Soal Aturan Pemakaian Jilbab di Sekolah, Eks Wali Kota Padang: Supaya Siswa Tidak Digigit Nyamuk

Terkini.id, Jakarta – Kasus terkait aturan pemakaian jilbab di sebuah sekolah negeri di Padang, Sumatera Barat (Sumbar) saat ini tengah menjadi perbincangan publik.

Kasus tersebut mencuat setelah salah seorang siswi di SMKN 2 Padang memprotes adanya aturan pemakaian jilbab di sekolahnya tersebut, sedangkan dirinya menganut agama nonmuslim.

Menurut pihak SMKN 2 Padang, kebijakan terkait pemakaian jilbab terhadap seluruh siswi di sekolah itu merupakan aturan yang sudah sejak lama berlaku sejak kepemimpinan Wali Kota Padang Fauzi Bahar pada 2014 silam.

Terkait hal itu, Eks Wali Kota Padang Fauzi Bahar menilai persoalan tersebut terjadi karena ada misskomunikasi antara pihak sekolah dan orang tua siswa.

Mungkin Anda menyukai ini:

“Kalau saya menilai, itu hanya miskomunikasi antara pihak sekolah dan orangtua siswa saja,” kata Fauzi, Sabtu 23 Januari 2021 seperti dikutip dari Suara.com.

Baca Juga: 36 Pedagang Pasar di Padang Positif Covid-19, Tiga Sudah Meninggal...

Menurutnya, peraturan siswi diwajibkan berjilbab itu bukan tanpa alasan. Salah satu alasannya, kata Fauzi, adalah untuk mencegah siswa terkena penyakit Demam Berdarah (DBD) yang kala itu menjangkit.

“Kalau menggunakan pakaian pendek, siswa tidak sadar mereka digigit nyamuk saat belajar. Dengan seluruhnya tertutup, maka hal itu tidak akan terjadi,” ungkapnya.

Fauzi pun menjelaskan, keputusannya membuat aturan tersebut guna menekan angka penyebaran kasus DBD di Kota Padang.

Selain itu, kata Fauzi, aturan pemakaian jilbab baik kepada siswi muslim maupun nonmuslim tersebut demi menghindari terjadinya diskriminasi di kalangan siswa.

“Niat kami dengan aturan itu agar terjadi pemerataan dan tidak terlihat siapa yang kaya dan miskin. Karena dengan menggunakan jilbab, perhiasan yang mereka gunakan tidak terlihat,” ujarnya.

Sebelumnya, kasus pemaksaan jilbab terhadap siswi nonmuslim di SMKN 2 Padang mencuat ke publik setelah salah satu orang tua dari siswi beragama kristen di sekolah itu bersuara di media sosial.

Orang tua dari siswi nonmuslim itu, Elianu Hia membagikan sebuah video yang memperlihatkan pihak SMKN 2 Padang meminta anaknya mengikuti aturan pemakaian jilbab yang berlaku di sekolah negeri tersebut.

“Lagi di sekolah SMK Negri 2 Padang. Saya dipanggil karena anak saya tidak pakai jilbab. Kita tunggu aja hasil akhirnya. Saya mohon didoakan ya,” tulis Elianu Hia di media sosial miliknya.

Dalam unggahannya itu, Elianu juga membagikan video live saat dirinya dipanggil pihak SMKN 2 Padang untuk membahas soal anaknya yang diminta memakai jilbab.

Dalam video tersebut, terlihat salah seorang guru menjelaskan terkait aturan pakaian siswi di SMKN 2.

Guru itu mengungkapkan bahwa seluruh siswi di sekolah tersebut wajib memakai seragam, jilbab dan celana panjang abu-abu.

“Pakaian dan seragam, berkerudung untuk anak perempuan dan celana panjang abu-abu,” kata sang guru dalam video itu.

Menurutnya, jika ada seorang siswi di SMKN 2 Padang tak mengikuti aturan terkait seragam tersebut maka pihak sekolah akan membahasnya dengan orang tua siswa yang bersangkutan.

“Jika tidak mengikuti aturan di sekolah, kita semua sepakat. Itu makanya kita bicarakan,” ungkap guru tersebut.

Menanggapi pernyataan sang guru, orang tua dari siswi nonmuslim itu Elianu Hia mengaku keberatan dengan aturan seragam tersebut.

Pasalnya, kata Elianu, jika anaknya yang bukan penganut Islam dipaksa memakai jilbab maka hal itu dinilainya sebagai pembohongan identitas terhadap agamanya yang nonmuslim.

“Ini agama saya. Kalau (anak) saya memakai jilbab seakan-akan membohongi identitas agama saya pak,” ungkapnya.

Elianu pun mengaku dengan adanya aturan seragam itu seolah-olah siswi yang nonmuslim di SMKN 2 Padang dipaksa masuk agama Islam.

“Seakan-akan (anak saya) dipaksa untuk masuk ke dalam agama Islam,” ujarnya.

Bagikan