Sarabba, Si Panas yang menggoyang lidah

Sarabba disajikan di Hotel Melia Makassar / Edwin Jhardy

TERKINI.id, MAKASSAR – Minuman Khas Sulawesi Selatan ini memiliki aroma dan rasa yang sedikit pedas, tidak hanya menggoda lidah untuk segera menyeruputnya tetapi juga bisa menjadi ketagihan.

Indonesia, tidak hanya kaya dengan gugusan pulaunya yang membentang dari pulau we hingga papua barat. Atau juga kaya dengan luasnya lautan yang ada, tetapi juga sangat kaya dengan kuliner. Setiap daerah memiliki kuliner khas masing-masing yang hanya bisa dijumpai di daerah itu.

Sulawesi Selatan misalnya, selain memiliki makanan khas berupa Coto Makassar, juga memiliki minuman khas berupa Sarabba yang hanya bisa ditemukan di daerah ini. Sarabba juga memiliki aroma khas dengan rasanya yang sedikit pedas tetapi aroma dan rasanya selalu menggoda untuk diminum.

Hingga saat ini tidak ada yang tahu sejarah asal mula Sarabba ada di daerah ini. Ada yang mengatakan bahwa minuman ini berasal dari arab. Mungkin ada benarnya juga, dimana salah satu kebiasaan penduduk Mekah dimana setiap hari Kamis mereka membawa seluruh keluarganya masuk ke Kota Mekah. Di sana mereka menginap di hotel, beribadah di Masjid Haram dan berbuka puasa bersama dengan jamaah umrah.

Pada saat berbuka, mereka memberikan minuman khas arab yang sangat mirip Sarabba di Makassar dan kurma.
Meski demikian tidak ada literatur yang menyebutkan kapan jenis minuman itu dibawah ke Makassar dan siapa yang membawa atau memperkenalkannya pertama kali. Yang pasti minuman ini sudah ada sejak lama dan sudah turun temurun dan terkenal sampai ke pelosok desa.

Sarabba mudah kita temui pada saat acara kumpul – kumpul di malam hari seperti persiapan melakukan pesta di suatu tempat ataupun yang lainnya.

Sarabba berbeda dengan Bajigur minuman khas masyarakat Sunda Jawa Barat. Meskipun bahan dasarnya sama-sama terdiri dari santan dan gula aren, Bajigur juga diberi tambahan jahe, garam dan bubuk vanili. Bajigur disajikan dengan Bandrek, kacang rebus, ubi rebus, dan kelepon kadang juga ditambahkan kolang kaling dalam satu gerobak.

Sarabba dibuat dari campuran Jahe, gula merah, santan dan sedikit merica. Disajikan dengan pisang goreng dan ubi goreng dengan sambal khas. Biasanya Sarabba dijual dalam tiga varian diantaranya Sarabba Biasa dimana Sarabba ini rasanya masih original tanpa tambahan yang lain. Ada juga Sarabba Telur, dimana saat disajikan diberikan tambahan kuning telur dan yang terakhir adalah Sarabba Susu, dimana Sarabba ini disajikan dengan tambahan susu. Masing-masing varian memiliki citarasa tersendiri.
Manfaat minum Sarabba

Biasanya, masyarakat Makassar minum Sarabba untuk menghangatkan tubuh dan mengembalikan stamina setelah beraktivitas seharian. Karena terbuat dari bahan-bahan yang alami sehingga sangat baik bagi kesehatan tubuh bahkan bisa dikatakan tidak ada efek samping.

Kandungan Jahe yang ada di dalam Sarabba dapat memperlancar peredaran darah, mengobati perut kembung, mengobati migrain. Sedangkan Gula Merah diketahui dapat mencegah Anemia dan meningkatkan daya tahan tubuh, sedangkan Santan Kelapa sangat kaya dengan zat besi serta mencegah penuaan dini. Setelah meminum Sarabba, biasanya tubuh akan mengeluarkan keringat sehingga penyakit seperti flu dan masuk angin dipercaya lebih cepat sembuh.

Sarabba Favorit dan paling lama di Sulsel

Penjual Sarabba di Makassar cukup banyak, seperti Warung 212 di Jalan Sultan Alauddin, Warkop Azzahra, di Ujung Jalan bandang atau di pantai Losari. Tetapi tempat yang paling favorit minum Sarabba adalah Sarabba Sungai Cerekang yang berlokasi di Jl. Sungai Cerekang Makassar.

Ada banyak penjual Sarabba di sini, tetapi yang paling lama adalah Sarabba Daeng Hasna yang dikelolah oleh Haji Guni Daeng Bau, letaknya dekat jalan Bulussaraung tepatnya di depan Asrama Gorontalo. Warung sarabba Daeng Hasna ini sudah ada di lokasi ini sejak tahun 1983. Awalnya mereka membuka warung Sarabba di Pasar Sentral dan tahun 1983 mereka pindah ke Sungai Cerekang.
Haji Guni Daeng Bau kemudian mewariskan usahanya ini ke anaknya Daeng Hasna dan sepeninggal Daeng Hasna kini dikelolah oleh Saudaranya Nurhayati.

Warung Sarabba umumnya buka mulai sore hingga tengah malam. Bahkan ada juga sampai pagi, karena Sarabba memang paling enak dinikmati pada malam hari atau cuaca lagi dingin. Harga Sarabba di Sungai Cerekang mulai Rp7.500 sampai Rp10.000 sedangkan gorengan dijual dengan harga Rp 1.000 per biji.

Sarabba Sungai Cerekang biasanya tutup pada tahun baru atau tanggal 1 Januari malam. Namun jika ingin menikmati Sarabba bisa mencari tempat yang lain. Seperti di Alauddin atau ke Sungguminasa depan Ruko, samping Kodim Gowa sebelum Jembatan Kembar.
Berbeda dengan di Makassar yang buka pada sore hari, maka Penjual Sarabba di Kabupaten Maros juga tersedia pada pagi hari. Bisa ditemui di penjual roti di Jalan Poros Maros Makassar. Sarabba ini disediakan gratis bagi pengunjung yang singgah membeli oleh-oleh.

Di Parepare, juga kita bisa menikmati minuman Sarabba ini. Lokasinya ada di dekat kawasan pasar senggol. Di sini kita bisa minum Sarabba sambil menikmati indahnya pemandangan Teluk pare dan tanjung Ujung Lero.

Sarabba juga bisa ditemui di belakang pertokoan lama Rantepao, Toraja Utara atau beberapa tempat lain di dalam kompleks pasar Makale. Namun tempat yang paling digandrungi saat ini adalah Café Ba’ba-ba’ba. Di café ini sambil menyeruput Sarabba kita bisa melihat keindahan alam pedesaan Pa’tengko, deretan persawahan sekitar Tampo maupun latar gunung Sinaji.

Di Kabupaten Bantaeng Sulawesi Selatan, Sarabba sudah dijual sejak tahun 1972. Warung Sarabba ini dikenal dengan Kedai Sarabba Ratulangi, milik Daeng Sido. Resep Sarabbanya merupakan resep keluarga. Berbeda dengan Sarabba sungai Cerekang yang disajikan dengan aneka gorengan, Sarabba Daeng Sido disajikan dengan kue mangkok.

Bagi yang berada di luar Sulawesi Selatan, sudah bisa menikmati Sarabba tanpa harus datang langsung ke Makassar, sebab saat ini, Sarabba sudah dikemas dalam bentuk bubuk seperti Sukma jahe makassar, Sarabba Rajana, Wedang Sarabba, maupun Sarabba Instant.

Salmawati

Berita Terkait
Komentar
Terkini