Soal Polemik 212 Mart, Saidiman Menyebutnya Penjual Agama: Ahok Sudah Ingatkan, Jangan Mau Ditipu Pakai Ayat!

Terkini.id, Jakarta – Pengamat kebijakan publik, yakni Saidiman Ahmad, menyoroti polemim dugaan investasi bodong Komunitas Koperasi Syariah 212 Mart di Samarinda, Kalimantan Timur.

Menurutnya, kasus tersebut merupakan contoh orang-orang yang ‘menjual’ agama atau disebut juga dengan penipu yang menggunakan agama.

“Ini yang dimaksud para penjual agama. Bisa juga disebut para penipu menggunakan agama,” tulis Saidiman dalam akun media sosial Twitter-nya, dikutip terkini.id pada Kamis, 6 Mei 2021.

Baca Juga: Singgung Vonis Habib Rizieq, Netizen Ungkit Ucapan Ahok: Ulama Lawan...

Dari kasus dugaan penipuan dan penggelapan investasi 212 Mart yang kini menjadi perbincangan hangat, Saidiman mengingat pernyataan mantan Gubernur DKI Jakarta, yaitu Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok soal ‘jangan mau ditipu pakai ayat’.

“Ahok sudah mengingatkan, jangan mau ditipu pakai ayat,” pungkasnya. 

Baca Juga: Usulkan Duet Ganjar Pranowo dan Ahok, Netizen: Lebih Baik Daripada...

Sebelumnya diberitakan sejumlah warga mempolisikan pengurus Komunitas Koperasi Syariah 212 di Samarinda karena diduga melakukan penipuan dan penggelapan dana investasi untuk pendirian 212 Mart.

Adapun kerugian yang dialami warga berjumlah cukup fantastis, yaitu ditaksir mencapai lebih dari Rp2 miliar.

Saat ini polisi pun mulai menyelidiki laporan dugaan investasi bodong Koperasi Syariah 212 Mart di Samarinda.

Baca Juga: Setuju Ahok Tak Cocok Jadi Komut, Alifurrahman: Cocoknya Menteri BUMN

Menurut laporan, anggota Koperasi Syariah 212 Mart disebut diiming-imingi bisnis untuk kemajuan umat.

Sebagai informasi, Koperasi Syariah 212 Mart adalah sebuah koperasi yang lahir dari Aksi 212 pada 2016 lalu.

Aksi tersebut dipicu oleh ucapan Ahok yang menyinggung surat Al Maidah saat berkunjung ke Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu.

Sebagaimana dikutip terkini.id dari Netralnews pada Kamis, 6 Mei 2021, kala itu Ahok berkata seperti berikut:

“Jadi, jangan percaya sama orang, kan bisa saja dalam hati kecil Bapak-Ibu nggak bisa pilih saya ya kan? Dibohongi pakai Surat Al-Maidah 51, macam-macam itu. Itu hak Bapak-Ibu ya,” ujarnya.

“Jadi, kalau Bapak-Ibu perasaan enggak bisa kepilih nih, karena saya takut masuk neraka karena dibodohin gitu ya, enggak apa-apa”.

Lantaran pernyataan tersebut, Ahok pun akhirnya dipolisikan atas dugaan penistaan agama.

Sejumlah elemen kemudian menggelar Aksi Bela Islam secara beruntun menuntut Ahok ditangkap dan dipenjarakan.

Puncaknya adalah Aksi Bela Islam III pada 2 Desember 2016 silam (2/12/2016) yang kemudian disebut Aksi 212.

Buntutnya, Ahok lantas disidangkan di Pengadilan Negeri Jakarta Utara dan pada 9 Mei 2017, mantan Bupati Belitung Timur itu divonis 2 tahun penjara karena Hakim menyatakan ua terbukti bersalah melakukan penodaan agama.

Setelah Ahok dipenjara, pihak-pihak yang terlibat dalam Aksi 212 membentuk berbagai organisasi dengan embel-embel 212, seperti Alumni 212, Presidium Alumni 212, Persaudaraan Alumni 212, hingga dibentuknya Koperasi Syariah 212.

Koperasi Syariah 212 memiliki komunitas 212 dan 212 Mart yang sudah banyak tersebar di berbagai daerah.

Dilansir dari Wikipedia, Koperasi Syariah 212 digagas oleh Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI), organisasi yang menjadi inisiator Aksi 212 pada 2016 lalu.

Diketahui, GNPF-MUI yang awalnya dipimpin oleh Ustaz Bachtiar Nasir, telah berganti nama dan kepengurusan menjadi GNPF-Ulama yang diketuai oleh Ustaz Yusuf Muhammad Martak. Dalam organisasi itu, Habib Rizieq Shihab (HRS) menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina.

Bagikan