Petani Harus Waspada, Perubahan Iklim Ancam Kopi dan Kakao

Terkini.id, Jakarta – Para petani kopi dan cokelat termasuk di Sulawesi Selatan harus perlu waspada beberapa tahun mendatang.

Pasalnya, usaha mereka nampaknya akan terganggu dengan menyusutnya beberapa tanaman pelindung di kebun mereka yang dapat mengancam kelangsungan kopi dan cokelat mereka karena tidak lagi terlindungi sebagaimana sebelumnya, sebagaimana dilaporkan Phys.org, 20 Juni 2019.

Hal itu berdasarkan laporan studi mengenai skenario iklim masa depan di Kawasan Amerika Tengah yang baru-baru ini dirilis oleh sejumlah peneliti di situs nature.com.

Mereka mengatakan bahwa lahan di sana yang sebelumnya cocok untuk ditanami kopi dan cokelat, mungkin tahun-tahun mendatang tidak akan cocok lagi mengingat perubahan iklim yang terjadi.

Begitu pula dengan tanaman yang selama ini dalam sistem wanatani menjadi pelindung kopi dan cokelat, yang keberadaannya seringkali tidak diperhatikan.

Dengan perubahan iklim yang terjadi, akan ada tanaman yang perlu diganti sebagai bentuk adaptasi sistem ini terhadap perubahan iklim yang terjadi.

Sistem wanatani sendiri diterapkan pada perkebunan kopi dengan cara menempatkan tanaman kopi atau cokelat di bawah naungan tanaman yang berukuran besar dengan harapan agar tanaman kopi terhindar dari paparan panas matahari yang berlebih dan juga agar konservasi tanah dapat terjadi.

Sistem ini memiliki keuntungan, yaitu menyediakan habitat bagi serangga dan burung yang dapat menjadi pembasmi hama alami.

Ketika para peneliti meneliti sepuluh jenis pohon yang paling banyak ada di perkebunan kopi dan cokelat dengan sistem wanatani, mereka mengidentifikasi bahwa jenis itulah yang paling rentan terhadap perubahan iklim.

Dilansir dari tempo.co, persebaran jenis tanaman yang rentan tersebut hampir 80 persen spesies berada di area kopi dan 62 persen di area cokelat.

Jenis tanaman itu termasuk spesies pohon penghasil buah seperti mangga, jambu biji dan alpukat atau kayu seperti aras.

Jumlah itu belum termasuk sekitar 56 persen pohon pengikat nitrogen seperti poro (Erythrina poeppigiana) dan guama (Inga edulis), yang memiliki kemampuan untuk meningkatkan produktivitas dan konservasi tanah.

Mereka perlu untuk mempersiapkan diri dengan mencari alternatif tanaman yang bisa dijadikan pelindung manakala nantinya satu persatu tanaman pelindung mereka mati.