Sederet Prediksi Bencana Terjadi di Tahun 2020, BNPB Sebut 214 Sumber Gempa Baru

Agus Wibowo Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan/ ist

Terkini.id, Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan potensi kebencanaan di Indonesia pada tahun 2020 mendatang.

Ratusan daerah dinyatakan rawan terkena dampak bencana banjir, gempa bumi, hingga erupsi gunung berapi.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB, Agus Wibowo mengatakan sejumlah daerah berisiko tinggi terhadap potensi bencana banjir.

“Sebanyak 489 kabupaten/kota berada di daerah bahaya (banjir) sedang-tinggi, dengan jumlah penduduk terpapar dari bahaya sedang-tinggi sebanyak 63,7 juta jiwa,” kata Agus pada Selasa, 17 Desember 2019 di Graha BNPB, Jalan Pramuka, Jakarta Timur.

Selain itu, sejumlah daerah disebut masih rawan terjadi gempa di jalur subduksi atau pertemuan lempeng maupun di jalur sesar.

Menarik untuk Anda:

Data BNPB menyebutkan ada 214 sumber gempa baru yang tersebar di Jawa sebanyak 37 sumber bencana, Sulawesi sebanyak 48 sumber bencana, Papua sebanyak 79 sumber bencana, serta Nusa Tenggara dan Laut Banda sebanyak 49 sumber bencana.

“Bahwa kita ada banyak kejadian gempa. Kita banyak sekali terjadi gempa, jadi potensinya sangat tinggi di Indonesia. Jadi masih ada prediksi-prediksi (potensi – red) untuk bencana-bencana yang megathrust,” bebernya.

pihaknya juga tidak mengharapkan, tapi para ahli masih memperkirakan kita punya banyak megathrust. Ini zona-zonanya megathrust, ini prediksi-prediksi yang kemungkinan akan terjadi gempa besar.

“Ini ada zona Papua, zona Jawa bagian Selatan, Sumatera bagian Barat. Ini adalah zona-zona yang prediksi gempanya di atas (magnitudo) 8, prediksi para ahli di atas (magnitudo) 8. Tapi kita tidak tahu kapan terjadinya,” imbuhnya.

Selain itu, ia juga menyebutkan ada 75 kabupaten/kota di Indonesia berada di daerah bahaya sedang-tinggi erupsi gunung api. Sebanyak 3,5 juta penduduk terpapar bahaya sedang tinggi dari erupsi gunung api.

“Untuk daerah rawan gunung api, masih sama seperti ini, 127 gunung api aktif dan banyak penduduk yang terpapar. Sama seperti tadi yang rawan bencana,” ucapnya.

Lebih lanjut, Agus mengatakan bulan Desember 2019 dan Januari 2020 mendatang adalah bulan berbahaya untuk bencana hidrometeorologi. Di bulan yang masuk musim penghujan, diprediksi akan rawam bencana banjir hingga tanah longsor.

“Karena Desember sampai Januari adalah bulan-bulan yang berbahaya karena biasanya terjadi bencana besar. Kita tidak mengharapkan, ini hanya catatannya bahwa biasa terjadi bencana yang besar seperti banjir, gempa, longsor, dan sebagainya,” tutur Agus.

Menurut Agus, BNPB memprediksi akan terjadi bencana banjir dan tanah longsor di sejumlah daerah dan telah menyiagakan kekuatan yang ada untuk mengantisipasi bencana. Selain itu, BNPB juga telah membentuk tim di empat area untuk mitigasi bencana.

“Jadi ada area Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara ada timnya dari BNPB dibentuk ada koordinatornya. Wilayah 2 ada Sulawesi, Kalimantan, NTT, ada timnya. Di Sumatera ada timnya, di Jawa-Bali juga ada timnya,” urainya.

“Jadi wilayahnya ada empat, BNPB ditugaskan untuk memonitoring, mengawasi, dan menyiapkan (antisipasi bencana banjir dan tanah longsor),” tambahnya.

Untuk informasi bersama, sepanjang tahun 2019, bahwa 98 persen laporan yang dicatat BNPB adalah bencana hidrometeorologi yang mana dari prosentase tersebut sedikitnya ada 3.622 peristiwa.

Dalam kurun waktu tersebut, banjir dan longsor menjadi bencana yang serius mengingat besaran korban jiwa dan kerugian material dari dampak yang diakibatkan.

“Kendati demikian, angin puting beliung masih mendominasi sebagai bencana yang paling banyak terjadi di hampir seluruh wilayah di Indonesia,” tutupnya.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Dispar Makassar Cari Penyebar Hoaks Surat Edaran Penutupan THM

Sosok Andi Musdalifah, Wisudawati UIN Alauddin yang Meninggal Dunia dan Diwakili Ayah

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar