Sikapi Ekonomi Indonesia yang Melambat, Ini Kebijakan Terkini BI

Terkini.id, Makassar – Direktur Kepala Grup Advisory dan Pengembangan Ekonomi Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) Endang Kurnia Saputra memaparkan komunikasi kebijakan terkini BI.

Dia mengatakan Bank Indonesia baru saja menurunkan suku bunga sebesar 25 basis points (bps) menjadi 5,25 persen. Dia menyebut sepanjang tahun ini, BI sudah menurunkan suku bunga sebanyak 75 bps.

“Salah satu alasan menurunkan suku bunga adalah untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah perlambatan ekonomi Indonesia,” kata dia saat ditemui di Restoran Grind and Pull Jalan Andi Mappanyuki, Makassar.

Menurut dia, ekonomi yang melambat di Indonesia berkaitan dengan ekonomi global yang juga melambat.m

Endang menyebut Indonesia salah satu negara yang perdagangannya sudah terbuka dengan internasional dan pengekspor.

“Pertumbuhan ekonomi melambat ini karena pertumbuhan atau produk-produk di Indonesia secara umum menurun. Ekonomi kita juga melambat,” paparnya.

Kendati demikian, Endang menilai momentum itu bisa dicegah pada level 5 persen lantaran konsumsi serta belanja pemerintah masih baik.

Ia mengatakan, potensi konsumsi Indonesia saat ini masih terjaga dengan baik.

“Kenapa terjaga dengan baik? pertama, government kita masih belanja melalui APBN. Di sisi lain, pemerintah pun cukup berhasil untuk menjaga momentum pertumbuhan, khususnya masyarakat berpenghasilan rendah melalui bantuan pangan non tunai,” jelasnya.

Dia mengatakan momentum pertumbuhan ekonomi bisa dijaga pemerintah melalui belanja pemerintah, meskipun ruang fiskalnya relatif sempit.

Endang mengatakan, bila pemerintah hendak mengejar kenaikan pajak, sepertinya tidak mungkin dan bukan menjadi opsi.

“Kecuali pemerintah sekarang melakukan ekstensifikasi (perluasan) kepada perusahaan yang memang pajaknya dianggap kurang, mungkin bisa ditingkatkan. Karena begitu ekonomi kita menurun, permintaan terhadap produk perusahaan juga bisa menurun,” jelasnya.

Dia menjelaskan bahwa hal lain yang bisa pemerintah lakukan adalah meningkatkan efisiensi alokasi APBN. Misalnya, kata dia, alokasi diefisienkan, belanja untuk pegawai harusnya tidak lebih besar dari 50 persen.

Endang juga menjelaskan kebijakan  makroprudensial bakal mendorong konsumsi rumah tangga guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Dia mengatakan sejumlah kebijakan ditujukan untuk mendorong likuiditas perbankan sehingga tercipta ruang gerak bagi perbankan untuk melakukan pengelolaan secara lebih produktif.

“Kemampuan perbankan menyalurkan pinjaman menjadi lebih besar sehingga dapat mengakselerasi pertumbuhan ekonomi,” paparnya.

Endang menjelaskan, kebijakan BI setidaknya membutuhkan waktu 6 hingga 12 bulan untuk memberikan dampak terhadap kinerja pertumbuhan ekonomi.

“Dampaknya itu kira-kira 6 sampai 12 bulan. Kalau sekarang BI merelaksasi kebijakan baru bisa terlihat pada tahun 2020,” pungkasnya.

Komentar

Rekomendasi

Jiwasraya dan Window Dressing

Dream Tour-Batik Air Buka Penerbangan Makassar-Jeddah, Bidik 20.000 Jemaah Per Bulan

Edhy Prabowo Genjot Rencana Ekspor Benih Lobster: Saya Tidak Akan Mundur

2020, BI Prediksi Ekonomi Sulsel Bakal Lebih Baik dari Tahun Ini

Sasar Pengguna Milenial dan Generasi Z, Indosat  Gandeng  Snapchat

Masih Banyak Pelaku UMKM di Makassar Belum Tahu Cara Promosi lewat Online

Ajak Anak-Anak Cinta Uang Logam, BI Gelar Gerakan Peduli Koin

Literasi Ekonomi dan Keuangan Syariah Justru Tumbuh Pesat di Barat

Kabar Gembira, Ada Program Khusus dari Astra Motor Makassar untuk Mitra Grab

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar