Psikolog Ungkap Ada Kelainan Pada Tiga Anak Korban Kekerasan Seksual di Lutim

Terkini.id, Makassar – Psikolog Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Makassar, Hairiyah ungkap hasil konsultasi psikologis tiga anak yang diduga jadi korban kekerasan seksual oleh ayah kandungnya di Kabupaten Luwu Timur (Lutim), Sulawesi Selatan (Sulsel).

Hairiyah atau yang akrab disapa Bunda Yaya menceritakan kala ia melakukan pengamatan pada korban awal Desember 2019 lalu. Saat itu korban datang di Kantor P2TP2A Makassar didampingi ibu dan tantenya.

“Waktu klien itu (tiga anak) datang ke sini, saya masih ada di Jakarta, jadi saya tidak tahu persoalannya, saya ditelepon ibu Kadis suruh pulang, keadaan mendesak katanya. Hari Jumat siang saya pulang, Desember 2019. Kurang lebih jam sembilan malam, saya datang ke sini, dan saya melihat ada dua ibu-ibu di luar bersama anak-anak,” sebut Bunda Yaya saat ditemui di Kantor P2TP2A Makassar, Sabtu 16 Oktober 2021.

Baca Juga: Putri Candrawathi, Istri Irjen Ferdy Sambo Resmi Ditetapkan Sebagai Tersangka...

Mendapati tiga anak ini sedang bermain, Bunda Yaya mengaku mencoba mengakrabkan diri. Dalam pengamatannya disebut semuanya biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa. Hanya saja emosional anak-anak ini sedikit berbeda.

“Mereka berkelahi, saling pukul-pukulan, pokoknya anak-anak, tapi menurut saya berkelahinya tidak wajar karena kayak macam keras sekali (saat membalas pukulan). Tapi saat itu apakah saya yang kecapean atau anak-anak ini yang sudah mengantuk, karena sudah larut malam,” ucapnya.

Baca Juga: Deretan Barang Bukti yang Buat Putri Candrawathi Istri Ferdy Sambo...

Keesokan harinya, Bunda Yaya kembali. Saat sedang bermain dengan tiga anak ini, “saya kasih mainan tempel-tempel warna-warni (sticky note) tapi ibunya histeris, disampaikan ke saya jangan dikasih (mainan itu)”.

Bingung, Bunda Yaya sebut mempertanyakan hal itu, mengapa sang ibu dari ketiga anak melarang pemberian mainan tersebut.

Meski sebelumnya ia mengaku telah menerima informasi awal dari ibu Kadis P2TP2A Makassar Tenri A Palallo bahwa terjadi pelecehan. Namun terkait siapa yang jadi korban dirinya masih enggan mencari tahu lebih jauh.

Baca Juga: Deretan Barang Bukti yang Buat Putri Candrawathi Istri Ferdy Sambo...

“Ibunya histeris, jangan, jangan dikasih, saya bilang kenapa, kok dilarang. Terus terang saya hanya tahu bahwa terjadi pelecehan. Saya paling tidak suka melakukan observasi atau konseling psikologi kalau tahu duluan ceritanya, saya menganggap itu nanti munculnya tidak objektif, jadi saya tidak bertanya. Setelah itu saya bermain, terus ibunya ngomong, gara-gara kertas itu anak saya dibujuk sehingga terjadi begini (pelecehan), langsung saya bilang stop saya tidak mau dengar,” cerita Bunda Yaya.

Setelah pendekatan beberapa hari dengan ketiga anak ini melalui berbagai macam cara, Bunda Yaya mengaku sudah akrab dan memulai konseling.

Ketiga anak diajak oleh Bunda Yaya masuk ke dalam ruangan konseling di Kantor P2TP2A Makassar.

“Ibunya mau masuk juga tapi saya larang. Kemudian tantenya juga saya larang juga. Karena yang betul-betul saya ingin tahu kondisi tiga anak ini. Di dalam ruangan saya sediakan tiga kursi untuk mereka,” terangnya.

Dalam ruangan itu, Bunda Yaya bilang anak-anak yang masih polos ini memberi isyarat adanya kekerasan seksual. Utamanya si anak bungsu.

“Saya suruh duduk, tapi dia tidak mau dia hanya jongkok di atas kursi, saya senyum saya tanya lagi duduk yang cantik sayang, tapi dia jawab atit (sakit) bunda. Terus anak yang paling besar itu saat masuk ruangan langsung ke tempat tidur dan peluk guling,” kata Bunda Yaya.

Sekitar lima jam konseling itu berlangsung. Dari pengakuan polos si bungsu, lanjut Bunda Yaya, anak kedua turut memberi sahutan.

“Saat mereka bercerita itu saling bersahut-sahutan mau mendahului. Ada yang menyebut waktu di kamar mandi, waktu di rumahnya ayah, waktu di kantor, tapi ngomongnya tidak sejelas, nanti di kakaknya yang paling jelas,” sebutnya.

Bahkan dalam pemeriksaan itu, anak-anak ini sempat menyebut dua nama orang dekat ayahnya. Si bungsu bahkan sempat mempraktikkan perlakuan yang pernah mereka alami.

“Itu hasilnya. Itu yang saya dapatkan. Memang psikomotoriknya bagus, memang nampak seperti tidak terjadi apa-apa,” tuturnya.

Lebih jauh, psikolog bergelar M, PSi, M, Si, itu menyampaikan, hal lain yang didapati adalah perilaku polos ketiga anak itu tidak seperti seseorang yang telah diajari untuk berbicara perihal apa yang mereka alami.

“Karena kalau diajari pasti kayak ada yang lupa. Misal, apalagi yang dibilang mamak? kan begitu kalau diajari. Dia akan keceplosan, tapi ini tidak. Memang betul-betul murni pengakuan yang dikeluarkan,” terangnya.

Menurut Bunda Yaya, ketiga anak ini dengan jujur mau bicara tentang peristiwa yang dialaminya.

Bunda Yaya menegaskan, korban kekerasan seksual atau pelecehan seksual belum tentu mengakibatkan trauma. Apalagi jika itu dilakukan oleh orang-orang terdekat korban.

“Kekerasan seksual atau pelecehan seksual tidak mesti mengalami trauma. Tetapi kalau pemerkosaan Itu sudah pasti mengalami trauma, kenapa? karena pelecehan seksual itu kebanyakan atau sering terjadi kepada orang-orang terdekatnya, orang-orang yang sudah sering dikenalnya, Paman, omnya, kakeknya, guru ngaji, gurunya sendiri, itu yang perlu dipahami. Pelecehan seksual itu tidak selamanya mengalami trauma,” tegasnya.

Olehnya itu, ia meminta masalah kekerasan seksual yang dialami oleh korban harus segera ditangani dengan baik agar tidak menjadi penyintas di kemudian hari.

“Contohnya kasus di Jerman, dia (korban) dilecehkan omnya. Itu tidak terjadi apa-apa, dia tidak trauma, tapi setelah 10 tahun atau 15 tahun dia menjadi pelaku berikutnya atau penyintas,” kuncinya.

Bagikan