Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Minus 5,32 Persen, Sudah Masuk Resesi?

Terkini.id, Jakarta – Seperti prediksi BI dan pengamat ekonomi, Badan Pusat Statistik (BPS) akhirnya mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang minus 5,32 persen pada triwulan II tahun 2020.

Angka itu bahkan lebih parah dari konsensus pasar ataupun ekspektasi pemerintah dan Bank Indonesia yang memperkiraka pertumbuhan ekonomi RI di kisaran minus 4,3 persen hingga minus 4,8 persen.

Meskipun minus hingga 5,32 persen, Indonesia belum masuk kategori resesi karena belum mengalami resesi dua triwulan berturut-turut.

Pada kuartal I-2020, ekonomi Indonesia tercatat tumbuh positif sebesar 2,97 persen, meski melambat bila dibandingkan kuartal IV-2019 yang tumbuh 4,97 persen.

Meski begitu, Center of Reform on Economics (CORE) memprediksi pertumbuhan ekonomi akan kembali negatif pada triwulan III-2020 mendatang.

Menarik untuk Anda:

“Walaupun mengalami pertumbuhan minus pada kuartal II-2020, tetapi kita secara formal belum disebut resesi. Definisi resesi terjadi ketika pertumbuhan ekonomi negatif dua kuartal berturut-turut,” terang Direktur Riset Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah seperti dikutip dari kompascom, Rabu 5 Agustus 2020.

Piter menekankan, Indonesia akan resmi masuk jurang resesi jika pertumbuhan ekonomi kembali negatif pada kuartal III-2020.

Saat ini, CORE sendiri memperkirakan ekonomi Indonesia berpotensi tumbuh negatif 3-4 persen pada kuartal III-2020.

“Jadi kita baru disebut mengalami resesi nanti apabila pada bulan Oktober 2020, ternyata BPS kembali merilis angka pertumbuhan kuartal III yang negatif,” katanya.

Piter menjelaskan, dampak dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang minus sebenarnya sudah dirasakan oleh masyarakat sepanjang April-Juni 2020.

Periode ketika pemerintah memberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) untuk menekan penyebaran Covid-19. “Sehingga, kontraksi tersebut adalah dampak dari wabah Covid-19 yang membatasi aktivitas ekonomi,” ujarnya.

Menurut dia, dengan adanya wabah Covid-19 yang masih berlangsung hingga saat ini, masih ada potensi ekonomi Indonesia kembali tumbuh negatif pada kuartal selanjutnya.

Meski demikian, kontraksi tidak akan sedalam kuartal II-2020. “Pada kuartal III, dengan masih adanya wabah, perekonomian masih akan terkontraksi. Tetapi, dengan pelonggaran PSBB, kontraksi ekonomi yang terjadi akan lebih mild (ringan), tidak akan sedalam kuartal II,” pungkas Piter.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Di Tengah Pandemi, Digitalisasi Dongkrak UMKM Naik Kelas

Cara Asmo Sulsel Pacu Adrenaline Pengguna CRF

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar