Tak Hanya Corona, Ternyata Kelelawar Juga Penyebar Virus Ini

Penelitian di Tiongkok menilai, virus corona berasal dari kelelawar. Ada juga yang menduga inang virus berasal dari ular. Namun, mengambil pengalaman dari virus SARS yang pertama kali muncul di Guangdong, Tiongkok pada November 2002 lalu, inang virus berasal dari musang. / Istimewa

TERKINI.id – Tak Hanya Corona, Ternyata Kelelawar Juga Penyebar Virus Ini. Merebaknya virus corona di Wuhan, Hubei, Tiongkok diprediksi berasal dari hewan liar yang dijual di pasar makanan laut (seafood market) yang terletak di pusat Kota Wuhan.

Pasar makanan itu tidak hanya menjual hasil laut, tetapi juga binatang liar yang dijadikan makanan ekstrim seperti kelelawar, ular, burung merak, landak daging unta, hingga musang.

Penelitian di Tiongkok menilai, virus corona berasal dari kelelawar. Ada juga yang menduga inang virus berasal dari ular. Namun, mengambil pengalaman dari virus SARS yang pertama kali muncul di Guangdong, Tiongkok pada November 2002 lalu, inang virus berasal dari musang.

Virus yang sudah menyebar di 10 negara ini, merupakan virus corona baru dengan kode 2019-nCov. Virus Corona juga merupakan biang penyebab SARS.

Kemuculan Corona baru dan SARS ini tidak terlepas dari kebiasaan masyarakat Tiongkok yang suka memakan hewan liar. Hal ini lantaran warga di sana menganggap hawan liar lebih bergizi dibanding hewan ternak.

Menarik untuk Anda:

Selain corona, berikut virus yang ditularkan dari kelelawar:

Kelelawar penyabab wabah nipah henipavirus di Malaysia

Virus nipah yang merupakan jenis virus RNA, dapat menular ke manusia dengan kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi. Hewan yang menjadi inang virus tersebut adalah kelelawar pemakan buah dari keluarga Pteropodidae.

Kasus infeksi virus nipah pertama kali diidentifikasi di sebuah desa bernama sungai Nipah di Malaysia pada 1998 yang menjangkit peternak babi. Hal inilah yang membuat virus tersebut diberi nama “nipah”.

WHO menerima laporan adanya virus hewan menyebar ke manusia yang terjadi di Malaysia pada 1999.

Atas kejadian tersebut, sebuah penelitian menjelaskan penularan virus nipah dari kelelawar ke manusia melalui perantara babi. Buah yang tak habis dimakan kelelawar jatuh ke tanah dan dimakan babi. Para peternak menjadi orang pertama yang tertular karena melakukan kontak langsung dengan ternak yang terkontaminasi virus.

Wabah berikutnya terjadi di Banglades dan India. Di India penyebaran virus nipah dari kelelawar ke manusia lantaran meminum cairan nira langsung dari sadapan pohon kurma yang ditengarai sudah terkontaminasi urin atau kotoran kelelawar. Dampak wabah virus nipah menyebabkan18 pasien meninggal dunia di Kerala, India.

WHO melansir, 75 persen penularan virus nipah antara manusia dengan manusia di India terjadi pada keluarga, perawat, dan dokter yang menangani pasien infeksi virus nipah hingga pengunjung rumah sakit.

Serupa India, kasus penyebaran kasus wabah virus nipah di Banglades dari 2001 hingga 2008, setengahnya menyerang petugas kesehatan yang merawat pasien terinfeksi.

Sebuah catatan mengemukakan, sejak ditemukan pada 1998 di Malaysia hingga Mei 2018, diperkirakan telah terjadi sekitar 700 kasus virus nipah yang menjangkiti manusia. Sebanyak 50 hingga 75 persen yang terinfeksi telah meninggal dunia.

Dalam suatu sosialisasi penyakit zoonosis, virus nipah memiliki masa inkubasi selama empat hingga 18 hari dengan gejala klinis antara lain radang saluran pernapasan dan batuk menyerupai influenza, demam tinggi mendadak, dan nyeri otot. Jika kondisi sudah semakin parah, penderita akan mengalami peradangan otak (encephalitis) dengan disertai pusing, mual dan muntah, disorientasi, serta konvulsi. Tanda-tanda dan gejala dapat berkembang menjadi koma dalam waktu 24 hingga 48 jam.

Kelelawar Juga Inang dari virus ebola

Virus ebola pertama kali diketahui pada 1976 di kawasan Sudan Selatan, desa Yambuku di Republik Demokratik Kongo (RDK), terjadi di dekat sungai Ebola di RDK. Dari sini nama ebola diambil dan dari RDK jugalah penyebaran virus ebola dimulai.

Dalam catatan WHO, pada 2014-2016 Afrika Barat menjadi daerah yang terjangkit wabah ebola terbesar sejak virus pertama kali ditemukan pada 1976. Wabah dimulai di Guinea, kemudian pindah melintasi perbatasan darat ke Sierra Leone dan Liberia.

Penyebaran virus ini juga dibantu migrasi kelelawar dari RDK ke negara-negara sekitar. Diperkirakan, kelelawar buah dari keluarga Pteropodidae adalah inang virus ebola.

Ebola masuk ke manusia karena adanya kontak langsung dengan hewan kotoran yang terinfeksi. Peluang terbesar terjangkit ebolal lantaran adanya tubuh terbuka atau luka yang menyentuh kotoran atau urin kelelawar.

Penyebaran dari manusia ke manusia bisa terjadi pada keluarga dan petugas medik yang merawat pasien. Jenasah yang terkontaminasi ebola juga bisa menjadi media untuk menularkan pada pelayat yang berkontak langsung.

Masa inkubasi virus ebola hingga timbulnya gejala, yaitu dua hingga 21 hari. Seseorang yang terinfeksi ebola tidak dapat menyebarkan penyakit sampai mereka mengalami gejala, demam, nyeri otot, sakit kepala, sakit tenggorokan, selanjutnya disertai muntah-muntah, diare, gangguan fungsi hati dan ginjal. Dalam beberapa kasus, terjadi perdarahan internal dan eksternal. Misalnya, pendarahan gusi atau darah di tinja.

Catatan WHO pada 1976 di RDK, dari 318 kasus 280 orang terinfeksi meninggal akibat virus ebola. Di tahun yang sama di Sudan, 151 meninggal dari 284 kasus terinfeksi ebola.

Pada 2014 hingga 2015, kasus ebola terjadi di luar benua Afrika dan ditemukan di Amerika Serikat (AS) pada 2014 dengan empat kasus dan satu meninggal. Selanjutnya, di Inggris pada 2014 dengan satu kasus, Spanyol dengan satu kasus, dan Italia pada 2015 dengan satu kasus.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Kakek Kepergok Sekamar Bareng Mahasiswi Cantik, Diduga Habis Berhubungan Badan

Staf Sekolah Pasang Kamera Tersembunyi di Toilet, Puluhan Guru Mengamuk

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar