Respon Aksi OPM Papua Klaim Bunuh Prajurit TNI, Pimpinan MPR Desak Densus 88: Apalagi yang Ditunggu?

Terkini.id, JakartaWakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid kembali menyoroti peran Densus 88 Antiteror Polri dalam hal memberantas aksi terorisme di Papua.

Hal tersebut menyusul klaim dari Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) yang bertanggung jawab atas serangan di Yahukimo yang menyebabkan satu prajurit TNI gugur.

Hidayat menegaskan, Densus 88 Antiteror tidak perlu lagi ragu untuk bergerak ke Papua.

Baca Juga: Ungkap Biaya Proyek Kereta Cepat Membengkak, Wakil Ketua MPR: Saatnya...

Mengingat selama ini OPM telah banyak menyebabkan jatuhnya korban. Apalagi kelompoknya secara terang-terangan telah mengakui aksi teror mereka.

Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat OPM malah sudah mengumumkan aksi teror mereka,” katanya lewat akun Twitter pribadinya, mengutip Berita Politik RMOL, Senin 22 November 2021.

Baca Juga: KKB Papua Ancam Jokowi dan TNI: Mau Kirim Berapapun Personel...

Lebih lanjut, Politisi PKS ini juga menekankan bahwa Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD sudah resmi mengumumkan bahwa KKB Papua termasuk organisasi Teroris.

“Dan tupoksi Densus 88 pun juga sudah dipublikasikan. Jadi apalagi yang ditunggu oleh Densus 88?” pungkasnya. 

Sementara itu dilansir dari Pikiran Rakyat, Kepala Densus 88Irjen Marthinus Hukom pernah menjelaskan alasan mengapa Densus 88jarang terlihat memerangi teroris di Papua.

Baca Juga: KKB Papua Ancam Jokowi dan TNI: Mau Kirim Berapapun Personel...

“Papua ini kita harus bedah kasus per kasus. Supaya kita bisa lihat ini kasus terorisme apa bukan,” ujar Irjen Marthinus Hukom dalam acara talk show yang ditayangkan kanal Youtube Karni Ilyas Club pada 14 Oktober 2021.

Lebih lanjut, Irjen Marthinus mengatakan semuanya telah paham sepenuhnya bahwa pemerintah sudah menetapkan kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua sebagai organisasi teroris.

“Itu adalah suatu kebijakan dan kita harus membedah itu. Jangan sampai kasus yang cuma menembak polisi yang lagi baku tembak dengan mereka, ujug-ujug disebut terorisme. Harus kita kaji betul-betul,” katanya.

Bagikan