Tari Maranding, tarian perang untuk menghormati jenazah di Toraja

Tari Ma'randing

MAKASSARTERKINI.com – Tari Ma’randing (tari perang) biasanya dipentaskan dalam upacara kematian Rambu Solo’ di Toraja. 

Menurut Peneliti Bidang Sejarah Sulawesi Selatan (Sulsel) Simon Siru’a Sarapang, dahulu tarian Ma’randing diadakan untuk memberi semangat orang-orang yang akan berangkat perang. “Selain itu juga memuji keberanian orang yang telah ikut berperang,” kata Simon.

Dalam Rambu Solo’, tari Ma’randing dipentaskan untuk memuliakan keberanian orang yang meninggal ketika masih hidup. Simon menjelaskan tari Ma’randing hanya dipentaskan bagi jenazah kaum laki-laki. “Sebab dulu hanya kaum laki-laki yang pergi berperang,” tuturnya.

Tarian Ma’randing dipentaskan oleh dua hingga empat kaum laki-laki. Jumlah ini sesuai dengan persiapan penyelenggara pesta. “Bisa juga dalam jumlah massal,” kata Simon. 

Simon menyebutkan laki-laki yang ikut prosesi tarian Ma’randing harus memiliki jiwa pemberani, kuat, dan tangguh untuk mencerminkan pribadi orang yang telah meninggal. 

Tarian ma’randing tidak diiringi alat musik. Suara-suara pemberi semangat berasal dari teriakan-teriakan para penari yang disebut kumalasi. 

Setiap teriakan dalam tarian merupakan aba-aba untuk mengganti gerak sekaligus penambah semangat dalam menari. Teriakan keras dalam tarian ini biasanya menggunakan huruf “a” dam “oi” yang diberi penekanan dan irama khas.

Tarian ma’randing dipentaskan ketika para tamu yang hadir berjalan memasuki pondo-pondok yang disediakan. “Para penari akan berada di depan rombongan tamu selama menari,” ujar Simon.

Tarian ini, kata Simon juga berfungsi menunjukkan jalan bagi para tamu.

Debra Ayudhistira

Berita Terkait
Komentar
Terkini