Petruk, Kritikus Tajam Tak Melukai

PETRUK dalam pewayangan merupakan salah satu punakawan yang unik dengan bentuk hidung yang panjang. Kalau bicara tentang Petruk, maka kita selalu mengaitkannya dengan Gareng, Bagong, dan Ki Semar.

Petruk sering bercanda dengan Gareng dan Bagong. Pesan yang disampaikan bisa normatif, bisa pula sentilan-sentilan yang membuat orang tersentuh. Misalnya ketika Petruk bercanda dengan Gareng tentang masalah pil keluarga berencana sebagai berikut:

Gareng : Truk, Truk anakmu berapa? Kelihatannya ramai sekali.

Petruk :  Tujuh

Gareng: Apa istrimu tidak pasang “material”

Penonton tertawa girang mendengar kata-kata “material” itu. Rupanya penonton mengerti betul makna dari kata material. Khalayak mengartikan kata material itu sebagai alat kontrasepsi seperti pil KB, spiral, dan lain-lain.

Petruk : udah. Istriku makan pil KB.

Gareng: Aneh ya Truk sudah makan pil KB kok masih hamil terus. Coba kamu cek di mana dia simpan pil KB-nya?

Petruk: Saya juga heran, saya lihat dia minum pilnya tiap hari. Nanti saya cek lagi di mana dia simpan pilnya.

Ternyata setelah dicek, rupanya pil-pil KB istri Petruk jatuh ke bawah. Padahal di bawah rumah ada kandang ayam. Rupanya yang makan pil KB itu ayam bukan istri Petruk. Pantas ayamnya  tidak bertelur tetapi istri Petruk yang hamil terus.

Cerita tersebut membuat penonton ketawa terpingkal-pingkal.

Inilah salah satu pesan KB yang disampaikan melalui adegan punakawan Petruk-Gareng.

Ada lakon-lakon terkenal yaitu Petruk Dadi Ratu dan Petruk Gugat. Dalam lakon Petruk Dadi Ratu mengisahkan seorang pemimpin yang tidak pantas jadi pemimpin. Khalayak tahu kalau Petruk adalah seorang abdi yang melayani raja Arjuno. Jadi tidak munkin seorang abdi menjadi seorang raja. Bisa kualat nantinya. Namun jangan lupa bahwa Petruk adalah titisan dewata yang sakti mandraguna.

Dalam keseharian Petruk juga memberi nasihat kepada Raja Arjuna seperti ayahnya dan saudara-saudaranya yang lain. Nasihat Petruk disampaikan dengan bahasa simbol yaitu tersenyum dan tertawa geli. Kadang-kadang Petruk memberikan protes kepada sang raja kalau tingkah laku sang raja tidak bisa diterima secara akal sehat. Lebih dari itu, Petruk tidak punya wewenang walaupun kesaktiannya lebih unggul dibandingkan rajanya.

Pribadi  Petruk perlu diteladani bagi generasi muda sekarang. Dia dalam kehidupan sehari-hari sederhana. Di samping itu Petruk selalu hormat pada orang tuanya Semar. Apa yang dikatakan Semar oleh  Petruk selalu diperhatikan dan dilaksanakan dengan cepat. Hal seperti ini perlu diteladani oleh remaja-remaja kita yang suka tidak hormat pada orang tua alias melawan. Kalau sang ibu memberi tugas, selalu anak muda itu berkata ”entar, tar….” Persis bunyi mercon.

Petruk juga konsekuen dengan tanggung jawabnya sebagai abdi masyarakat. Dia tidak merasa rendah diri walaupun hanya sebagai abdi masyarakat. Dia tetap dihormati karena Petruk sendiri ikhlas menjalankan tugas sebagai abdi. Menurutnya, pengabdiannya tidak harus sebagai pemimpin atau penguasa yang dapat semena-mena kepada rakyat.

Dalam konteks masa kini, cerita Petruk semestinya masih bisa dijumpai dalam konsep kenegaraan. Saat kontestasi Pilpres 2019, bangsa ini memerlukan sosok Petruk yang pandai melemparkan kritik kepada para calon pemimpin. Petruk sadar kritik yang disampaikannya sebagai penghimpunan aspirasi yang berkembang di tengah masyarakat. Prinsip kritik Petruk jelas bukan untuk menjatuhkan melainkan membangun semangat perbaikan.

Tapi apa lacur dengan kondisi sekarang, kritik yang keluar justru saling mendowngrade para kandidat. Orang-orang yang berada pada lingkaran terdekat TKN Jokowi-Ma’ruf maupun BPN Prabowo-Sandi saling destruktif. Mereka melontarkan kritik secara berapi-api dengan maksud dan tujuan saling mendiskreditkan lawannya.

Maka, hal lumrah bagi kedua pendukung dengan istilah hoaks atau berita bohong. Pada debat kedua calpres pada 17 Maret silam justru memunculkan keriuhan pendapat di media mainstream.  Pendukung Jokowi-Ma’ruf mengkritik Prabowo dengan jualan ”kepemilikan lahan” seluas 220 ribu hektare di Kaltim dan 120 hektare di Aceh. Asumsinya, bagaimana mungkin Prabowo mengusung konsep kerakyatan manakala dirinya memiliki lahan besar di Indonesia.

Pun pendukung Prabowo-Sandi turut mengkritik keras Jokowi disebabkan data yang diungkapkannya dituding tidak akurat, terutama data pembangunan infrastruktur tanah air. Pernyataan Jokowi bahwa tidak ada lagi konflik lahan maupun kebakaran lahan gambut  di Sumatera menuai kritik keras barisan pendukung capres 02. Belum lagi pernyataan Jokowi tentang data impor pertanian maupun pembangunan jalan hingga 190.000 km.

Jauh sebelum debat capres, kontestasi Pilpres 2019 diwarnai kritik tajam bagi masing-masing kubu. Masyarakat terbiasa menyaksikan perdebatan sengit yang melibatkan kedua pihak. Tak ada kegiatan dan isu yang tidak digoreng dan diseret ke ranah politik. Gunting rambut di bawah pohon, mencium janggut orang, apalagi bertemu dengan orang banyak selalu berakhir dengan kritik. Dan, semuanya dianalisis dari sisi lemahnya.

Pilpres masih sebulan lebih, tetapi eskalasi kegiatan politik di tanah air terus meningkat. Jurus-jurus baru bahkan disiapkan untuk menaklukkan lawan. Dua debat masih tersisa sehingga amunisi kedua kontestan tetap terjaga. Kritik destruktif sulit dihindari hingga usainya perhelatan demoksrasi tanah air. Kritik bernada kelam tersebut bakal meluncur dan menghiasi ruang-ruang publik.

Permasalahannya, adakah kritik tersebut disampaikan sebagaimana Petruk melakukannya. Putra Semar ini mengkritik tajam tak melukai. Mengkritik dengan santun tanpa mengabaikan esensi pesan. Bahkan kritiknya berbungkus humor ringan.  Masih adakah pemimpin yang berhati mulia seperti Petruk? Tanyakan pada diri Anda sendiri.

Penulis adalah Dosen Universitas Esa Unggul Jakarta

Berita Terkait
Komentar
Terkini