Masuk

Tarif Cukai Tembakau Akan Dinaikkan Pemerintah, Pengamat: Kehidupan SKT Niscaya Akibatkan Masalah Sosial!

Komentar

Terkini id, Jakarta – Seorang pengamat ketenagakerjaan Aloysius Uwiyono dari Universitas Indonesia belum lama ini menyoroti keputusan Sri Mulyani Indrawati.

Diketahui hal tersebut terjadi lantaran, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati akan menaikan tarif cukai hasil tembakau pada 2023 mendatang, khususnya pada sektor sigaret kretek tangan (SKT) yang padat karya, dinilai sangat memberatkan. 

Lantas hal tersebut, Pengamat menilai kenaikan itu bisa mengancam karir para pekerja.

Baca Juga: Puan Ucapkan Sehat Terus ke SBY, Begini Komentar AHY

Aloysius Uwiyono dari Universitas Indonesia mengungkapkan, pemerintah perlu mempertimbangkan kelangsungan sektor padat karya sebelum menetapkan kebijakan cukai.

“Sudah tentu pemerintah wajib mempertimbangkan kehidupan para pekerja SKT (Sigaret Kretek Tangan). Apalagi, lebih banyak didominasi kaum wanita dengan pendidikan yang terbatas. Kenaikan tarif cukai SKT niscaya mengakibatkan masalah sosial,” ungkap Aloysius di Jakarta. Dikutip Terkini.id dari Jaringan Suara.com. Kamis, 6 Oktober 2022.

Selain dari itu Kondisi pekerja SKT, istilah Aloysius, memang wajib dijadikan menjadi pertimbangan. Dengan begitu, pemerintah sudah melindungi para pekerja yang bertahan hidup lewat industri padat karya.

Baca Juga: Siap-siap, Pemerintah Naikkan Tarif Cukai Rokok 10 Persen

Sementara itu, Rahmad Handoyo Anggota Komisi IX DPR Fraksi PDIP mengungkapkan, rencana kenaikan tarif Cukai Hasil Tembakau (CHT) dalam SKT wajib mengedepankan asas kehati-hatian.

“Keinginan pemerintah buat mengendalikan konsumsi tembakau bisa dipahami, namun khusus padat karya wajib dilindungi supaya kenaikan tarif cukai tidak mengakibatkan gejolak di kalangan para pekerja SKT dan petani, lantaran hidup mereka juga bergantung dari hasil tembakau” terang Rahmad.

Rahmad mengungkapkan memang perlu keseimbangan dalam pengendalian tembakau. Akan tetapi, pemerintah perlu melihat bahwa keputusan kenaikan tarif CHT, terutama dalam segmen padat karya, akan mengganggu kinerja industri, khususnya buruh tani dan pekerja SKT.

“Aspek kesehatan tak serta-merta jadi alasan utama. Keberadaan petani tembakau dan para pekerja SKT juga aspek lain yang wajib dipertimbangkan. Pemerintah perlu berpikir jernih dan komprehensif sebelum memberikan keputusan,” kata dia.

Baca Juga: Sri Mulyani Sebut Dunia Akan Alami Resesi di Tahun 2023

Rahmad juga menambahkan apabila pada akhirnya keputusan kenaikan tarif CHT tidak bisa nol persen, setidaknya jangan mengganggu kelangsungan hidup pekerja pada segmen padat karya.

“Khusus SKT yang merupakan industri rokok yang diproduksi menggunakan tangan – tangan pekerja IHT. Jika kenaikannya signifikan, tentu ini akan berpengaruh dalam kelangsungan industri tadi lantaran padat karya. Untuk itu, pemerintah perlu menimbang adanya potensi PHK dan lainnya,” ungkapnya.