Pesawat Jatuh, Banjir, Gempa, dan Keteladanan Ali Jaber

SETIAP minggu kita diingatkan khatib jumat untuk bertakwa. Kita sudah hapal di luar kepala definisi takwa. Bahkan mungkin ada yang sudah bosan mendengarnya. Tapi, yakinlah, wasiat takwa ini menjadi semakin penting untuk dihayati di masa-masa sulit seperti sekarang.

Di awal tahun tahun ini, negara kita diberi cobaan yang bertubi. Bencana datang silih berganti. Pandemi menghancurkan seluruh tatanan kehidupan. Belum selesai, pesawat jatuh di kepulauan seribu, banjir di Kalsel, dan terakhir gempa bumi di sulbar.

Lalu, apa pentingnya takwa dalam menyikapi cobaan yang bertubi ini?

Baca Juga: Hindari Banjir Manila, Ribuan Warga Filipina Dievakuasi!

Nabi bersabda, “takwa itu di sini” sambil menunjuk ke dada beliau. Itu artinya takwa itu melahirkan ketenangan hati dan menjauhkan diri dari kepanikan. 

Ketenangan (tidak panik) sangat penting dalam menyikapi bencana, alam maupun non-alam. Dalam kasus pandemi, orang panik daya imunnya cenderung turun dan sangat rentan terserang penyakit. Jika terlanjur sakit, sulit disembukan.

Baca Juga: Terus Meningkat, Jumlah Korban Tewas Banjir di China Jadi 51...

Ibnu sina berkata: “Kepanikan adalah separuh penyakit, ketenangan adalah separuh obat, dan kesabaran adalah langkah awal kesembuhan.”

Ali Jaber dan Teladan Ketenangan Jiwa

Belum selesai kesedihan kita soal jatuhnya pesawat Sriwijaya, kita kembali dibuat syok dengan berpulangnya Syeh Ali Jaber, Kamis pagi. Media sosial dibanjiri dengan foto-foto ulama asal Madinah tersebut. Semuanya mengucapkan belasungkawa dan rasa kepedihan yang mendalam, tanda bahwa almarhum adalah orang baik yang banyak menginspirasi masyarakat Indonesia, termasuk saya.

Salah satu yang paling menginspirasi adalah kerendahan hati dan ketenangan jiwa beliau. Beliau memberikan kita teladan untuk tidak panik ketika mendapatkan musibah. 

Baca Juga: Kembali Terawang Pesawat Jatuh, Mbak You: Akan Terjadi Tahun Ini

Kita ingat, ketika alm. mendapatkan musibah penusukan saat sedang berdakwah, alm. Justru memaafkan pelakunya dan menolongnya dari amukan massa, bahkan almarhum justru mengucapkan hamdalah, “Alhamdulillahirabbilalamin!”

Ketika ditanya oleh Deddy Corbuzier, kenapa mengucap hamdalah (pujian) padahal tidak mudah memuji Allah ketika kita mendapatkan cobaan. Kata beliau, “kalau kita mampu memuji Allah meski tertimpa musibah, maka di situlah ketenangan jiwa akan datang. Karena Allah telah melaksanakan ketetapannya.”

Selamat jalan Ali Jaber Al-Andunisi (Si Orang Indonesia). Kami merasa sangat kehilangan, tapi, keteladananmu akan selalu menginspirasi. Semoga Allah memberimu tempat terbaik. Amin!

Dr Fuad Fansuri LC M Th I adalah Dosen IAIN Samarinda

Bagikan