Siswa Korban Kekerasan MOS SMA Koma di RS dan Terus Mengigau ‘Ampun Komandan’

Salah satu korban dirawat di Rumah Sakit.(ist)
Salah satu korban dirawat di Rumah Sakit.(ist)

Terkini.id, Palembang — Kekerasan dalam Masa Orientasi Siswa (SMA) masih saja terjadi. Terakhir, kekerasan telah membuat satu orang tewas, dan satunya lagi terbaring koma di rumah sakit.

Peristiwa tersebut terjadi dalam MOS di SMA Semi Militer Taruna Indonesia Palembang.

Dilansir dari CNNIndonesia, korban tersebut yakni WJ (14), hingga kemarin masih dirawat lantaran koma.
Selang dan kabel masih menghubungkan tubuhnya dengan mesin penunjang kehidupan di Intensive Care Unit (ICU) RS RK Charitas, Palembang.

Sejak selesai operasi usus bocor di RS Karya Asih pada Sabtu 13 Juli 2019 pukul 23.00 hingga Rabu 17 Juli 2019 petang setelah dirujuk pindah rumah sakit, siswa baru SMA Semi Militer Plus Taruna Indonesia, Palembang ini masih dalam kondisi kritis dan sama sekali belum sadarkan diri.

Mengigau ‘Ampun Komandan’

Di sela ketidaksadaran anak dari pasangan Suwito-Nurwanah tersebut, igauan dan erangan kesakitan seringkali meluncur dari mulut yang dipasangkan ventilator.

Racauan ‘ampun’, dan ‘ampun komandan’ kerap terlontar dari mulut WJ yang dalam kondisi tak sadarkan diri tersebut.

“Ampun, ampun komandan,” kata Suwito menirukan igauan anaknya itu.

Suwito mengatakan igauan anaknya tersebut terdengar sering, dan ia tak menghitung jumlahya.

Sang ibu, Nurwanah, enggan beranjak dari sisi kiri ranjang tempat WJ berbaring.

Air mata Nurwanah terlihat menderai, dan mulutnya tak berhenti memanjatkan doa memohon kesembuhan anaknya itu.
Berbeda dengan Suwito yang meladeni pembesuk, Nurwanah irit bicara kepada para penjenguk anaknya.

Bahkan, ketika pejabat publik yang membesuk anaknya, Nurwanah tetap diam dan menemani sang buah hati.

Dalam kunjungannya, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) RI Retno Listyarti mengungkapkan Nurwanah sempat mendengarkan pengakuan WJ yang mengalami kekerasan dan dianiaya dalam proses Masa Orientasi Siswa (MOS) di SMA Semi Militer Taruna Indonesia Palembang. Pengakuan WJ tersebut bahkan direkam Nurwanah.

“Sangat miris, karena orang tua mengantarkan anaknya bersekolah dalam kondisi sehat, namun pulang sudah di rumah sakit. Berdasarkan pengakuan orang tuanya pun korban sering mengigau, nampaknya mengalami trauma karena menjerit-jerit seperti orang dipukuli. Saya tidak tahu ini bagaimana menggali [keterangan] karena ibunya menangis terus,” ujar Retno di Palembang, Rabu 17 Juli 2019.

Suwito menerangkan pihak keluarga belum bisa melaporkan secara resmi penganiayaan WJ tersebut karena korban belum bisa dimintai keterangan.

“Untuk sementara ini, kita sudah minta Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak Sumsel untuk memberikan bantuan psikologis kepada orang tua WJ. Termasuk orang tua korban yang meninggal, DBJ yang berada di kabupaten. Ini harus provinsi yang bergerak karena domisili korban yang antardaerah,” ujar Retno.

Dokter ICU RS RK Charitas, Justinus R Nugroho mengungkapkan, kesehatan WJ belum menunjukkan perkembangan yang signifikan. Sejauh ini, kata dia, kestabilan WJ masih ditunjang obat-obatan dan pemakaian peralatan medis yang intensif.

Selain itu, sambungnya, rumah sakit pun membentuk tim khusus dari berbagai ahli untuk menangani kondisi kesehatan WJ

“Kami berharap kondisinya tidak memburuk. Kami masih mencoba mendiagnosa penyebab luka yang diderita oleh WJ, namun kini belum bisa disimpulkan penyebabnya,” ujar Justinus.

Berita Terkait
Komentar
Terkini