Sisemba, permainan baku tendang Tana Toraja yang nyaris punah

Pertarungan Sisemba pada satu masa lalu merupakan tradisi di Tana Toraja. Adapun pesertanya hanya pria dan anak laki-laki setempat. Namun, jangan salah sangka lantaran tradisi ini sama sekali bukan berarti para pria tersebut suka berkelahi. / Ist

MAKASSAR TERKINI – Usai panen padi, beberapa pria saling berhadapan dan serang di lahan pertanian. Mereka bertarung tanpa senjata tajam atau hanya tangan kosong. Tetapi, pemandangan ini bukan perkelahian. Mereka menyerang lawan hanya melalui tendangan kaki.

Pertarungan seperti itu pada satu masa lalu merupakan tradisi di Tana Toraja. Adapun pesertanya hanya pria dan anak laki-laki setempat. Namun, jangan salah sangka lantaran tradisi ini sama sekali bukan berarti para pria tersebut suka berkelahi.

“Perkelahian tersebut merupakan salah satu permainan tradisional Tana Toraja. Namanya Sisemba, biasa dilakukan setelah panen sebagai ucapan rasa syukur,” terang Ketua Kantor Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Tana Toraja, Benyamin Bara belum lama ini.

Meski hanya permainan, aksi tendangan yang dilakukan benar-benar menendang dengan keras. Peserta akan kesakitan ketika terkena tendangan itu. “Meski sakit dan cedera, namun tidak ada dendam di antara pemain. Mereka ikhlas melakukannya,” ujarnya.

Hal itu dapat diterima, bahkan hal terburuk seperti meninggal karena baku tendang tradisi Sisemba ini.

Permainan Sisemba punya beberapa variasi. Pertama, satu lawan satu. Untuk jenis ini melibatkan dua peserta yang akan saling berhadapan. Kedua, permainan berpasangan. Pada variasi ini akan ada dua tim yang berhadapan, masing-masing tim diwakili dua orang peserta yang harus berpegangan tangan.

Salah satu tim yang terlepas pegangan tangannya saat bertanding berpasangan akan dinyatakan kalah.

Lain dulu lain sekarang. Kalau pada masa lalu Sisemba menjadi bagian erat kehidupan masyarakat Tana Toraja, sekarang permainan tersebut sudah nyaris hilang dan terlupakan.

Saat itu, baik laki-laki dewasa maupun anak-anak sudah jarang bermain Sisemba. Perubahan zaman juga lambat laun mulai meggerus kebudayaan Tana Toraja. “Anak-anak Toraja sekarang ini tidak dipukul saja mudah sekali sakit hati, apalagi ditendang betulan,” ujar Benyamin.

Padahal, para orangtua sudah mengajarkan tradisi itu. Namun, entah mengapa anak-anak tidak mau mempraktikkannya.

Menurut Benyamin, kondisi itu tak hanya terjadi pada permainan Sisemba. Permainan tradisional Tana Toraja lain juga mengalami hal serupa.

Berita Terkait
Komentar
Terkini