Redupnya Aksara Dalam Budaya Bugis – Makassar

Aksara Lontara. Source : Wikipedia

Terkini.id, – Mesopotamia, Mesir, Indus, dan Cina merupakan empat tempat peradaban kuno yang gemilang dalam sejarah manusia. Keempatnya memiliki sistem tulisan tersendiri yang merupakan perintis awal yang membawa manusia ke titik peradaban penggunaan aksara.

Aksara berfungsi dalam menuliskan segala hasil kegiatan masyarakat sehingga tersistemisasi dalam struktur masyarakat. Dari sinilah budaya dilahirkan. Oleh sebab itu, penggunaan aksara hanya ditemukan di bangsa yang berhasil menumbuhkan kebudayaannya secara gemilang.

Diperkirakan bahasa di dunia ini sekitar 6.000 buah. Sedangkan, aksara yang saat ini dikenal keberadaannya hanya 158 jumlah jenis saja (data dari ISO 15924). Hal ini berarti sebagian besar bahasa tidak pernah ditulis dengan aksara.

Beberapa tahun terakhir, kaum akademisi atau pemerhati budaya gencar melakukan upaya pelestarian bahasa minoritas, yakni bahasa yang belum pernah ditulis dengan aksara atau bahasa yang aksaranya tidak lagi aktif digunakan. Dalam kasus yang kedua, kehilangan kearifan nenek moyang yang lama tersimpan dalam penulisan aksara adalah dampak terburuknya.

Indonesia sejak zaman silam memiliki sejumlah aksara lokal di seluruh penjuru Nusantara. Dalam konteks kedaerahan, Sulawesi Selatan memiliki setidaknya empat jenis aksara; Jangang-Jangang, Bilang-Bilang, Lontarak, dan Sérang.

Tak dapat dinafikan Lontarak menjadi aksara yang paling luas penggunaannya di tanah Bugis-Makassar. Selain diajarkan di sekolah, papan nama jalan di seluruh kota Makassar pun ditulis dalam Lontarak.

Dominasi Lontarak ini tidak serta merta mengusungnya sebagai satu-satunya sistem tulisan khas Sulawesi Selatan dan mengabaikan keberadaan aksara lokal yang lain.

Ironisnya, pengamatan dan minat penelitian terhadap ketiga aksara lain masih sangat sepi. Untuk aksara Sérang misalnya, hampir tidak pernah diperhatikan baik dalam kaum akademisi maupun rakyat umum. Padahal keberadaan aksara ini adalah sebagai LONTARA sistem tulisan utama pada zaman masuknya Islam di Sulawesi Selatan.

Ini memperburuk kenyataan bahwa etnis Bugis-Makassar menerima Islam secara aktif hingga kini. Untunglah aksara ini untuk pertama kalinya diperkenalkan oleh seorang linguis Dr. Cho, Tae-Young.

Dalam bukunya, ‘Aksara Sérang dan Perkembangan Tamadun Islam di Sulawesi Selatan’, segala hal tentang aksara Sérang dijabarkan dengan terang. Aksara Sérang lebih cenderung mencerminkan tradisi Islam Bugis-Makassar daripada fungsinya sistem tulisan.

Oleh sebab itu, tulisan ini lebih digunakan dalam lingkungan budaya Islam daripada untuk menulis kegiatan keseharian masyarakat. Sebanyak 780 buah naskah yang dituliskan dengan aksara Sérang di ANRI memuat cerita tentang agama Islam.

Di samping itu, aksara Jangang-Jangang yang pernah digunakan untuk mencatat surat Perjanjian Bongaya (1667) antara Kerajaan Gowa dan Belanda pun telah lama surut dari perhatian.

Padahal, sistem tulisan inilah yang dikenal jelas penciptanya. Daeng Pamattek, seorang syabandar Kerajaan Gowa menemukan bentuk hurufnya diinspirasi oleh gambar burung.

Selanjutnya, aksara Bilang-Bilang yang dimodifikasi oleh angka Arab dan huruf Lontarak, diciptakan atas usaha Colliq Pujié, seorang pahlawan nasional di tanah Ogi agar isi surat dan pesan rahasia tidak tercium oleh pihak Belanda.

Hal ini menunjukkan besarnya sumbangsi dan kecerdikan leluhur Bugis-Makassar dalam mempertahankan budaya dari kekuasaan luar. Sisa Maha Karya leluhur yang terhimpun dalam aksara lokal ini sewajarnya mendapat perhatian yang lebih besar dan intensif dari kaum akademisi dan pemerhati.

Oleh sebab itu, patut diberikan kesempatan generasi masa kini mengenal hasil budaya leluhurnya. Akademisi, pemerintah, dan media sangat memegang peranan besar dalam pengenalan aksara lokal ini.

Ingatan manusia terbatas, tetapi dalam catatan aksara ingatan tersebut dapat terpelihara selamanya. Catatan tinta Bugis-Makassar zaman ini menjadi semakin tipis, padahal dalam tinta inilah segala kearifan leluhur Bugis-Makassar bertahan selama ratusan tahun.

Perhatian dan pelestarian Jangang-Jangang, Bilang- Bilang, Lontarak, dan Sérang adalah juga pemeliharaan budaya Bugis-Makassar yang berkepribadian.

“Tinta yang paling tipis lebih baik daripada ingatan yang paling tajam”
-Pepatah Cina-

By. NAHLA NURHIDAYAH (ASISTEN DOSEN SASTRA INGGRIS, UNHAS, dok : MT

Berita Terkait
Komentar
Terkini
Travel

Tempat Wisata Bogor yang Mengasyikkan

Terkini.id, Bogor - Bogor dan sekitarnya memang memiliki pesona tempat wisata tersendiri, apalagi jika itu berkaitan dengan kawasan puncak. Kawasan tersebut seringkali dijadikan sebagai