Produksi Garam Jeneponto Semakin Merosot

garam, garam di Jeneponto, garam
Garam di Jeneponto.(daenggassing.com)

GARAM merupakan bumbu masak yang paling sering digunakan oleh ibu rumah tangga. Tidak lengkap rasanya jika suatu masakan tidak ditambahkan garam. Berbicara mengenai garam, tentunya sangat erat kaitannya dengan Kabupaten Jeneponto.

Kabupaten Jeneponto merupakan salah satu daerah penghasil garam terbesar di Indonesia. menurut data Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) tahun 2015, Jeneponto menduduki peringkat 14 sebagai  daerah produsen garam terbesar di Indonesia. Pembuatan garam di Kabupaten Jeneponto terpusat pada empat kecamatan yaitu, Kecamatan Bangkala, Bangkala Barat, Arungkeke dan Tamalatea.

Namun sangat disayangkan karena produksi garam Kabupaten Jeneponto kian merosot tiap tahunnya. Menurut data BPS, produksi garam Jeneponto pada tahun 2014 hingga 2018 berturut turut adalah 72.864,42 Ton, 51.237,9 Ton, 21.316 Ton, 19.731,82 Ton, 38.769,55 Ton. Terlihat bahwa pada tahun 2018 terjadi penuruan produksi yang sangat tajam yaitu sebesar 46,8% jika dibandingkan dengan tahun 2014

Penurunan produksi garam ini diindikasikan karena penurunan harga jual garam. Terbukti, akhir-akhir ini, para petani tambak garam mengeluhkan harga garam yang turun drastis. Beberapa petani mengaku bahwa harga garam saat ini hanya dihargai sebesar Rp25.000,00 hingga Rp50.000,00 per karung isi 80 liter, yang biasanya bisa mencapai Rp80.000,00 hingga Rp150.000,00 per karung. Rendahnya harga garam, tentu akan berpengaruh pada kesejahteraan hidup para petani garam

Merosotnya harga garam tersebut salah satunya disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang masih merealisasikan impor garam industri. Pada semester II tahun 2019 ini, pemerintah telah memastikan adanya Persetujuan Impor (PI) untuk garam industri. Rekomendasi impor yang disetujui mencapai 2,7 juta ton hingga akhir 2019.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tentang volume impor garam industri menunjukkan bahwa pada tahun 2018 terjadi kenaikan impor garam industri tertinggi yaitu sebesar 2,8 juta ton, dengan kenaikan sebesar 11,2% dari tahun 2017 yaitu sebesar 2,6 juta ton. Jika kebijakan impor tersebut terus berlanjut, maka keberadaan garam lokal akan diabaikan dan mempengaruhi stabilitas harga garam lokal.

Selain itu, merosotnya harga garam di Jeneponto juga disebabkan karena proses produksi garam masih menggunakan cara tradisional yang hanya mengandalkan penguapan air laut dengan bantuan cahaya matahari tanpa didukung oleh penggunaan teknologi yang mutakhir. Proses produksi yang masih tradisional tersebut menyebabkan rendahnya kualitas garam sehingga berakibat pula pada rendahnya harga garam.

Dengan kualitas yang rendah, garam Jeneponto belum mampu mencapai faktor kualitas garam yang telah ditentukan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dan industri di Indonesia. Oleh karena itu, produksi garam di Indonesia, khususnya di Jeneponto masih terabaikan dan dikalahkan oleh kualitas garam impor.

Melihat masalah merosotnya harga garam di Jeneponto yang sangat berdampak pada kesejahteraan hidup para petani garam, maka pemerintah daerah seharusnya segera mengatasi masalah ini dengan cara menstabilkalkan harga garam. Selain itu pemerintah daerah juga perlu memberi pehatian khusus pada peningkatan kualitas garam yang dihasilkan masyarakat Jeneponto.

Tahun lalu, pada Oktober 2018, Deputi Bidang Teknologi Informasi, Energi dan Material Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Eniya Listiani Dewi mengunjungi Kantor Gubernur Sulawesi Selatan yang disambut oleh Gubernur Sulawesi Selatan, Nurdin Abdullah bersama Wakil Gubernur, Andi Sudirman Sulaiman.

Pada kunjungan tersebut, BPPT menyampaikan bahwa lembaganya tertarik pada pengembangan garam yang ada di wilayah Jeneponto. Eniya menargetkan Jeneponto akan menjadi pusat pengelolaan garam nasional karena memiliki potensi garam terbesar di wilayah timur Indonesia.

Ia memaparkan bahwa untuk mengembangkan produksi garam yang ada di Jeneponto menuju industri garam nasional, maka harus dilakukan revolusi lahan dengan mengintegrasikan lahan garam dan mengalirkan dengan metode gravitasi. Kemudian, masuk di kolam reservoir yang bertingkat, air terkumpul, baru setelah itu masuk ke lahan kristalisasi milik petani. Metode tersebut merupakan terobosan baru yang diyakini dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi garam. Petani garam tidak lagi mengandalkan faktor alam yang menganggu masa panen dan menurunkan kualitas garam.

Rencana pemerintah tersebut merupakan salah satu upaya agar produksi garam rakyat di Jeneponto dilirik dan dihargai sesuai dengan harga pasar nasional. Diharapkan, pemerintah segera merealisasikan rencana tersebut agar harga garam di Jeneponto bisa stabil dan mengurangi volume impor garam dari luar negeri sehingga produksi garam Jeneponto bisa meningkat baik dari segi kuantitas maupun kualitas.

Penulis: Ian Tryaldi Halim (Mahasiswa POLSTAT STIS)

Berita Terkait