PMB UH Latenritatta gelar diskusi falsafah hidup bugis

PMB UH Latenritatta gelar diskusi 'falsafah hidup bugis'

Terkini.Id, Makassar -Perhimpunan Mahasiswa Bone Latenritatta sektor Unhas (PMB UH Latenritatta) menggelar diskusi pelataran kampus Universitas Hasanuddin, Jalan Perintis Kemerdekaan. Selasa, 14 November 2017.

Kegiatan ini meghadirkan budayawan muda, Abdi Mahesa sebagai pembicara tunggal, dengan mengangkat tema ‘Falsafah Bugis’. Turut hadir beberapa anggota dan pengurus PMB UH Latenritta.

Tema Falsafah Bugis diangkat dengan tujuan agar mahasiswa saat ini, khususnya mahasiswa bugis memahami bagaimana pola masyarakat bugis, mengingat di era modernisasi ini banyak nilai-nilai masyarakat yang semakin bergeser oleh pola kehidupan diluar bugis (asing).

Abdi Mahesa dalam pemaparan diskusinya mengungkapkan, nilai-nilai normatif suku bugis pada dasarnya telah dikenal sejak zaman dulu, banyak kemudian orang orang bijak yang muncul dan mengajarkan manusia tentang cara hidup, tak terkecuali dengan orang bugis itu sendiri.

“Melalui catatan sejarah kemudian tercermin bahwa perikehidupan manusia bugis sejak dahulu merupakan bagian yang integral dan tak dapat dipisahkan secara dikotomik, dalam hal ini diartikan sebagai suatu konsep teologis yang menyatakan bahwa diri manusia dapat dibedakan menjadi dua aspek, yakni jiwa yang bersifat rohani dan tubuh yang bersifat jasmani dari pengalaman aplikatif ‘pengadereng’,” Lanjutnya.

Ia pun menambahkan, makna pengadereng dalam konteks ini adalah keseluruhan norma yang meliputi bagaimana seseorang harus bertingkah laku terhadap sesama manusia dan terhadap pranata sosialnya yang membentuk pola tingkah laku serta pandangan hidup.

Sedemikian kental dan melekatnya nilai pengadereng ini dikalangan orang bugis, sehingga akan dianggap berdosa kemudian jika tidak melaksanakannya. Dan dalam konteks ini, inkusif didalam adat istiadat yang berfungsi sebagai pandangan hidup dalam membentuk pola pikir dan mengatur pola tingkah laku manusia dalam kehidupan bermasyarakat.

Dari konsep itulah kemudian lahir empat asas sebagai 4 pilar dalam implementatif pengadereng sebagai falsafah hidup orang bugis. Yang pertama adalah asas ‘Mappasilasae’, yaitu memanifestasikan adat bagi keserasian hidup dalam bersikap dan bertingkah laku, bagaimana memperlakukan dirinya dalam konteks pengadereng.

Kedua, asas ‘Mappasisaue’ yaitu manifestasi adat untuk menimpahkan deraan pada setiap pelanggaran adat yang dinyatakan dalam bicara. Ketiga, asas ‘Mappasenrupae’ yaitu mengamalkan adat bagi kontinuitas pola-pola terdahulu.

Keempat, asas ‘Mappalaiseng’ yaitu manifestasi adat dalam memilih dengan jelas batas hubungan antara manusia dengan institusi sosial agar terhindar dari masalah dan instabilitas lainnya.

Lebih lanjut Ia menjelaskan, eksisnya nilai sosio kultural yang terkandung dalam konsep pengadereng ini sehingga tetap bertahan dan menjadi pandangan hidup manusia bugis, disebabkan karna dua hal, yakni pertama, bahwa manusia bugis telah menerima adat secara total dalam kehidupan sosial, budaya maupun yang lainnya, konsisten dan kepercayaan bahwa dengan berpegang teguh dan berpedoman pada adat, kententraman dan kebahagiaan dapat terjamin.

“Kedua adalah implementasi dengan berpedoman pada adat itulah yang kemudian menjadi pola tingkah laku dan pandangan hidup masyarakat,” pungkasnya.

Falsafah hidup bugis secara fundamental dipahami sebagai nilai-nilai normatif sosio kultural yang dijadikan masyarakat bugis sebagai patron dalam melakukan aktivitas keseharian.

Demikian penting dan berharganya nilai normatif ini, sehingga tak jarang nilainya selalu melekat kental pada setiap pendukungnya, meski arus modernitas senantiasa selalu menerpa. Bahkan dalam impelementasinya pun menjadi roh atau spirit untuk menetukan pola pikir dan menstimulasi tindakan manusia, termasuk dalam memberi motivasi usaha. (*)

Citizen Reporter : Sam, Anggota PMB UH Latenritatta