Populasi Ikan Capungan Banggai Hampir Punah, BPSPL Makassar Lihat Habitatnya di Sulteng

Foto: Shanon, 2018

Terkini.id, Makassar – Populasi beberapa jenis ikan endemik Indonesia semakin berkurang, salah satunya Banggai Cardinal Fish (BCF) atau hewan bernama lokal ikan capungan Banggai.

Ikan yang pertama kali ditemukan tahun 1920 di Pulau Banggai ini masuk dalam spesies terancam punah dalam survei Red List IUCN (International Union for the Conservation of Nature).

Menurut lembaga pengkategorian status konservasi tersebut, setidaknya ada dua faktor penyebab menurunnya populasi BCF. Di antaranya, pemanfaatan sebagai ikan hias dan kerusakan habitat maupun mikrohabitat. Adapun mikrohabitat berupa bulu babi, dan anemon.

Fakta itu membuat kemudian Indonesia berkomitmen menjaga kelestarian ikan bernama latin Pterapogon kauderni ini melalui penyusunan kebijakan perlindungan.
Selain itu, ada pula program Rencana Aksi Nasional Konservasi Ikan Capungan Banggai (RAN-KICB) periode pertama tahun 2017-2021.

Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Makassar sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan bertugas untuk menjalankan salah satu program konservasi ikan Capungan Banggai / Banggai Cardinal Fish / BCF, melalui kegiatan monitoring populasinya di Banggai Kepulauan.

Kepala BPSPL Makassar, Ir. R. Andry Indryasworo Sukmoputro MM. mengatakan, untuk merealisasikan program itu, tim BPSPL Makassar melalui Satkernya yang di Palu akan melakukan monitoring di perairan Bokan Kepulauan, Kabupaten Banggai Laut Provinsi Sulawesi Tengah.

Dalam pemantauan itu, ada dua kegiatan utama yaitu pemantauan populasi ikan BCF di delapan lokasi dan ekspose hasil monitoring, sekaligus melakukan sosialisasi pentingnya menjaga habitat dari ikan BCF. Pemantauan populasi ikan BCF akan berlangung selama sekitar sepuluh hari (14-24/10/2019).

Adapun, lokasi pemantauan meliputi Mandel, Toada, Melilis, Mbuang-Mbuang, Kombongan, Minangga, Tj Nggasuang, dan Toropot.

Dalam melaksanakan program ini, BPSPL Makassar bekerja sama dengan Universitas Hasanuddin, dan Universitas Tadulako serta instansi terkait lainnya.

Lebih lanjut Andry menjelaskan, tim akan melakukan monitoring menggunakan metode belt transect. Di mana, transek garis akan dibentangkan sejauh 20 meter dari garis pantai.

Lalu, surveyor yang melakukan snorkeling akan mengamati seraya menghitung BCF (visual census) dan mikrohabitatnya di sisi kiri dan kanan transek garis dengan lebar masing-masing 2,5 meter.

Setelah monitoring, tim akan melaporkan hasil pengamatan di lapangan melalui sesi ekspose, Senin (21/10/2019). Selain pelaporan hasil monitoring, dalam forum itu juga akan mendiskusikan cara pengelolaan lestari BCF, dan rencana lanjutan konservasi jenis pada tahun 2019-2020.

Andry pun berharap kegiatan ini dapat berjalan lancar, utamanya cuaca yang mendukung. Sehingga, menghasilkan data populasi BCF yang valid.

“Setelah monitoring BCF, diharapkan ada perubahan perilaku masyarakat. Salah satunya perilaku untuk tidak mengkonsumsi mikrohabitat berupa bulu babi dan anemon, shg dpt mengurangi tekanan pada pemanfaatan BCF maupun habitatnya,” harap Andry.

Sumber: Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Makassar

Berita Terkait