Ramadan, RI Kebanjiran Baju Koko Impor dari Tiongkok

baju koko
Baju Koko. (foto/bukalapak.com)

Terkini.id, Jakarta – Kementerian Perindustrian mencatat, pakaian impor dari Tiongkok banyak beredar di Indonesia khususnya saat Ramadhan.

Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) menyampaikan, jenis pakaian asal Tiongkok yang banyak beredar itu mulai dari pakaian yang biasa digunakan sehari-hari hingga baju koko.

Ketua API Ade Sudrajat mengatakan, baju koko asal China beredar di Indonesia karena adanya permintaan dari para importir lokal.

“Paling standar ya baju harian, ada juga sih yang importir baju koko, baju muslim, itu order dari importir yang memang di lokal sini yang order ke sana. Misalnya (contoh) saya order satu juta potong baju koko ke sana ya pasti datang lah satu juta,” katanya seperti dilansir dari detik, Selasa 14 Mei 2019.

Akan tetapi, dia belum memiliki informasi bagaimana peredaran pakaian muslim asal Tiongkok saat Ramadhan.
Dia belum bisa menyimpulkan apakah jumlahnya saat ini lebih banyak dibandingkan hari biasa.

“Nah itu yang saya belum update datanya berapa besar impornya di bulan Ramadhan ini karena bukan hanya Ramadhan saja kan setiap bulan juga impor,” ujarnya.

Akan tetapi, dia memberi gambaran bahwa pakaian impor asal China memang banyak karena mereka produsen terbesar di dunia.

“Iya karena kan mereka produsen terbesar di dunia kan. Mereka kan porsinya di dunia ini hampir 38% dari mereka. Kita kan cuma 1,8%,” tambahnya.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih mengungkapkan saat ini pakaian impor dari China banyak beredar di Indonesia khususnya saat Ramadhan. Banjirnya pakaian asal China berdampak negatif bagi industri dalam negeri.

“Agak sedikit (lebih banyak pakaian impor dari China saat Ramadhan) tapi in total kalau data impor bisa lihat di BPS. Nah ini mempengaruhi, pasti mempengaruhi industri dalam negeri,” kata dia.

Berita Terkait
Komentar
Terkini
News

Begini Sosok JK di Mata Dokter Koboi

Terkini.id,Makassar - Inilah pandangan pemuda milenials Sulawesi Selatan yang juga berprofesi sebagai seorang dokter dan kerap disapa Dokter Koboi terhadap Wakil Presiden Republik Indonesia