terkini.id-Makassar, Debu berterbangan disudut gerbang perumahan disalah satu sudut kota Makassar. Nampak seorang pria paruh baya sedang duduk disamping sebuah sepeda dengan boks kayu yang tertata sedemikian rupa bersanding dengan tas kerja yang kusam serta barang lainnya.

Di hari itu cuaca kota Makassar sedikit cerah, nampak hilir mudik para warga metropolis dengan berbagai macam jenis kendaraan.
Namun, disudut gerbang perumahan megah yang bercorak putih itu, pria dengan rambut yang mulai memutih serta sebuah topi yang telah lusuh tetap setia menunggu para pelanggannya.
Setelah menyapa Bapak berperawakan sedang disampingnya terparkir sebuah sepeda tua yang dimodifikasi sedemikian rupa dengan peralatan yang menempel memenuhi kebutuhan aktifitasnya.
Pria paruh baya ini mulai angkat bicara. Suasana perlahan cair, dengan suara lirihnya karna termakan usia.
- Rayakan 40 Tahun Kebersamaan, SMADA 86 Juara Fashion Karnaval TSN II
- Kenaikan Biaya Umrah 2026 Seperti Tsunami: Harga Naik Drastis Jelang Keberangkatan Juli-Agustus
- BCA Pastikan Tidak Ada Kebocoran Data Nasabah, Imbau Waspada Modus Penipuan
- Paripurna Hak Angket DPRD Gowa Digelar Senin 25 Mei, Dukungan 40 Legislator Menguat
- Reses Ketiga, Anggota DPRD Makassar Fasruddin Rusli Serap Aspirasi Warga Kecamatan Makassar
Sosok yang mengais rezeki dengan sepeda yang telah dimakan usia ini disapa Pak Udin. Dalam kesehariannya bekerja dengan menawarkan jasanya sebagai penjahit sepatu dan sandal serta payung secara manual.

Dari lorong ke lorong, keluar masuk kompleks perumahan tetap setia menjajakan jasanya.
Usaha jasa ini dipelajarinya secara otodidak sejak masa muda dahulu hingga saat ini.
Tantangan yang sering dihadapi saat cuaca kurang mendukung, apalagi saat musim hujan.
Penulis meminta izin untuk duduk lesehan dipinggiran jalan. Memandangi hilir mudik para warga kota sembari menemaninya menunggu para pelanggan. Pembicaraan hangat mulai mengalir mulai dari kisah hidup sosok Bapak tua ini.
“Tabe, Mengapa tidak menempelkan nomor telepon di sepeda ini, Seperti banyak hal hal yang dilakukan oleh pemberi jasa lainnya,” tanya penulis.

“Pernah ditulis namun kadang ada orang yang jahil hanya bercanda mau memperbaiki sepatunya. Setelah di cari ternyata cuman alamat palsu,” ujarnya pelan sambil berkaca kaca.
Wah, ternyata masih ada juga yang sekedar iseng tanpa memikirkan akibatnya. Tidakkah mereka merasa kasihan melihat perjuangan dalam mencari alamat yang diberi untuk sosok pria tua dan ternyata malah menjadi pemberian harapan palsu.

Kutanyakan kembali mengapa tidak mencari tempat yang menetap.
Sambil tersenyum pria paruh baya ini berujar, Lebih bagus begini nak sehat kita dapatkan karena berolahraga dengan mengayuh sepeda. Juga lebih dekat ke pelanggan. karena pelanggan tidak perlu repot-repot mendatangi kita.
Pesan yang bijak , terlebih disaat pandemi ini. Anjuran untuk berolahraga dianjurkan ke setiap warga.
Untuk kisaran jasa ongkos jahit sepatu dan sendalnya dihargai dari 10-20 ribu rupiah.
Tentunya biaya ini masih sangat terjangkau di kantong masyarakat. Mengingat fungsi dari sepatu dan sandal menjadi sesuatu yang penting dalam menunjang kegiatan kita sehari-harinya.
Ada juga yang unik pada tampilan sepeda sebagai teman setia dalam mencari rezeki. Memiliki beberapa tas peralatan kerja yang telah lusuh.
Nampak juga sebuah kotak kayu berukuran sedang serta kursi duduk dengan tulisan putih ‘penjahit sendal dan sepatu’.
Penanda tulisan tersebut terukir di belakang dan sisi kanan sepeda dengan beberapa bagian yang telah dimakan karat.
Ada juga warna warni beberapa buah payung yang bertengger di tengah frame sepeda ditemani sebuah box kayu berwarna putih dan selembar karet sol mentah yang berada di kotak itu, menambah bukti konsistensi dan totalitas lelaki ini dalam pekerjaannya.
Udara perlahan beranjak panas, pertanda waktu siang akan mendekap bumi. Setelah menunggu sekian jam , nampaknya tak ada satupun pelanggan yang datang menghampiri.
Akhirnya dengan bergegas bapak dengan 6 (Enam) orang anak ini berkemas untuk kembali keliling jalanan, memasuki titik lorong setiap perumahan.
Kembali mengitari sudut jalanan perumahan di seputaran wilayah sudiang.
Sambil melambaikan tangan pria tua dengan topi yang telah dimakan usia ini pun beranjak pergi.
pembaca yang budiman, setelah pertemuan tadi penulis mengingat suatu kisah pepatah Jepang.
“Karena satu paku kecil terlepas,
Maka tapal kuda bisa terlepas,
Karena tapal kuda hilang, kuda jadi tidak bisa lari.
Karena kuda tak bisa lari, pesan jadi tidak terkirim.
Karena pesan tidak terkirim, kita jadi kalah perang.”
Sepenggal pepatah Jepang ini pernah diucapkan pamannya DK pada salah satu dialog dalam kisah film ‘Fast n Furious: Tokyo Drift.
Pesan yang tersirat dalam suatu pepatah, menyadarkan kita bahwa hal yang kecil pun dapat membawa masalah yang besar, sehingga jangan pernah menyepelekannya.
Pesan yang bisa kita petik adalah, Jangan pernah meremehkan hal-hal kecil.
Dan sangatlah menggelitik jika kita beraktivitas namun tiba tiba terhenti karena sebuah insiden sepatu atau sendal yang sobek atau sol alasnya copot.
Tentunya hal ini patut diantisipasi jika kita dapat memperhatikan sesuatu hal yang kecil dan terkadang luput dari pandangan kita.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
