Suku ini punya tradisi unik, menculik anak gadis untuk dinikahi

Suku muslim ini punya tradisi menculik anak gadis untuk dinikahi. (Foto/iyakan.com)

Terkini.id, – Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan keragaman budaya. Ada lebih dari 1.000 suku bangsa tersebar di nusantara, dan tiap suku memiliki keunikan tradisi serta budayanya masing-masing.

Salah satu budaya unik dan menarik yang dimiliki oleh Indonesia adalah tradisi pernikahan Suku Sasak di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Meski dikenal sebagai pulau dengan mayoritas penduduk muslim, ada sebagian masyarakat Lombok yang masih mempertahankan tradisi lama. Terutama mereka keturunan asli Suku Sasak.

Gadis-gadis Suku Sasak

Jika di daerah lain menculik gadis untuk menikah merupakan tindakan yang melanggar norma bahkan hukum, tidak bagi para pemuda Suku Sasak Lombok.

Di sini, para pemuda Suku Sasak malah berlomba-lomba untuk menculik anak gadis yang dicintainya. Ritual seperti ini biasa disebut sebagai ‘kawin culik’.

Dilansir dari liputan6, Jika ada wanita yang disukai oleh salah satu pria di suku Sasak, maka sang pria harus menculik wanita tersebut. Setelah diculik, wanita akan dibawa ke rumah keluarga si pria.

Setelah itu, pihak keluarga pria akan menghubungi keluarga wanita, untuk memberitahu bahwa ingin meminang anak perempuannya.

Setelah keduanya saling setuju, pernikahan pun akan dilakukan. Tradisi menculik pasangan ini dipercaya berasal dari sebuah mitos.

Konon terdapat putri raja yang sangat cantik, dan raja pun memberi tantangan. Bagi siapapun yang dapat menculik putri, maka orang tersebut akan dinikahkan dengan putri raja.

Suku Sasak memiliki tradisi ‘Kawin Culik’

Saking cantiknya putri Raja, semua pria suka padanya dan bersaing untuk melamarnya. Maka sang raja mendirikan sebuah kamar dengan sistem penjagaan yang sangat ketat. Mitos inilah yang masih dipercayai dan turun menurun di suku Sasak.

 

Kata Sasak berasal dari kata sak-sak, artinya satu-satu. Kata sak juga dipakai oleh sebagian suku Dayak di pulau Kalimantan untuk mengatakan satu.

Suku ini juga dikenal pintar membuat kain dengan cara menenun, dahulu setiap perempuan akan dikatakan dewasa dan siap berumah tangga jika sudah pandai menenun.

Tradisi menenun Suku Sasak

Menenun dalam bahasa orang Sasak adalah ‘Sesek’. Kata sesek berasal dari kata sesak, sesek atau saksak. Sesek dilakukan dengan cara memasukkan benang satu persatu (sak sak), kemudian benang disesakkan atau dirapatkan hingga sesak dan padat untuk menjadi bentuk kain dengan cara memukul-mukulkan alat tenun.

Uniknya suara yang terdengar ketika memukul mukul alat tenun itupun terdengar seperti suara sak sak dan hanya dilakukan dua kali saja.

Tradisi menenun Suku Sasak

Itulah asal kata sasak yang kemudian diambil sebagai nama suku Sasak di pulau Lombok ini. Orang suku Sasak yang mula-mula mendiami pulau Lombok menggunakan bahasa Sasak sebagai bahasa sehari hari.

Bahasa Sasak sangat dekat dengan bahasa suku Samawa, Bima dan bahkan Sulawesi, terutama Sulawesi Tenggara yang berbahasa Tolaki.

Berita Terkait
Komentar
Terkini