Praktik Neolib dan Aroma Komunis yang Menyatu di Warung Daeng Leo

Daeng Leo (dok Syamsurijal Ad'han)

INGIN melihat leburnya kelas sosial di Makassar? Bertandanglah ke warung ini.

Mau melihat secara nyata praktik neoliberalisme? Berkunjunglah ke sini.

Aneh kan? Warung ini ada bau-bau komunisnya, karena semua kelas sosial menjadi sama rata sama rasa.

Tetapi sekaligus juga praktik neoliberal, karena harga ikan bakarnya begitu tidak menentu. Sangat tergantung harga pasar, bahkan tergantung suasana hati sang pemilik warung.

Itulah warung Daeng Leo. Teronggok begitu saja di sisi jalan Pettarani, Makassar.

Saban hari, pusparupa orang datang ke sini. Dari kaum borju sampai proletar, dari pimpinan perusahan hingga satpam, dari pengendara mobil mewah sampai sopir truk.

Ada kuli, ada pula orang sugi’ (kaya). Termasuk pegawai kantoran, aktivis, mahasiswa dan juga saya.

Cara makan pun beragam. Ada yang duduk rapi dengan menggunakan sendok, pelan anggun, bak puteri raja. Merekalah golongan jaim dan merasa syantiiip

Ada yang duduk dengan kaki diangkat. Sebagian yang lain menyuap dengan tangan. cepat dan berbobot. Itulah golongan ‘maraja timpu na marepe’.

Mereka lebur dalam satu komune. Sama rata, karena sang pemilik warung memperlakukan sama, yaitu perlakuan yang sangat biasa. Tidak ada penghormatan palsu.

Bahkan sang pemilik warung, lelaki tua yang bernama Daeng Leo, tak segan menegur dengan polos jika sikap pengunjung warung tidak berkenan dengan hatinya.

Begitulah yang menimpa sahaya. Suatu saat, saya sedang makan, seseorang tetiba menelepon…. lalu saya pun sibuk berbicara.
Tak dinyana tak disangka, saya tersedak. Spontan Daeng Leo menegur: “makanya kalau makan pak jangan bicara dulu!” ucapnya polos.

Sama rasa, karena pasti semua pengunjung akan berselimut asap dan setelah keluar dari warung itu akan berbau asap.

Tapi saat kelas sosial itu lebur dan sedikit lagi warung itu menuju masyarakat sosialis komunis, Daeng Leo justru menerapkan harga ikan bakar yang tak pasti.

Kalau Anda protes harga pertalite atau pertamax yang tak menentu karena ikut harga pasar, maka di warung Daeng Leo harga yang tidak pasti itu betul betul mencekam.

Jam 12 ke tempat itu, harga bisa menjadi Rp 20 ribu, tetapi sejam kemudian bisa berubah jadi Rp 25 ribu. Atau si A bisa dapat harga 25 rb, tapi si B harga 20 rb. Padahal si A dan si B ini satu geng…hihi… mungkinkah Daeng Leo memberlakukan harga sesuai dengan naik turunnya harga ikan di pasar, harga cabe, dan harga terasi ?

Tidak ada yang tau persis. Boleh jadi juga disesuaikan dengan suasana hatinya, mana tahu? Tapi itu kan cermin harga yang ikut pasar ya? Ciri ciri neo lib sodara-sodara. 😁😁

Suasana yang demikian itulah yang justru menjadikan warung Daeng Leo lekat di hati.

Penggemarnya tak bisa melupakan kontradiktif yang mencengangkan ini. Tetapi bukankah itulah cerminan hidup? Hitam dan putih, benar dan salah, yin dan yan… selalu menyertai kehidupan ini bukan?

Berita Terkait
Komentar
Terkini