Telat Sarjana dan IPK Pas-pasan, Pria Asal Indonesia Ini Sukses Jadi Ilmuwan Kelas Dunia

IPK
IPK pas-pasan, Bagus Putra Muljadi sukses jadi ilmuwan kelas dunia. (Foto: Independensi)

Terkini.id, Jakarta – Dalam benak kita, kuliah di luar negeri tentunya hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang cerdas, pintar bahasa Inggris, dan memiliki IPK di atas rata-rata. Namun, hal itu tidak terbukti lewat sosok Bagus Putra Muljadi.

Pasalnya, pria asal Indonesia ini sukses menjadi ilmuwan di salah satu Universitas ternama di Inggris, Nottingham University.

Padahal, semasa kuliah di Indonesia, Bagus hanya memiliki IPK ‘pas-pasan’ yakni 2,69.

Tak hanya itu, ia juga terbilang lama menyelesaikan pendidikan sarjananya, yakni satu tahun lebih lambat dibanding seharusnya.

Dalam sebuah wawancara dengan media Kompas pada September 2019, Bagus menganggap perkara menggapai cita-cita adalah bagaimana seseorang memaksimalkan kesempatan yang datang padanya.

Bagus bercerita, semasa bangku sekolah hingga perguruan tinggi, ia tidak pernah mendapatkan predikat juara kelas, malah dirinya sempat mendapat banyak nilai merah di rapot.

Setelah hidup lama di Jakarta dan akhirnya berkuliah di Bandung, ia lebih sering menghabiskan waktu bermain.

Pria asal Betawi kelahiran 1 Maret 1983 ini menyadari kesalahannya ketika di masa muda kurang dewasa dalam menyikapi keadaan.

Lantaran terbebani dengan proses perkuliahan yang padat dan berat di jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung, ia pun harus mengejar ketertinggalan melalui semester pendek.

Akhirnya ia berhasil lulus satu tahun lebih lambat dari yang seharusnya dengan IPK 2,69.

Sadar akan tingginya penilaian perusahaan di Indonesia sata menerima fresh graduate, Bagus memutuskan mengadu nasib kembali dengan berkuliah di National Taiwan University untuk meraih gelar S2 dan S3 dengan jurusan Mekanika Terapan.

Saat melanjutkan kuliah di luar negeri, ia pun memikirkan cara membayar uang kuliahnya. Pasalnya, Bagus kuliah di luar negeri tanpa beasiswa.

Tidak habis akal, melalui relasi yang dibangun, Bagus membiayai kuliah dari keuntungan yang ia dapat sebagai sales pompa air.

“Saya tahu kalau saya menyerah dan pulang ke Tanah Air maka semua selesai sudah. Tidak akan ada kesempatan lain. Tertutup sudah semua kesempatan. Tapi kalau saya bisa menyelesaikan ini (S2 dan S3) pintu kesempatan masih terbuka buat saya,” ungkap Bagus kepada Kompas saat diwawancarai.

Dalam perjalanan akademiknya di luar negeri, Bagus mengakui jarang mengambil keputusan, namun memaksimalkan kesempatan yang ada di depan mata.

Dengan latar belakang yang berbeda, dirinya pun memberanikan diri melanjutkan post-doctoral disalah satu kampus top dunia, Imperial College London, pada 2017.

Usai menjalani post-doctoral di Imperial College London pada tahun 2017, Bagus kembali diterima sebagai faculty member, asisten profesor termuda di Departemen Teknik Lingkungan dan Kimia di Universitas Nottingham, Inggris.

Memulai track record akademik kurang memuaskan juga membentuk Bagus menjadi sosok adaptif. ‘Kepasrahannya’ justru membuat dirinya menekuni ragam lintas disiplin, dan menjadi berkat bagi dirinya.

Pekerjaannya sebagai anggota permanen di University of Nottinggam saat ini merupakan buah dari perjuangannya dan sikap disiplinnya terhadap penelitian yang ia lakukan.

Komentar

Rekomendasi

Hari Perempuan Sedunia, Bupati IDP: Momentum Strategis Menyuarakan Kesetaraan

Ini Makna Hari Perempuan Menurut Bupati Nunukan Asmin Laura Hafid

Wawancara Khusus Bersama Plt Dirut Bank Sulselbar Irmayanti Sultan

Wawancara Khusus dengan Ibu Indira Jusuf Ismail di Hari Perempuan Sedunia

Menginspirasi, Polisi Ini Jadi Guru Ngaji dan Bahasa Arab

Sosok Dadang Suhendi, Mantan Kakanwil ATR/BPN Sulsel di Mata Bawahannya

Dulu Urus Ban Mobil, Kini Sukses Jadi Desainer Aksesoris Kelas Dunia

Meski Punya Bisnis yang Sama, Karaeng Hilda: Sukses Bersama Lebih Indah

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar