Tim Prabowo Usul Debat Bahasa Inggris, Kubu Jokowi Usul Lomba Ngaji

Jokowi-Prabowo
Ilustrasi Jokowi vs Prabowo (terkini.id/yusventus)

Terkini.id – Sekjen PKB yang juga merupakan Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin, Abdul Kadir Karding, merespon usul yang dilontarkan kubu Capres-Cawapres, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, agar KPU menggelar debat dalam format bahasa Inggris.

Dilansir dari CNN Indonesia, Jumat, 14 September 2018, Karding mengatakan kubu Prabowo-Sandi kehabisan bahan kampenye sehingga mengusulkan debat capres dan cawapres menggunakan bahasa Inggris. Debat tersebut, kata dia, aneh dan mengada-ada.

“Itu ada-ada saja. Menurut saya itu kehabisan bahan. Debat presiden ya pakai bahasa Indonesia. Kenapa? Karena itu ukuran menurut Undang-Undang,” ujar Karding.

Menurutnya, berdasarkan PKPU Nomor 23/2018 tidak ada aturan yang menyebut debat menggunakan Bahasa Indonesia atau bahasa lain.

Sekjen PKB
Sekjen PKB, Abdul Kadir Karding

Karding meminta agar kubu rival tidak asal melemparkan isu. Pihaknya mengingatkan, pasangan capres-cawapres seharusnya lebih mengedepankan program yang ditawarkan untuk menyejahterakan rakyat.

“Cari yang bermutu, kampanyekan track record, kampanyekan program, kampanyekan prestasi,” ujar anggota Komisi III DPR RI ini.

Lanjut Karding, jika TKN Prabowo-Sandiaga bersikeras debat menggunakan bahasa Inggris, maka pihaknya juga bisa mengusulkan lomba salat dan mengaji.

Baca :Anies Baswedan Diusulkan Gerindra Jadi Cawapres Prabowo, Ini Alasannya

“Kalau mau cari-cari seperti itu saya bisa usulkan lomba ngaji atau lomba salat antara capres dan cawapres. Jadi jangan aneh-aneh, cari yang bermutu,” tegas Karding.

Jokowi-Prabowo
Prabowo Subianto dan Joko Widodo (Jokowi)

Sebelumnya, usulan debat berbahasa Inggris dilontarkan Ketua DPP PAN Yandri Susanto. Alasannya, penggunaan bahasa Inggris penting mengingat seorang pemimpin negara akan bergaul dan berbicara di dunia internasional.

“Karena presiden bergaul di dunia internasional supaya tidak ada miskomunikasi dan salah tafsir dari lawan bicara,” ucap Yandri, dikutip dari laman kompas.