Teknoliterasi, ‘pendekar’ penyelamat negeri

Terkini.id – Teknoliterasi berbasis kecerdasan literasi, kecerdasan ilahi, hati semesta berpotensi mencerahkan negeri. Tanpa nurani dan Ilahi, teknologi dan literasi pasti “mati”.

Dunia semakin lama semakin maju. Sementara tanpa nilai-nilai kemanusiaan dan keilahian, teknologi seolah menjadi semakin semu. Manusia tanpa keduanya seperti perjalanan waktu yang pasti akan berlalu. Kecanggihan teknologi tanpa kesadaran dan kecerdasan literasi yang paripurna, hanya melahirkan manusia yang tak tahu malu dengan “beribu mau”.

Manusia modern di era digital-milenial ini semakin banyak yang lupa diri, lupa sesama, lupa lingkungan, bahkan lupa Tuhan.

Dengan kecanggihan teknologi nirliterasi, mereka terbelenggu oleh berbagai fantasi dan ilusi, sehingga tidak lagi menemukan potensi dan jatidiri.

Padahal, literasi sejati mampu mengantarkan manusia menemukan Ilahi, sumber kebahagiaan hakiki di muka bumi. Literasi sejati berbasis pada kebenaran, moral, etika, serta nilai-nilai universal maknawi. Singkatnya, perpaduan imanen dan transenden, harmonisasi surgawi dan duniawi.

Teknologi memang tidak dapat dipisahkan dari literasi. Keduanya ibarat sahabat karib yang takkan terpisahkan, ibarat kekasih yang sehidup-semati. Literasi tanpa teknologi akan menghasilkan manusia yang tertinggal dari peradaban.

Teknologi tanpa “literasi” menghasilkan manusia yang hanya berorientasi pada keduniawian, hanya mengejar kemegahan dan kemewahan sehingga melupakan kebenaran.

Dalam ranah akademis maupun empiris, keduanya perlu berpondasikan pada nilai-nilai Pancasila, humanisme, nasionalisme, religiusitas, spiritualitas, dan integritas. Jadi bukan sekadar terpaku pada formalitas.

“Literasi” di sini tentu dapat dimaknai secara luas, yakni membaca dan memahami buku kehidupan dan semesta yang tak terbatas. Bukankah semesta merupakan “guru” yang paling ikhlas? Ia selalu memberi tanpa pernah mengharap untuk dibalas.

Teknoliterasi memerlukan beberapa “tiang dan pondasi dasar” demi kejayaan bangsa dan kemajuan peradaban. Di antaranya, kecerdasan literasi, kesadaran ilahiah, kepedulian sesama dan lingkungan, “hati semesta” alias hati yang penuh Cintakasih, serta keberlanjutan yang dilandasi integritas, pengabdian, serta kesetiaan pada kebenaran. Tanpa nilai-nilai itu, teknoliterasi hanya menjadi simulakra dan simalakama yang membawa umat manusia kepada kehancuran.

Kecerdasan literasi

Kecerdasan literasi adalah perpaduan softskills dan hardskills di dalam menghadapi dilema dan problematika kehidupan sehingga menemukan solusi dan inovasi tepat yang membawa kesejahteraan bagi umat manusia.

Seseorang dengan kecerdasan literasi tinggi pasti lihai membaca situasi, memahami pelbagai fenomena kehidupan, mampu memaksimalkan potensi dan kelemahan diri sendiri, beradaptasi cepat dengan perubahan, mengatasi disrupsi secara arif-bijaksana, senantiasa mampu bersinergi-berkolaborasi demi perubahan dan kebaikan bersama.

Kecanggihan teknologi tanpa kecerdasan literasi merupakan tragedi terbesar penghancur kemanusiaan.

Contoh insan berkecerdasan literasi tinggi adalah para Nabi, Rasul, pemuka agama, ruhaniawan, cendekiawan, guru bangsa, tokoh pemuda, dan para pemimpin yang berhasil mengubah dunia melalui “mahakarya” mereka.

Boleh jadi di antara mereka tidak populer di bumi, namun nama mereka dikenal oleh penduduk samawi [langit].

Kesadaran ilahiah

Kesadaran ilahiah berawal dari mengenali diri. Kenalilah dirimu, maka engkau akan mengenali siapa Tuhanmu.

Kesadaran ilahiah ini merupakan kesadaran tertinggi manusia, bahwa dirinya berasal dari Allah, dijadikan sebagai khalifah di muka bumi oleh Allah, senantiasa bersama dan diawasi oleh Allah, dan pasti kembali menghadap Allah.

Teknoliterasi berbasis kesadaran Ilahiah mampu melahirkan pemimpin besar dunia yang berintegritas.

Teknoliterasi nirkesadaran Ilahiah hanya mampu menghadirkan wacana tak terbatas dan tak berkelas. Oleh karena itu, integrasi antara teknoliterasi dan kesadaran Ilahiah diharapkan mampu menghadirkan kedamaian serta dapat menyejahterakan manusia.

Menghadirkan keindahan sekaligus kesejatian di dalam keseharian. Karena keindahan tanpa kesejatian, ibarat langit tanpa bintang dan lautan tanpa ikan.

Hati semesta

Hati adalah kunci. Kunci perilaku, perkataan, kebiasaan manusia. Bila hati seseorang mulia, maka tutur katanya penuh kelembutan dan kebijaksanaan.

Hati semesta adalah konsep makrokosmos dalam mikrokosmos. Mirip dengan konsep Yin dan Yang serta Cakra Manggilingan (roda kehidupan).

Dengan kata lain, dunia luar hanyalah persepsi dan imajinasi. Dunia dalam diri sendiri itulah yang hakiki dan sejati.

Sehingga seringkali kita mengetahui, meskipun hanya sedikit yang menyadari, bahwa kebahagiaan itu tak terbeli karena berada di hati dan bermula dari dalam diri sendiri.

Teknoliterasi berbasis hati semesta menyiratkan keseimbangan dan keharmonisan dalam simulakra kehidupan. Hati semesta merupakan simbolisasi-harmonisasi dari kehidupan-hidup sehat, serasi, selaras, serta seimbang.

Tidak ada yang abadi di muka bumi. Manusia pun akhirnya mati. Namun, tidak demikian dengan teknoliterasi. Di era digitalisasi, ia “abadi” dan membumi.

Teknoliterasi merupakan pondasi kemajuan peradaban dan kejayaan negeri bila ia berlandaskan hati semesta, kesadaran Ilahiah, dan kecerdasan literasi.

Penulis: dr Dito Anurogo MSc, dokter literasi digital, dosen FK Unismuh Makassar, pengurus IMO Chapter Makassar.

Berita Terkait
Komentar
Terkini