Sultan Alauddin, Sang Penyebar Islam di Sulsel

Ilustrasi

Terkini.id – Sultan Alauddin yang menjabat sebagai Raja Gowa di usia tujuh tahun merupakan salah satu tokoh yang sangat berpengaruh terhadap penyebaran agama Islam di Sulsel.

I Manga’rangi Daeng Manrabbia dinobatkan sebagai Raja Gowa XIV di usia yang masih tergolong muda, yaitu tujuh tahun. Karena belum dewasa, maka I Manga’rangi Daeng Nyonri Karaeng Katangka atau Karaeng Matowaya selaku Raja Tallo, yang juga mengkubumi Kerajaan Gowa saat itu, untuk menjalankan roda pemerintahan.

Islam sebagai Agama Kerajaan

Selama masa pemerintahannya, penyebaran agama Islam yang dibawa oleh Dato ri Bandang dari Minangkabau, diterima baik di Gowa dan menjadikan Islam sebagai agama kerajaan di Butta Gowa. Penyebaran agama Islam ini diikuti oleh masuknya I Manga’rangi ke dalam agama Islam.

Setelah memeluk Islam, I Manga’rangi mendapat gelar Islam yakni Sultan Alauddin. Sebelum Islam masuk, para raja di Sulawesi Selata membuat perjanjian yang isinya: “Barang siapa yang menemukan suatu jalan kebenaran dan bajik, maka ia berjanji untuk memberitahu jalan kebenaran dan bajik tersebut terhadap raja-raja lainnya”. Dan Islam dianggap jalan yang terbaik, maka tugas Sultan Alauddin adalah menyampaikan kepada raja-raja lainnya.

Namun perjanjian itu banyak yang disepelekan oleh raja-raja di Sulsel. Sultan Alauddin yang menjadikan Gowa sebagai pusat penyebaran agama Islam di wilayah timur Nusantara ini terus mengembangkan Islam, baik secara damai maupun perang.

Perang Islam

Beberapa kerajaan di daerah Bugis seperti Bone, Wajo, Soppeng, Sidenreng, dan lainnya menolak keras ajakan raja Gowa. Akibat penolakan itu, raja Gowa terpaksa angkat senjata dan mengirim bala tentara ke daerah itu.

Tahun 1608, beberapa pasukan gabungan kerajaan Bugis itu mengalahkan Gowa, namun setahun berikutnya semuanya, berhasil ditundukkan dan bersedia menerima Islam sebagai agama kerajaan mereka. Perang Islam di tanah Bugis saat itu disebut Musu Assellengeng (Perang Islam).

Roda perekonomian dan perdagangan Gowa di tangan Sultan Alauddin dan I Mallingkaang berkembang pesat. Hal tersebut karena Dermaga Somba Opu berubah menjadi dermaga Internasional yang telah banyak didatangi oleh pedagangan dari luar negeri seperti Portugis, Belanda, Inggris, Spanyol.

Kedatangan orang Belanda di tanah Gowa tak hanya berdagang semata, mereka ingin melakukan monopoli perdagangan. Bujukan Belanda terhadap Raja Sultan Alauddin untuk bersedia melakukan kerja sama ditolak mentah-mentah oleh beliau. Penolakan raja Gowa ini menimbulkan perlawanan dari pihak Belanda.

Menolak Belanda

Meskipun dihadapan dengan permusuhan Belanda, namun Sultan tetap berupaya memperluas wilayah kekuasaannya serta menyebarkan agama Islam.

Kemudian Sultan juga berhasil menguasai Maros, Pangkajene, Labbakkang, Segeri, dan beberapa daerah sekitarnya. Bahkan prajurit Kerajaan Gowa berhasil menguasai Manado, Gorontalo, dan Tomini.

Sekitar tahun 1627-1630, armada perang Kerajaan Gowa membantu rakyat Maluku untuk membebaskan mereka dalam cengkaman Belanda yang telah banyak memusnahkan pohon cengkeh, dan melakukan penyiksaan terhadap masyarakat di sana.

Setelah sekian lama memerintah Kerajaan Gowa, Sultan Alauddin wafat pada 15 Juni 1639, setelah 45 tahun lamanya mengendalikan pemerintahan. Beliau mendapat gelar Tumenanga ri Gaukanna (Yang Mangkat dalam Keagungan).

Penulis : Ambun P. Bara’ Allo

Berita Terkait
Komentar
Terkini