Supaya Tidak Salah, Penggunaan Istilah Difabel dan Disabilitas Ini Perlu Anda Ketahui

penyandang disabilitas di pilkada

Terkini.id – Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PerDIK) Sulawesi Selatan merilis istilah berkaitan difabel dan disabilitas yang perlu diketahui oleh jurnalis atau penulis. Mengingat masih ada sejumlah jurnalis dan penulis kesulitan menggunakan istilah-istilah terkait difabel dan isu-isu disabilitas dalam pemberitaan maupun tulisannya.

PerDIK menguraikan sejumlah istilah yang bisa digunakan dalam penulisan. Seperti di bawah ini :

1.Difabel

Merujuk kepada orang yang berbeda kemampuan berdasarkan kondisi tubuh, alat bantu, dan tingkat aksesibilitas di lingkungan sosial sekitarnya.

2.Difabilitas

Merujuk kepada hal-hal terkait dengan dunia difabel. Misalnya isu-isu difabilitas, perspektif difabilitas . Dalam konteks tertentu, ketika istilah ini masih ragu untuk digunakan, bisa tetap merujuk kepada istilah dalam bahasa Inggris, seperti ‘disabilitas’ (asal kata disability).

3.Difabel Kinetik

Merujuk kepada orang dengan berbeda kemampuan bergerak/mobilitas. Istilah spesifik bisa dipakai sejumlah istilah yang merujuk kepada aspek mediknya (jika dibutuhkan, misalnya dengan merujuk kepada orang dengan CP (cerebral palsy), orang dengan polio, orang dengan Paraplegia, orang dengan Spinal Cord Injury dan seterusnya.

Tetapi, bagi PerDIK, jika tidak diperlukan menjelaskan soal aspek medik terhadap tubuh seseorang, maka tidak perlu mengulas jenis penyakitnya. Cukup menyebut saja difabel kinetik. Ini semisal pemberitaan soal tokoh nasional yang misalnya dia mengidap penyakit jantung, tetapi dalam pemberitaan tidak harus mengupas soal penyakit jantungnya.

Jika diperlukan cukup menyebut orang dengan kelainan fungsi jantung, hati, ambeien dan seterusnya.

Jika ia menggunakan kursi roda atau alat bantu lainnya (brisc, tongkat, kruk, dan lainnya) bisa disebutkan bahwa ia juga pengguna kursi roda dalam menjalankan aktivitasnya. Ingat, tidak sepanjang hari ia duduk di kursi roda. Biasanya hanya saat bergerak jauh.

4.Difabel Penglihatan

Merujuk kepada buta dan Lowvision. Bisa langsung dengan istilah buta, jika tidak melihat keseluruhan/totally blind. Lowvision jika tidak buta total. Untuk Lowvision ada banyak kategori mediknya, yang tidak perlu dijelaskan jika tidak perlu.

5.Difabel Komunikasi

Merujuk kepada orang dengan berbeda kemampuan dalam berbahasa atau berkomunikasi. Bisa merujuk langsung kepada istilah tuli. Dengan huruf T besar, jika merujuk kepada komunitas dan identitas sosial. Atau tuli dengan t kecil jika merujuk kepada gangguan fungsi pendegaran atau medik.

Atau menggunakan istilah HoH (Hard of Hearing) atau Kesulitan pendengaran, atau merujuk kepada istilah bisu, jika hanya tidak bisa bicara tapi bisa mendengar. Jika tuli dapat berbahasa isyarat, maka bisa disebutkan bahwa ia bisa berkomunikasi dengan bahasa isyarat (SIBI atau Bisindo, atau bahasa isyarat Ibu).

6.Difabel Intelektual, difabel mental, Difabel Mental-intelektual

Istilah ini merujuk kepada orang dengan gangguan kejiwaan (ODGJ), Down-syndrom (Orang dengan kadar intelektual berdasarkan hasil tes di bawah rata-rata).

Orang yang memiliki dua sistem usia. Usia mental dan usia kalender. Dimana usia mental hanya sampai 9 tahun, walau usia tubuh bisa mencapai lebih dari 10 tahun.

Orang yang memiliki kesulitan belajar (learning difficulties) atau dalam istilah medis (learning disabilities).

7.Tidak menggunakan beberapa istilah yang rancu

Misalnya menulia ‘Penyandang Difabel’. Istilah ini sering dipakai jurnalis media dan penulis lepas. Jika mau pakai kata istilah ‘penyandang’, maka keterangannya adalah disabilitas, atau penyandang disabilitas. Istilah ini adalah istilah yang dipakai dalam regulasi (UU, PP, dan lainnya).

Walaupun dalam sejumlah peraturan di tingkat provinsi, kabupaten/kota adapula yang memakai Difabel.

8.Bagi penulis yang ingin memakai istilah berdasarkan ketentuan UU Penyandang Disabilitas No. 8 tahun 2016, maka gunakanlah sesuai ketentuan yang telah dipakai dalam regulasi tersebut.

9.Tidak menyebutkan aneka macam istilah kesehatan yang merujuk kepada penyakit seseorang. Jika ini bukan tulisan soal kesehatan, maka tak perlu membahas aspek medik.

Jika misalnya ini soal transporatasi publik berbasis daring, maka fokuslah kepada sistem dan desain sistem yang menghambat difabel, misalnya perilaku buruk si pelaku, model pelayanan yang tidak sensitif difabel, sistem keamanan yang tidak dipertimbangkan pengembang bisnis transportasi ini, dan lainnya.

Jadi ketidakmampuan seseorang bagi PerDIK—terkait difabel, adalah pada aspek di luar tubuh (body) atau diri (self) difabel.

10.Istilah-istilah lain yang belum didapat, akan ditentukan kemudian.

 

Demikian, terima kasih.

 

Salam inklusi,

PerDIK Sulsel

Komentar

Rekomendasi

Pria Sidrap Bunuh Istri Sirinya karena Cemburu, Mayat Dibungkus Karung

Negara Ini Simpan Jenazah Pasien Corona di Dalam Kulkas, Ini Alasannya

Tiga Bocah di Bandung Barat Sempat Terlantar di RS karena Kedua Ortunya Terpapar Corona

NU dan Muhammadiyah Imbau Salat Tarawih dan Idul Fitri di Rumah Saja, Tiadakan Halal-bihalal

Terus Bertambah, Jumlah Pasien Sembuh Corona di Sulsel Jadi 35 Orang

Corona Mengalir Sampai Jauh, Ini 15 titik Penyebaran Covid-19 di Indonesia yang Perlu Anda Tahu

Tak Ada APD, Perawat Ini Terpaksa Komunikasi dengan Pasien Lewat Grup WA

BMKG Rilis Kondisi Suhu dan Kelembaban Udara yang Disukai Virus Corona

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar