Pesta Adat Appanaung ri Je’ne’, Prosesi Ziarah Leluhur Bugis Makassar

Budaya Bugis Makassar
Pesta Adat Appanaung ri Je'ne’

Terkini.id – Sebelum melakukan hajatan, masyarakat Bugis Makassar biasanya melakukan berbagai pesta adat. Salah satu prosesi tersebut adalah Appanaung ri Je’ne’ sebagai bentuk ziarah kepada para leluhur yang ada di air tersebut.

Beberapa waktu lalu, di kediaman Keluarga keturunan Raja Tallo Andi Candra Kusuma Karaeng Baenea di Jalan Gatot Subroto Makassar diadakan upacara adat Appanaung ri Je’ne’.

Upacara seperti ini kata Andi Candra senantiasa dilakukan keluarganya ketika akan dilakukan hajatan seperti sunatan, khitanan ataupun pernikahan.

“Kegiatan ini untuk mengingat dan menyampaikan pada leluhur akan nikmat, rasa syukur dan kebahagian yang dirasakan oleh keturunannya. Sehingga secara spiritual, leluhur tersebut dapat hadir ditengah-tengah kebahagian para anak cucunya. Tena nakkulle nikaluppai tau riolota anjo,” jelasnya.

Karena itu, selain ziarah di kompleks pemakaman raja-raja Tallo, juga diadakan Appanaung ri Je’ne’ di Sungai Tallo. Upacara ini bermula ketika I Siambo anak perempuan Raja Tallo yang merupakan kakak dari Sultan Alauddin sedang berenang (mandi-mandi) di sungai Tallo bersama keluarganya.

Saat itu, tanpa disadari kain yang digunakan tersingkap sehingga bagian bawah tubuhnya terlihat oleh orang lain termasuk anak menantunya yang laki-laki.

I Siambo saat itu sangat malu dan dia tak mau lagi kembali ke Istana. Untuk menanggung malunya ia lebih memilih untuk menceburkan diri ke dalam air. Namun sebelum ia menenggalamkan dirinya ke dasar sungai I Siambo berpesan kepada anak cucunya yang ada di pinggir sungai.

“Anakku, saya sangat malu dengan kejadian ini. Saya tak pantas lagi kembali ke Istana. Saya akan hidup di sini, tapi saya tidak akan mati. Jika kalian, anak cucuku ingin mengenang saya kirimi bubur nasi mendidih (tompo kanre) dan sebutir telur ayam,” ujarnya lalu menghilang ke dalam air.

Sejak saat itu I Siambo tak pernah dilihat lagi. Sejak saat itulah upacara Appanaung ri Je’ne’ dilakukan oleh keluarga keturunan Raja Tallo hingga saat ini.

Sesajian yang dilarung atau diturunkan di sungai Tallo berupa seperti yang dipesan I Siambo. Makanan tersebut merupakan makanan kesukaan semasa ia masih berkumpul bersama keluarganya di Istana.

Proses Appanaung ri Je’ne’ dimulai pada malam hari dengan melakukan ritual appanuru dihadapan calon pengantin. Tiga orang poroyong membacakan do’a (mantra-mantra) kepada calon mempelai agar semua prosesi pernikahan dari awal sampai akhir dapat berjalan lancar serta mendapatkan restu dari leluhur.

Tanda-tanda kebesaran berupa payung kerajaan, tombak, maupun senjata kerajaan lainnya juga dihadirkan dalam Appanuru tersebut. Sementara itu juga dipersiapkan berbagai sesajian yang akan dibawa ke sungai Tallo untuk dilarung.

Kesokan harinya, ketika matahari sudah setinggi tombak,bersama para kerabat dengan pakaian adat bersama-sama menuju sungai Tallo. Laki-laki membawa tombak dan peralatan lainnya.

Sesampai di dekat sungai, rombongan jalan kaki sambil karnaval diiringi tabuhan gendang, pui’-pui’dan gong. Sampai dipinggir sungai, Andi Candra bersama dengan beberapa wanita turun ke sungai membawa sesajian akan dilarung. Sambil berdo’a, salam kepada para leluhur dan semua penghuni air sesajian itu dilarung ke air.

Komentar

Rekomendasi

Gubernur Anies Sebut Perayaan Cap Go Meh Perkuat Persatuan Warga

Cheng Ho, Bahariawan Muslim Tionghoa yang Berjasa Sebarkan Islam di Nusantara

Opera Beijing, Seni Mahakarya Tiongkok yang Diakui Dunia

Dicekal Orba, Saat Ini Barongsai Lebih Banyak Dimainkan Non Tionghoa

Tionghoa Indonesia, Asimilatif Sejak Migrasi Nenek Moyang Tiongkok ke Nusantara

Unik, Ini Sejarah Taucang Kuncir Khas Tiongkok Era Dinasti Qing

Patung Singa Khas Tiongkok, Makna bagi Masyarakat Tionghoa

Asimilasi Tionghoa Makassar Tempo Doeloe, Makan Nasi Aking hingga Binatu Keliling

Ramai Soal ‘di Bulukumba Hanya Ada Bahasa Bugis-Makassar’ Begini Penjelasan Andi Mahrus

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar