Singgung Soal Tagline KLB, Max Sopacua: Kumpulkan yang Terbuang karena AHY

Singgung Soal Tagline KLB, Max Sopacua: Kumpulkan yang Terbuang karena AHY

R
Resty
Redaksi

Tim Redaksi

Terkini.id, Jakarta – Max Sopacua, menyinggung soal tagline yang kubu Moeldoko jadikan tema dalam Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat Deli Serdang. Sibolangit, Sumatera Utara pada 5 sampai 7 Maret 2021 lalu.

Diketahui, tagline KLB Deli Serdang yaitu ‘Menjemput yang Tertinggal dan Mengumpulkan yang Berserakan’.

Dalam penjelasannya, Max menyampaikan bahwa kata ‘yang berserakan’ ditujukan untuk kader-kader Demokrat yang menurutnya dipecat tidak jelas.

Sementara. Kata ‘yang tertinggal’ adalah kader-kader yang selama ini terbuang atau tidak terpakai karena Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) memasukkan kader-kader baru.

Menurut Max, kader-kader ‘yang berserakan’ dan ‘yang tertinggal’ ini harus dijemput dan disatukan kembali.

Baca Juga

“Jadi menjemput yang tertinggal dan mengumpulkan yang berserakan, yang berserakan inilah yang dipecat tak jelas itu, mari bergabung semuanya, dan mereka yang tidak dipakai selama ini kita jemput, menjemput yang tertinggal, yang dibuang selama ini, yang tidak terpakai lagi karena Pak AHY memasukkan kawan-kawan yang baru, ya itu yang justru dilakukan itu,” ujarnya pada Jumat, 12 Maret 2021, dilansir dari Detik News.

Latar belakang Max menyinggung soal tagline ini adalah ketika ia merespons soal tudingan kubu AHY bahwa mereka mengada-ada terkait praktik mahar politik di lingkup internal Partai Demokrat.

“Kenapa kita harus mengada-ada kalau tidak benar? SK-nya itu ditandatangani oleh Hinca Pandjaitan dan SBY, isi yang beredar, isi yang SK-nya sampai ke tangan kami itu, kalau ada mengharuskan setoran yang disampaikan oleh teman-teman atau adik-adik DPC yang korban itu, yang dipecat itu,” kata Max.

“Ya saya nggak tahu kalau sampai jumlah-jumlah itu, Anda harus tanya ke dia itu. Jadi, kalau kita secara umum saja apa yang terjadi di partai ini, kita tidak mencoba membahas utang-piutang di sini,” lanjut dia.

Max lalu menyinggung bahwa latar belakang diadakannya KLB bukan hanya karena praktik mahar yang ia sebut ‘utang-piutang’, melainkan karena ada pula persoalan mendasar yakini berubahnya Demokrat dari partai terbuka menjadi partai keluarga.

“Kita menyampaikan apa yang menjadi praktik dalam partai terbuka, partai yang milik semua orang, dijadikan milik keluarga. Itu yang jadi persoalannya itu. Jadi ya harus ya melihat substansi dari setiap persoalan yang terjadi yang mengakibatkan adanya KLB itu, karena itu (utang-piutang) bukan menjadi permasalahan yang dibahas, tapi caranya yang tentu itu tidak sesuai lagi dengan cita-cita sebagai partai terbuka dan partai yang mengakomodasi kepentingan kepentingan Partai Demokrat,” ucap Max.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.