Sebut Justru SBY yang Merusak Demokrasi, Kubu Moeldoko: Sudah 200 Kader Dipecat AHY

Terkini.id, Jakarta – Kader Demokrat pendukung Moeldoko, balik menuding Susilo Bambang Yudhoyono dan Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY yang justru merusak partai.

Hal itu lantaran sudah banyak kader yang dipecat oleh AHY lantaran terindikasi ikut mendukung pelaksanaan Kongres Luar Biasa atau KLB.

M. Rahmad, Juru Bicara Partai Demokrat Hasil KLB Sibolangit Deli, mengungkapkan hingga saat ini sudah hampir 200 kader yang menerima surat keputusan (SK) pemecatan.

Baca Juga: SBY dan AHY Dipolisikan, Pelapor: Mereka Sudah Fitnah Pemerintahan Jokowi

Para kader tersebut dipecat lantaran diketahui menghadiri KLB. Rahmad pun menuding bahwa AHY bertindak tidak demokrasi karena dengan seenaknya memecat kader tersebut.

“Per hari ini, sudah hampir 200 SK pemecatan untuk kader yang hadir di (KLB) Deli Serdang. Ini menunjukkan proses demokrasi justru dilanggar sendiri oleh SBY dan AHY.

Baca Juga: Bila Moeldoko Tinggalkan Istana, Pengamat Politik Sebut Nama Amran Sulaiman

Pemecatan pemecatan itu tanda tirani, bukan tanda-tanda demokrasi,” ungkap M Rahmad dalam tayangan dialog Metro TV yang ditayangkan secara online, Minggu 7 Maret 2021.

Rahmad juga membantah bahwa para kader yang datang diiming-imingi uang. Menurut dia, mereka cuma difasilitasi pesawat ke lokasi dan menginap di hotel.

Itu adalah hal yang wajar saja dalam organisasi politik.

Baca Juga: Santai Sikapi Mundurnya Razman, Darmizal: Persoalan Remeh-Temeh

Lebih lanjut dia membeberkan, masalah Partai Demokrat adalah masalah lama yang makin besar seperti ledakan gunung es. “

Ini seperti ledakan gunung es yang sudah lama membeku di demokrat. Peserta KLB ini menginginkan perubahan.

Kalau lihat livenya, ada banyak DPC yang naik panggung dan mengungkap hal hal menjijikkan saat Pileg Pilkada dan lain lain,” tambahnya lagi.

Sementara itu, pengamat politik, M Qodari menilai gerakan KLB adalah gerakan pelampiasan dendam lama kubu Anas Urbaningrum.

“Kalau kita lihat kongres 2010 yang menang itu Anas, tapi dikehendaki oleh SBY adalah Andi Mallarangrng. Lalu (pada kongres selanjutnya) karena Mallarangeng bermasalah hukum,  Marzuki diminta tidak maju, Anas diminta tidak maju, dengan janji diakomodasi secara politik (oleh SBY) tapi ternyata tidak (diakomodasi,” Ungkapnya

Akhirnya orang orang kecewa itu bersatu, dan membuat kongres di Deli Serdang.

Sponsored by adnow
Bagikan