Kepada Sandiaga Uno, Azikin Solthan Sebut Geliat Bisnis Bantaeng Sejak Dinasti Ming

Sandiaga Uno disambut Azikin Solthan di Bantaeng, 25 Desember 2018.(ist)

Terkini.id, Bantaeng – Calon Wakil Presiden nomor urut dua, Sandiaga Salahuddin Uno melakukan kunjungan ke Kabupaten Bantaeng pada Selasa, 25 Desember.

Ribuan warga Bantaeng terlihat antusias menyambut Cawapres pasangan Sandiaga Uno ini.

Dalam kunjungan itu, Sandiaga Uno menyampaikan dukungannya kepada Azikin Solthan sebagai salah satu legislator berprestasi di DPR RI.

Dia menyebut Azikin Solthan sebagai anggota DPR RI yang potensial dan konsisten mengawal aspirasi warga Bantaeng.

“Tadi saya dengar aspirasi agar pak Azikin kembali ke parlemen. Saya juga berharap begitu. Dia (Azikin Solthan) memang berprestasi,” jelas dia.

Dia juga mendoakan agar Azikin Solthan bisa kembali mengawal aspirasi warga daerah pemilihan I Sulsel di DPR RI.

Dia menyebut, akan mendorong potensi-potensi lokal untuk mengawal aspirasi warga di DPR RI.

“Kita berharap semua potensi lokal yang berprestasi ini bisa berada di senayan. Insyaallah pak Azikin Solthan yang sekarang menjabat sebagai ketua bidang pemerintahan umum DPP Partai Gerindra bisa kembali terpilih, amin,” kata Sandiaga di hadapan ribuan warga Bantaeng di Lapangan Pantai Seruni, Bantaeng.

Dalam kesempatan itu, Azikin Solthan menyambut baik kedatangan Sandiaga Uno di Bantaeng. Menurut dia, kedatangan Sandiaga Uno adalah sebuah kehormatan untuk warga Bantaeng.

“Kunjungan bapak (Sandiaga Uno) ini sangat didambakan masyarakat Bantaeng,” jelas dia.

Dia menceritakan tentang sejarah Bantaeng. Bantaeng menurut dia dikenal dengan nama lain Butta Toa (kota tua). Menurutnya, Bantaeng memiliki nilai sejarah yang sangat panjang.

“Di Bantaeng ini, komunikasi bisnis pertama kali dilaksanakan, sejak zaman Dinasty Ming,” kata dia.

Sekedar diketahui, sejak pemilihan presiden dilakukan secara langsung, Sandiaga Uno adalah satu-satunya Cawapres yang pernah berkunjung di Bantaeng.

Sedangkan presiden yang pernah melakukan kunjungan di Bantaeng satu-satunya adalah presiden pertama Indonesia, Soekarno.

Berita Terkait
Komentar
Terkini
Opini

Tanda-tanda Resesi

17 Agustus tahun ini.Tiga hari sebelumnya.Jam 6 pagi waktu New York.Itulah hari pertama kurva terbalik: yield bond jangka panjang lebih rendah dari yield bond
Opini

74 Tahun Indonesia, Merdeka dalam Penindasan

TANGGAL 17 Agustus 2019, bangsa Indonesia dari Sabang sampai Marauke memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-74 tahun.Berbagai macam bentuk kegiatanpun dilakukan dalam rangka
Opini

Memaknai Kemerdekaan Bukan Sekedar Simbolik

TUJUH belas Agustus merupakan momentum bersejarah sepanjang rentetan peristiwa, yang turut menghiasi dalam konsep Indonesia.Euforia kemerdekaan menggema dari berbagai penjuru mendengar teks proklamasi di
Opini

Aktivis Repotlusioner

SEJARAH gerakan mahasiswa secara heroik menggambarkan kecerdasan dan militansi perjuangan mahasiswa dalam menciptakan gerakan massa dengan tujuan memperbaiki kebobrokan tatanan yang ada di Indonesia.Bagi
Opini

Mengapa Pemadaman Listrik Begitu Lama?

DI mana-mana terjadi mati listrik. Di Amerika, Eropa apalagi Indonesia. Penyebabnya yang berbeda.Persoalannya: Seberapa sering.Seberapa luas.Seberapa lama.Ada kalanya sering mati lampu. Itu karena produksi
Opini

Mensegerakan Revisi PP No. 44 Tahun 2015

KEHADIRAN program Jaminan Sosial Ketenagakerjaan yang dikelola oleh BPJS Ketenagakerjaan terus memberikan manfaat bagi pekerja kita. Khusus untuk Program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan
Opini

Aspal Buton sebagai Aspal Berongga

Buku hasil adaptasi dari disertasi penulis  yang diselesaikan pada program studi Teknik Sipil Universitas Hasanuddin pada tahun 2018 lalu.Buku ini menganalisis pengaruh penambahan bahan
Opini

Titanium Megawati

"Tulis dong soal pidato Bu Mega di Bali"."Tidak mau"."Menarik lho pak. Apalagi kalau DI's Way yang menulis"."Politik. Sensitif," balas saya."Soal Sengon 1 Triliun itu
Opini

Cara BUMN Tiongkok Berkembang

PADA tahun 2015, pemerintah China melakukan reformasi radikal terhadap BUMN. Dari total 117 BUMN, disusutkan menjadi 98 BUMN saja. Dampaknya bukan hanya pengurangan jumlah BUMN