SBY Minta Belanja Alutsista Ditunda Dulu: Musuhnya Bukan Militer, Tapi Covid-19

Susilo Bambang Yudhoyono

Terkini.id, Jakarta – Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono menyoroti keputusan Menteri Keuangan Sri Mulyani yang menambah alokasi pagu anggaran Kementerian Pertahanan (Kemenhan) di bawah komando Prabowo Subianto tahun depan.

Tambahan anggarannya mencapai Rp 20 triliun dari Rp 117,9 triliun di 2020 menjadi Rp 137 triliun tahun depan.

Pemberian anggaran itu tentu ditujukan untuk belanja alat utama sistem pertahanan (alutsista) serta perawatannya.

SBY pun menganggap, harusnya kucuran untuk belanja alutsista itu bisa ditahan dulu sampai ekonomi RI bisa benar-benar pulih dari dampak pandemi COVID-19.

“Kalau sekarang menurut saya (belanja alutsista) harus jeda dulu, pause, tunda dulu, tidak bagus, musuhnya bukan musuh militer, musuhnya COVID-19,” ujar SBY dikutip dari CNBC Indonesia, Jumat 14 Agustus 2020.

Menarik untuk Anda:

Sebab, saat ini, keuangan negara sedang tidak stamina apalagi ditambah dengan utang yang terus meningkat setiap tahunnya.

“Semua uang harus diarahkan ke sana, padahal uang kita tidak melimpah ruah, ada batasnya fiskal kita, apalagi ditambah utang, pasti tidak bagus,” tambahnya.

Demikian halnya dengan anggaran ke sektor-sektor lainnya, juga perlu untuk direm dulu sampai ekonomi RI benar-benar pulih. Setelah itu, silahkan melanjutkan belanja-belanja lainnya, sebab itu juga penting untuk mendorong Indonesia jadi lebih maju.

“Kalau dalam keadaan seperti ini uang yang pas-pasan ini ditambah utang, harus diarahkan untuk membeli alutsista baru, memenuhi kebutuhan bukan hanya pertahanan ya sektor manapun, ngalah dulu lah, nanti kalau sudah pulih kembali, ekonomi pulih kembali silahkan dilanjutkan, baik pertahanan, pendidikan, infrastruktur apapun bisa dilanjutkan kembali, karena itu juga penting,” pungkasnya.

Selamatkan Ekonomi dan Manusia dari Covid-19

Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menganggap, dalam penanganan pandemi COVID-19 pemerintah tak harus bingung memilih antara menyelamatkan ekonomi atau manusia lebih dulu. Keduanya bisa diselamatkan secara bersamaan.

“Saya berpendapat bisa. Tidak harus memilih salah satu, karena ini juga bukan dilema tidak harus, sudahlah ekonomi gerak, atau jangan gerak dulu ekonomi, biar selesai dulu penanganan COVID-19 nya. Tidak seperti itu, bisa secara bersamaan tanda kutip itu dilaksanakan dua-duanya antara save life dengan safety economy,” ujar SBY dalam acara CNBC Indonesia Exclusive, Jumat (14/8/2020).

Namun ada syaratnya, pemerintah tetap harus mengedepankan penanganan pandemi COVID-19.

“Sungguhpun itu secara bersamaan bisa dilakukan, tetapi kalau kita bicara first thing first yang harus terlebih dahulu dilakukan adalah to control the disease, menghentikan sebaran COVID-19, yang skalanya tinggi,” katanya.

Pemerintah diminta mampu memasang target pergeseran status daerah zona merah menjadi zona hijau dalam waktu tertentu.

“Misalnya, kalau ada zona atau daerah merah yang tinggi sekali jumlah kasus dan kematiannya sekian bulan digeserlah menjadi zona kuning, sekian bulan digeserlah menjadi zona hijau,” imbaunya.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Di Tengah Ketidakpastian, Sawit Penyelamat Ekonomi RI

Era Kenormalan Baru, BI Sebut Akselerasi Digitalisasi Pembayaran Melalui QRIS Meningkat

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar