Tentang Raja Bone yang memiliki banyak keturunan

"Tentang Raja Bone yang memilki banyak keturunan" oleh Deng Ile'

Terkini.id, – Geli, ketika saya membuka beberapa website yang membeberkan silsilah Raja Bone. Bukan karena isinya namun Komentarnya. Kolom komentar dijejali pengakuan-pengakuan bahwa mereka Keturunan Raja. Saya bukannya tak percaya atau menganggapnya konyol tapi Apa benar mereka keturunan Raja Bone yang asal-usulnya pun tak jelas? Seketika saya tersenyum kecut.

Beberapa screenshot yang sempat saya kumpulkan dari berbagai sumber.

Setahuku keturunan terakhir Raja Bone yang masih eksis dan diakui kebenarannya tinggal Andi Baso Bone “Puang One” Kepala Museum Lapawawoi sekarang. Keturunan langsung Alm. Andi Mappasissi Petta Arungpone “Ana-Pattola/yang berhak menggantikan Raja”. Cukup ke Museum Lapawawoi untuk menemuinya.

Perkara Akkarungeng [1] Bugis memang sangat luas dan ribet, bergelar Andi belum tentu bisa menjadi acuan bahwa ia keturunan Raja. Baso [6] pun ketika memiliki anak belum tentu bisa serta merta meletakkan Kata Baso juga didepan nama anaknya, karena gelar Akkarungeng bukan cuma dilihat dari garis darah.

Lagian apa kalian tidak malu menyandang gelar Baso sementara kelakuan sekadar baco-baco? Lebih baik baco-baco [6]yang berkelakuan Baso. Kelesss!

Payung yang hilang ditanah Panyula, bukti nyata yang bisa diambil hikmahnya jika ingin tahu kenapa bergaris darah bangsawan pun tak boleh serta-merta disebut Arung [3]. Alkisah, Raja Bone yang gemar memelihara ayam petarung kehilangan ayamnya. Setelah pencarian besar-besaran ditemukanlah sisa bulu Ayam kesayangan Raja di Panyula.

Oleh raja, Panyula ri paoppang (Dibalik) sehingga semua Arung yang saat itu menetap disana harus melepas Akkarungeng[1] mereka dan tak lagi ada hak menjadikan anak mereka Arung. Dari situ bisa disimpulkan bahwa, Menjunjung nilai-nilai Akkarungeng-lah yang lebih penting untuk bisa dianggap Arung selain bergaris darah Arung.

Atau “Arung ri Opo”. Sebuah keadaan yang membuat seorang arung tak bisa lagi memberi gelar kebangsawanan kepada anak cucunya. Namun berbeda dengan cerita diatas, Ri Opo setidaknya karena pilihan sang Arung sendiri atau karena sebab lain yang membuat sang Arung melepas gelarnya.

Jelas hal seperti ini akan otomatis membuat anak-cucu dari Arung tersebut juga tak bisa memasang Gelar kebangsawanannya. Tak sedikit Arung yang memilih jalan ini, pada saat Bone diduduki Belanda misalnya. Banyak pembesar kerajaan yang menolak diperintah orang asing sehingga pergi menetap ke daerah lain dan melepas gelar kebangsanan Bugis yang ia miliki. Setidaknya memilih jalan Ri Opo bagi mereka masih lebih terhormat.

Waktu itu kira-kira saya masih seumuran dengan personel Cowboy Junior ketika ibu saya rajin-rajinnya mengisi cerita-cerita Heroik tanah Bone dikepalaku.

Tak jarang nama aneh, istilah yang pelik untuk dimengerti, serta Paseng yang tiada habisnya menghiasi cerita-ceritanya. “Iyapa namate fata’e, matepi dua tellu tau massolla-sollae” [2] kata beliau. Saya yang hanya sesekali mendengar Bahasa Bugis kuno ini jelas susah mengerti apa yang beliau maksud. Kemudian ia lanjut menjelaskan sepotong kisah tentang La Bocca “Baso Cia Cau” singkatan yang diberikan raja Bone kepada seorang panglima perang yang tidak pernah berputus asa.

Sepertinya memang begitulah kami semua, Otak kami dijejali peristiwa heroik dimasa kecil termasuk persinggungan darah dengan sang pelaku sejarah tersebut. Tak tanggung-tanggung ibuku bahkan secara detail menyebutkan satu-persatu nama mereka. “Nene Cambali Besse Teko ripasiala Puang Lassongkeng napuana’i Baso Paddongi, Baso Mallongi, Baso Paddepungeng, Nenniya seddi makkunrai riaseng Besse Woja (sampai ke generasi terakhir) [5]“. Kata ibu yang sedang menjelaskan silsilah keturunan Sulewatang Ri Ajang Bulu.

Daerah Ajang Bulu adalah sebuah Kesultanan kecil yang masuk sebagai teritori yang dikuasai Bone, yaitu sekira-kira dari Ulaweng sampai sungai Walennae. Sedang pusat pemerintahannya ditempatkan disebuah gunung yang dipagari susunan batu “Benteng Lompoe”, dulu kata ibu, Tak sembarang boleh masuk.

Sebuah mitos yang sampai sekarang masih dipercaya “Tau Samaa” [7] atau yang bukan keturunan Arung tak boleh naik kesana sambil memakai payung atau pelindung kepala. Karena menurut cerita, mereka yang melanggar tak bisa kembali dengan utuh.

Fungsi utama yang paling mencolok dari adanya pusat pemerintahan Sulewatang ini adalah penyelesaian perkara masyarakat sekitar, namun perlahan luntur karena Kerajaan Bone sendiri lebih memilih ikut konstitusi Indonesia dan secara langsung membuat Negri kecil yang menjadi kekuasaan Bone juga harus ikut menerima. Akhirnya daerah Ajang Bulu kemudian dipecah menjadi beberapa desa dan kecamatan.

Di lain waktu Puang Solong atau kami cucunya yang sering memanggilnya Papa’ juga rajin menjelaskan hal seperti tadi. Selain tak bisa tenang untuk bekerja dikebun dan sawah miliknya,  masa tuanya dihabiskan untuk memberi petuah dan siraman napak tilas sejarah Bone ke Anak cucunya. Almarhum Puang Solong waktu itu sekira-kira umurnya 80an. Dengan gigi yang masih tersusun rapi serta tubuh yang masih kuat mencangkul membuatnya terkadang didatangi orang yang hanya untuk sekedar belajar Pake[7] atau rahasianya. Mungkin mereka pikir tak masuk akal diumur sepertinya masih kuat dan kelihatan segar.

Begitulah dahulu, namun karena keterbatasan otak jelas saya tak bisa mengingat semua. Mungkin semua yang berkomentar seperti itu dibanyak website punya kisah seperti saya. Otak mereka dijejali hal seperti tadi hingga memaksa diri mereka untuk merasa sebagai Keturunan Raja.

Monumen Arung Palakka – Raja Bone XVI di kota Watampone Kabupaten Bone

Manusia adalah mahluk yang sangat kompleks dan penuh differensiasi setiap individunya tapi bukan berarti mereka tak memiliki kesamaan. Pada hakikatnya kita memiliki kebutuhan dasar yang sama misalnya kebutuhan untuk diakui “Proof of Existence”. Klaim terhadap siapa kita akan disungguh-sungguhkan hanya supaya orang lain bisa mengetahuinya. Pada kasus ini begitulah yang saya tangkap. Mereka yang telah dibuat merasa memiliki garis keturunan Raja ingin diakui keberadaannya. Fungsi normal Manusia masih berjalan di otak mereka.

Namun bagi saya, cara mereka menuju hal tadi kurang tepat. Hanya sekedar bilang saya bisa menulis tidak lantas kemudian akan membuat saya diakui bisa menulis oleh orang-orang. Butuh latihan menulis dulu, ikut kelas kepenulisan blogger Angingmammiri 🙂 dan lain-lain sampai jika nanti ada yang bilang saya sudah bisa menulis barulah artinya saya bisa disebut “bisa menulis“.

Secara sederhana begitulah proses pengakuan yang pas menurut saya. Sama halnya Akkarungeng, meski anda anak dari Arung Matasa [4] manapun itu tidak akan lantas membuat anda akan diakui sebagai Arung. Tapi Mengamalkan nilai-nilai Akkarungeng dulu, memantaskan diri dulu sampai yang berhak membuat anda menjadi Baso[6] menjadikan anda Baso barulah anda bisa disebut Baso yang sebenar-benarnya.

Untuk saudara Bugis saya dari Bone, Soppeng, Wajo, Sinjai, Pinrang, Pangkep, Sidenreng, Maros, Bulukumba, Luwu, Kalimantan, Malaysia, Singapura, Afrika, China, Lithuania dan lain-lainnya semua. Semoga kalian sempat membaca tulisan yang masih sangat lemah nilai ini.

La tenri tatta Arung Palakka tidak memiliki keturunan meski telah beristri beberapa kali. Jadi tidak mungkin jika anda mengakui diri sebagai keturunan Petta Malampe’e Gemme’na ini. Pengganti beliau setelah mangkat adalah La Patau Matanna Tikka, Sepupu beliau.

Arung Palakka adalah gelar yang diberikan untuk semua Sulewatang yang pernah memimpin Tanah Palakka  (Kerajaan kecil yang terletak antara Pusat Kerajaan Bone dan Ajang Bulu). Jadi Arung Palakka itu banyak dan meskipun benar anda keturunan salah satu Arung Palakka belum tentu anda keturunan Raja Bone karena tidak semua Arung Palakka menjadi Raja Bone.

Betul jika anda Arung, Keturunan Raja, anda akan mendapat warisan yang sangat banyak sehingga sampai keturunan berapapun harta itu tidak akan habis. Harta yang pertama yaitu Payung Emas yang akan setia melindungi anda dari panas. Disusul Baju Emas yang pastinya akan melindungi kulit anda yang halus dan Senjata-senjata Pusaka yang sakti mandraguna. Payung Emas itu adalah Kehormatan yang akan anda terima jika mengamalkan Paseng “Petuah Bijak” dari leluhur kita, Baju Emas adalah Perlindungan yang diberikan setiap orang yang anda kasihi atas dasar Temmapasilaingeng [9], Senjata Pusaka yang sakti mandraguna adalah Kekuasaan yang akan orang berikan cuma-cuma kepada anda jika anda terlihat meyakinkan dan bisa dipercaya/ Menyelaraskan perkataan dan perbuatan baik. Sampai jika anda memilikinya andalah Arung yang sebenarnya.

Memiliki awalan Andi didepan nama tidak lantas membuat anda diakui sebagai Arung. Terminologi Andi baru muncul atau diakui sebagai gelar ketika Belanda mulai menancapkan kekuasaan di tanah Bugis. Andi adalah sebutan yang dilazimkan Belanda kepada orang dalam di Kerajaan. Sebelumnya Bone hanya mengenal Pattelareng “Gelar” seperti La “Arung Matasa [4] laki-laki”, We “Arung Matasa Perempuan”, Baso dan Besse.Sehingga tak sedikit orang yang menganggap Andi adalah Arung Ri Tado, atau Bangsawan yang rela diperintah oleh Negri Asing. Allahu a’lam, namun hal ini juga tidak boleh langsung membuat kita tidak mengakui Eksistensi Andi tersebut.

Tidaklah penting sebuah garis darah Keturunan Raja/ Arung tapi menjaga sikap dan tata laku Akkarungeng lebih mulia dan berguna bagi anda serta orang sekitar. Memang ada istilah Matteddung dan Maggellang tapi itu akan kembali lagi ke perangai masing-masing. Manusia pun akan dipanggil setan kalau kelakuannya buruk bukan?  Cukup perbaiki diri dan sikap… Setang! Ups maksud saya Sayang.

Catatan kaki:

  • [1] Akkarungeng = Kebangsawanan.
  • [2] Pepatah – “Iyapa namate fata’e, matepi dua tellu tau massolla-sollae” artinya: Hanya boleh meninggal seorang yang baik jika sudah mati dua sampai tiga seorang yang buruk akhlaknya.
  • [3] Arung = Keluarga Bangsawan/ Berdarah biru
  • [4] Arung Matasa’ (anak raja/ putera-puteri mahkota yang masak/ murni darahnya), yaitu ayah dan ibunya anak arung matasa’, baik yang berketurunan dari kerajaan Bone sendiri maupun yang berketurunan dari kerajaan-kerajaan lain yang dinilai sederajat/ setinggi dengan Bone, antara lain: Luwu, Gowa, Wajo, Soppeng, dan Sidenreng. (golongan ini disebut ANA’-PATTOLA, yang berhak penuh menggantikan raja)
  • [5] Ripasiala = Dinikahkan – Napuana’i = Memperanakkan (Orang tua dari)
  • [6] Baso = Gelar kebangsawanan untuk Arung Matasa laki-laki.  baco-baco = Lelaki biasa dari kalangan “Tau Samaa”.
  • [7] Tau Samaa = Golongan orang yang dimerdekakan atas perbudakan/ Masyarakat biasa.
  • [8] Pake = Ilmu – sering dikonotasikan dengan hal mistik / gaib.
  • [9] Temmapasilaingeng = Tidak Membeda-bedakan.
  • Lokasi Ajang Bulu tidak disebutkan secara spesifik karena permintaan keluarga. Serta beberapa nama harus disamarkan.

 

Berita Terkait
Love
Haha
Wow
Sad
Angry
[tdcn-comments title="Komentar" post_id="59047" get="20" border="true" auto_load="true" order="ASC"]
Terkini
Opini

Hajj Journey 2

ADA indikasi kuat bahwa haji atau amalan-amalan ritual di Tanah Haram sudah ada sejak awal turunnya manusia ke bumi ini. Hal itu terbukti dengan jejak-jejak
Opini

Hajj Journey

SAAT ini umat Islam di seluruh dunia bersiap-siap menyambut datangnya bulan haji. Bahkan saat ini pun musim haji yang penuh hiruk pikuk itu telah
Opini

Seni Perang Sun Tzu

UMUM menerima Sun Tzu sebagai jenderal besar, ahli strategi militer, dan ahli filsafat. Ia dipandang sebagai penulis buku klasik “The Art of War” yang
Opini

Sebab Kita Semua adalah Garuda

HARI ini kita menyaksikan sebuah peristiwa bersejarah. Setelah semua kontestasi yang membuat bangsa ini terpolarisasi. Setelah hiruk pikuk perdebatan bahkan caci maki di media
Opini

Legalitas vs Moralitas

DALAM mendefenisikan kebenaran itu harus ada dua hal yang mendasari. Dasar legalitas (hukum) dan dasar moralitas (etika). Keduanya boleh jadi saling mengikat.Hukum tanpa moralitas
Opini

Keputusan Itu

SEBUAH keputusan itu tidak selamanya menyenangkan. Jangankan keputusan manusia, yang seringkali penuh dengan intrik kepentingan dan manipulasi.Keputusan Allah saja, jika tidak sesuai keinginan dan
Bisnis

Tutupnya Gerai Giant

GIANT itu dimiliki oleh Group Hero. Hero sendiri didirikan oleh MS Kurnia pada 23 Agustus 1971, namanya Hero Mini Supermarket yang bertempat di Jalan
Opini

Libra Bitcoin, Mata Uang Baru dari Facebook

BITCOIN memang belum bisa meruntuhkan mata uang. Bahkan sempat melemah. Tapi beberapa hari terakhir ini on fire lagi. Gara-gara Facebook bikin kejutan: meluncurkan 'mata