Soal Kewajiban Muslimah Berjilbab, Ade Armando: Ulama Buya Hamka Tak Wajibkan Keluarganya Pakai Jilbab

Terkini.id, Jakarta – Akademisi UI, Ade Armando mengungkapkan bahwa sejumlah alim ulama termasyur dari Sumatera Barat yakni Buya Hamka dan Muhammad Natsir tidak mewajibkan keluarganya yang muslimah untuk berjilbab.

Hal itu disampaikan Ade Armando membantah anggapan yang mengatakan bahwa muslimah berjilbab merupakan kearifan lokal masyarakat Sumatera Barat.

Anggapan tersebut beredar usai kasus pemaksaan jilbab terhadap siswi nonmuslim di Padang, Sumatera Barat mencuat ke publik.

“Kalau ada yang berargumen bahwa berjilbab adalah kearifan lokal Sumatera Barat yang sudah berakar selama berabad-abad, dia jelas bohong. Coba saja lihat foto-foto keluarga tokoh muslim dari Sumatera seperti Buya Hamka dan Muhammad Natsir. Perempuan-perempuan di keluarga ulama besar itu tidak berjilbab,” kata Ade Armando.

Mungkin Anda menyukai ini:

Ade Armando lewat tayangan videonya di kanal Youtube Cokro TV, Senin 25 Januari 2021, juga menjelaskan asal usul muslimah Indonesia berjilbab.

Baca Juga: Kudeta Demokrat Disebut untuk Perlancar Wacana ‘Presiden 3 Periode’, Ini...

Menurutnya, perempuan muslim di tanah air baru berjilbab sejak tahun 1990an. Selain itu, dia juga mengaitkan antara penggunaan jilbab dengan masuknya paham wahabi dan gagasan negara Islam khilafah.

“Di Indonesia, perempuan muslim baru berjilbab pada tahun 1990an. Bahkan di Sumatera yang dianggap lebih puritan dibandingkan di Jawa misalnya, berjilbab adalah fenomena yang baru berkembang belakangan,” ungkap Ade Armando.

“Kaum muslimat di Indonesia baru berjilbab sejak masuknya paham Wahabi, konservatisme Islam, ada gagasan negaran Islam, ada khilafah, dan seterusnya,” sambungnya.

Baca Juga: Demi Citra Jokowi, Ade Armando dan Eko Kuntadhi Kompak Minta...

Kendati demikian, pengamat politik ini menegaskan bahwa pernyataannya tersebut tidak bermaksud menyudutkan kaum muslimat yang berjilbab.

Tetapi menurutnya, berjilbab merupakan soal keyakinan dan preferensi yang tidak bisa dipaksakan kepada setiap orang.

“Saya tidak ingin mengatakan berjilbab itu salah atau terbelakang. Tapi berjilbab adalah soal keyakinan dan bahkan soal preferensi. Berjilbab tidak punya korelasi dengan kualitas dan integritas,” tegas Ade Armando.

“Berjilbab adalah gaya berpakaian yang tidak ada standar absolutnya. Bahkan ulama besar lulusan Al Azhar, Mesir seperti Profersor Doktor Quraish Shihab tidak menganggap berjilbab itu wajib bagi muslimat. Lihat saja putrinya, Najwa Shihab,” tambahnya.

Mengutip Hops.id, Ade Armando dalam videonya tersebut juga memberikan pandangannya soal aturan kewajiban memakai jilbab di sekolah.

Menurut Ade, kewajiban menggunakan jilbab tidak masalah bila diberlakukan di sekolah bercorak Islam seperti madrasah ataupun pondok pesantren. Namun yang terjadi di Padang dilakukan di sekolah negeri yang operasionalnya didanai dari uang rakyat.

Kasus tersebut, kata Ade Armando, merupakan masalah yang cukup serius, lantaran membuktikan masih adanya penindasan hak beragama dan bekeyakinan di Indonesia.

“Kalau kewajiban berjilbab ini dilakukan di sekolah Islam seperti madrasah dan pesantren, tentu bisa diterima, tapi kalau kewajiban ini dilakukan di sekolah negari yang dibiayi rakyat, ini jelas persoalan serius. Kejadian di SMKN Padang itu menjadi penting karena menunjukkan adanya penindasan hak beragama dan berkeyakinan di Indonesia,” ujarnya.

Bagikan