Sebelum Radar Bogor, Ini 4 Judul Berita yang Dianggap Menghina Megawati

Megawati Soekarno Putri
Megawati Soekarno Putri

Terkini.id – Judul berita harian Radar Bogor “Ongkang-ongkang Kaki Dapat Rp 112 Juta” membuat marah Kader PDI Perjuangan dan pendukung mantan Presiden Megawati Soekarno Putri. Kemarahan kader PDIP ini pun sampai ke Presiden Jokowi.

Kisruh pemberitaan media dengan Megawati ini bukanlah yang pertama. Sebelumnya, beberapa judul berita juga membuat Megawati merasa tidak nyaman. Wartawan dan medianya pun dilaporkan ke polisi. Wartawan yang dituduh menghina divonis bersalah oleh pengadilan.

Berikut judul berita yang dianggap menghina Megawati :

  1. Tanggal 6 Januari 2003, Rakyat Merdeka menurunkan berita dengan judul “Mulut Mega Bau Solar”
  2. 8 Januari 2003, Rakyat Merdeka kembali membuat berita tentang Megawati. Koran ini membuat judul “Mega Lintah Darat’
  3. Tanggal 30 Januari 2003, Rakyat Merdeka membuat judul berita “Mega Lebih Ganas dari Sumanto”
  4. Tanggal 4 Februrai 2003, Rakyat Merdeka membuat berita dengan judul “Mega Cuma Sekelas Bupati”
  5. Tanggal 30 Mei 2018, Radar Bogor membuat berita “Ongkang-ongkang Kaki Dapat Rp 112 Juta”
Judul berita Radar Bogor yang terbit 30 Mei 2018 ini membuat marah kader PDI Perjuangan dan pendukung Megawati Soekarno Putri

Judul nomor 1 sampai 4 dibuat Rakyat Merdeka dengan cara mengambil perkataan demonstran. Saat itu aksi menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) sedang gencar dilakukan. Rakyat Merdeka pun mengawal aksi ini lewat pemberitaan. Dengan judul-judul seperti di atas.

Redaktur Eksekutif Rakyat Merdeka Supratman menjadi terdakwa dalam kasus ini. Oleh Pengadilan, Supratman dinyatakan bersalah dan dihukum pidana percobaan selama 12 bulan.

Menarik untuk Anda:

Sementara pada judul nomor 5, Radar Bogor membuat berita terkait hak keuangan yang didapat Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Megawati Soekarnoputri, berdasarkan Perpres No 42 Tahun 2018.

Penghasilan yang diterima Megawati ini dianggap Radar Bogor tidak sesuai dengan tugas dan tanggung jawab lembaga. Hal ini juga dinilai tidak pantas, mengingat masih banyak warga Indonesia yang hidup miskin.

Setelah kantor Radar Bogor didatangi massa PDIP, Radar Bogor pun memberikan ruang klarifikasi dan minta maaf atas berita tersebut.

“Saya selaku Pemred, meminta maaf kepada Bu Megawati dan kader PDIP, jika karya jurnalistik terbitan 30 Mei telah menyakiti hati mereka,” ujar Tegar seperti yang dilansir Republika.

Dikecam Organisasi Pers

Aksi penyerangan ke kantor surat kabar lokal Radar Bogor mendapat kecaman dari organisasi pers. Seperti AJI, PWI, dan IJTI.

“Mengutuk keras aksi kekerasan yang dilakukan kader dan simpatisan PDIP di ruang redaksi,” kata Ketua AJI Jakarta Asnil Bambani.

Hari ini AJI Jakarta bersama sejumlah organisasi menggelar aksi solidaritas di Bundaran HI. Menyerukan perlawanan terhadap kekerasan pers.

PWI meminta kepada siapapun, khususnya PDIP  Bogor dalam menyampaikan keberatan atau tuntutan terhadap pemberitaan pers senantiasa menggunakan cara cara demokratis-prosedural sebagaimana telah diatur dalam UU Pers No. 40 Tahun 1999.

“Pers bisa saja membuat kesalahan. Wartawan juga manusia yang tidak luput dari kelemahan dalam menjalankan profesinya. Kinerja pers dapat dipersoalkan secara etis maupun hukum dengan menggunakan UU Pers,” kata Plt Ketua Umum  PWI Sasongko Tedjo.

Ketua Umum Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Yadi Hendriana juga mengecam keras aksi kekerasan dan intimidasi yang dilakukan simpatisan PDIP di kantor Radar Bogor.

“Karena aksi premanisme dan main hakim sendiri adalah ancaman bagi kebebasan pers dan demokrasi yang tengah tumbuh di tanah air,” kata Yadi.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Terus Bertambah, Ini 5 Provinsi dengan Jumlah Kasus Positif Corona Terbanyak

19 Dosen Unhas Reaktif Setelah Rapid Test Massal

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar