Terkait FPI dan Terorisme, Direktur Pencegahan BNPT: Belum Tentu Penganut Paham Radikal itu Teroris

Terkini.id, Jakarta – Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Indonesia, yakni Brigjen Ahmad Nurwahid, menyoroti keterkaitan FPI dan terorisme.

Lebih tepatnya perihal fenomena ormas terlarang Front Pembela Islam (FPI) yang seolah bangkit lagi saat sidang Habib Rizieq digelar. 

Dalam sebuah wawancara bersama Eko Kunthadi dalam sebuah video yang diunggah di kanal YouTube CokroTV, Brigjen Ahmad, tampak menggambarkan FPI sebagai gerakan politik yang di-framing dengan kedok agama.

Baca Juga: Fadli Zon Sebut Indonesia Tidak Ada Teroris, EK: Matamu Picek

Brigjen Ahmad juga menyebut ormas tersebut dengan istilah “manipulator agama”.

“Antara kepentingan politik dengan ormas yang saat ini sudah dilarang itu, kan ada simbiosis,” jelas Brigjen Ahmad.

Baca Juga: Fadli Zon: Tidak Ada Teroris di Indonesia, Hanya Dibuat-buat

“Di satu sisi (kepentingan Politik) butuh kekuatan massa, di lain sisi (FPI) butuh logistik unruk pergerakannya,” sambungnya. 

Brigjen Ahmad Nurwahid kemudian menyatakan bahwa FPI merupakan sebuah organisasi yang menganut ideologi radikalisme.

Hilir dari ideologi radikalisme adalah gerakan dan aksi-aksi terorisme yang terjadi selama ini.

Baca Juga: Fadli Zon: Tidak Ada Teroris di Indonesia, Hanya Dibuat-buat

Sebab, menurutnya, paham inilah yang menjiwai orang-orang yang melakukan aksi teror itu.

“Namun, belum tentu orang-orang yang menganut paham radikal otomatis menjadi teroris,” paparnya. 

Lebih lanjut, Brigjen Ahmad mengungkapkan bahwa UU No. 5 Tahun 2018 hanya mampu menjerat dari aspek tindakan semata.

UU itu tidaklah menjangkau hingga ke ideologi radikalisme itu sendiri.

“Kalau ada UU No.27 tahun 1999 yang melarang ideologi Marxisme, Leninisme maupun komunisme, mengapa tidak dilarang juga ideologi radikalisme yang membahayakan Pancasila ini.”

Brigjen Ahmad kemudian melanjutkan dengan menyebut beberapa karaktristik orang-orang atau kelompok yang menganut ideologi radikalisme.

Menurutnya, mereka itu intoleran, suka mengklaim kebenaran, dan juga suka playing victim.

“Mereka itu sebenarnya adalah proksi. Enggak sadar kalau diperalat oleh kekuatan yang ingin menghancurkan Islam dan Indonesia,” pungkas Brigjen Ahmad.

Bagikan