yang berbeda, namun mereka tetap dalam batasan yang wajar,” imbuhnya.

Menurutnya, para pendukung tim piala dunia memberikan contoh kepada tim sukses, tim pemenangan dan simpatisa calon pada Pilkada 2018 dan Pemilu 2019.

“Mereka boleh menyemangati tim favorit dan kebanggaan mereka, tetapi mereka tidak lalu memusuhi kelompok lain yang mendukung tim yang berbeda dengan mereka. Mereka akan berteriak kegirangan saat tim mereka bisa menang, tetepi akan dengan legowo menerima (meski sedih), jika tim kesayangam mereka kalah,” tutupnya.

Perhelatan piala dunia 2018 ini menjadi pelajaran besar bagi kita semua, saat kita juga lagi memasuki menit-menit awal persiapan kontestasi perebutan kursi-kursi parlemen dan yang akan menjadi pemegang “tahta juara” di Pilpres 2019 nanti.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Kejari Jeneponto Limpahkan Berkas Perkara Mantan Kadis PU ke Pengadilan Tipikor Makassar

Bawaslu Jeneponto Gelar Seminar Pengawasan Partisipasif

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar