Sikapi Bencana di Indonesia, Himalogi STIK Tamalatea Makassar Gelar Seminar Kesehatan

Terkini.id, Makassar – Himalogi atau Himpunan Mahasiswa Jurusan Epidemiologi dan Biostatistik STIK Tamalatea Makassar menghelat seminar kesehatan epidemiologi dalam perspektif kegawatdaruratan dan kependudukan menuju revolusi industri 4.0.

Ketua Himalogi, Nurul Adha, mengatakan beberapa tahun belakangan menaruh perhatian terhadap isu bencana. Di era industri 4.0, kata dia, mahasiswa kesehatan penting untuk melek teknologi dan mengikuti perkembangan zaman. Khusunya, yang berkaitan dengan masalah bencana.

Ia berharap, ke depan, mahasiswa kesehatan terutama mahasiswa baru dan terkhusus lagi pada jurusan epitomologi mampu bersaing dengan bangsa lain dalam menyikapi bencana.

“Bisa menjadi mahasiswa yang bisa menyaingi orang-orang asing agar kesehatan masyarakat bisa maju. Pada saat ini kesehatan di indonesia sangat rendah,” kata dia di Aula STIK Tamalatea Makassar, Sabtu, 19 Oktober 2019.

Nurul menjelaskan bahwa Himalogi rutin melakukan seminar setiap tahun, setiap kali ada mahasiswa baru. Namun, kata dia, kegiatan kali ini terbuka untuk umum meski tetap mengutamakan mahasiswa STIK Tamalatea.

“Peserta yang mendaftar sejauh ini kurang lebih 100 orang. Kegiatan ini diadakan selama 1 hari,” ungkapnya.

Senada dengan itu, Ketua Panitia Seminar Rahmawati Saide mengungkapkan memilih tema bencana sebagai respons terhadap sejumlah bencana yang terjadi di tanah air.

“Himalogi mengadakan kegiatan seminar seperti ini karena ini merupakan proker wajib. Tema yang kami pilih¬† terkait bencana¬† karena kita ketahui sekarang banyak terjadi bencana alam,” paparnya.

Ia mengatakan, untuk mendalami dunia kesehatan mahasiswa mesti paham peran yang harus ia lakukan kala terjadi terjadi bencana.

“Dan harus melibatkan teknologi sehingga kita bisa mengetahui apa apa yang terjadi,” paparnya.

Ketua Jurusan Epidemiologi dan Biostatistik STIE Tamalatea Makassar Irmawati pun memberi apresiasi terhadap kegiatan mahasiswa. Ia mengatakan seminar tersebut bagian dari program kerja departemen keilmuan dan penalaran.

“Saya sangat berharap kegiatan ini memberikan manfaat bukan hanya dari jurusan kesehatan masyarakat tetapi terkhusus pada Jurusan Epidiomologi dan Biostatistik,” ungkapnya.

Terutama, kata Irmawati, ihwal mereka menangani persoalan ketika terjadi bencana. Untuk itu, dia mengatakan peserta mesti memahami dan terlibat dalam era Industri 4.0.

“Mereka harus bisa mempersiapkan diri untuk menghadapi bencana yang sifatnya darurat,” kata dia.

Kendati begitu, ia menyebut di STIK Tamalatea terdapat mata kuliah kesehatan kegawatdarutan. Mata kuliah tersebut sebagai bekal ketika berhadapan dengan masyarakat.

“Harapan saya isu-isu yang terkait epidimologi harus di pecahkan dan dibuatkan seminar seperti sekarang ini,” paparnya.

Sebagai pemateri pertama, Hasriwiani Habo Abbas mengingatkan ihwal perjalanan menuju era 4.0 untuk tidak kebablasan. Seperti bergantung pada internet namun mengabaikan dan tak mempersiapkan diri secara manual dalam menghadapi bencana alam.

“Seperti gempa, tanah lonsor, banjir, kita harus juga mempersiapkan diri menghadapi itu secara manual,” paparnya.

Terkait bencana alam, ia menuturkan yang bisa dilakukan hanya menurunkan bencana dengan cara mitigasi. Dengan adanya pemanasan global, kata dia, peristiwa banjir, tanah lonsor, dan tsunami bakal semakin sering terjadi.

“Belum lagi jumlah penduduk yang semakin meningkat, dan perumahan di mana-mana, bahkan di tempat rawa, sehingga menimbulkan masalah. Indonesia merupakan negara dengan potensi bahaya. Itu kondisi alamiah dan perbuatan manusia,” paparnya.

Ia pun membandingkan Indonesia dan Jepang dalam menghadapi bencana. Ia mengatakan Indonesia brutal menghadapi bencana, sementara Jepang, kata Hasriwiani, menghadapi dengan cantik.

“Solusi menyikapi bencana seharusnya dimulai dari mitigasi taman kanak-kanak, sehingga ketika sudah besar sudah teredukasi,” ungkapnya.

Dia mengatakan Indonesia harus siap menghadapi bencana. Sebab, bila itu diabaikan maka Indonesia akan tergilas. Indonesia harus berbenah dengan membangun sistem yang kokoh.

“Manajemen musibah petugas kesehatan ketika melakukan pertolongan harus lebih kuat secara fisik, mental, dan sosial di tempat bencana,” ungkapnya.

Sementara, Ketua STIK Tamalatea Makassar Rahmawati selaku pemateri, melakukan perbandingan terhadap Indonesia dan Singapura dari segi kualitas dan Kuantitas.

“Indonesia kuantitasnya ke-4 di dunia namun kualitas masyarakat Indonesia masih dianggap rendah dari Singapura, Malaysia, dan Thailand,” kata dia.

Berdasarkan penelitian, dia mengatakan terdapat sekitar 5 juta manusia Indonesia yang tidak mengenyam pendidikan. Sementara tuntutan hari ini mesti menguasai teknologi.

“Kemajuan suatu bangsa 80 persen ditentukan sumber daya manusia, 20 persen ditentukan SDA,” kata dia.

Komentar
Terkini