‘Time-Lag’ Pemulihan Ekonomi Indonesia

KETIKA orang sakit minum obat yang diberikan dokter, sakitnya tidak segera sembuh.
Antara tindakan minum obat dan kesembuhan ada jarak waktu, yang dalam Ilmu Ekonomi dinamakan “time-lag.”

Sebagai dosen Teori Ekonomi, saya tahu itu. Tetapi, ternyata, dalam praktiknya, saya salah.
Dan, kesalahanku ditemukan dan diingatkan seorang mahasiswiku, yang adalah dokter sebuah perusahaan.

Hampir 30 tahun yang lalu, sang mahasiswi konsultasi penulisan skripsinya ke rumahku, pada saat saya baru sembuh dari sakit.

Muncullah peluang berbasa-basi dengannya. Karena sakit, saya konsultasi ke dokter A, tetapi belum juga sembuh dalam beberapa hari.

Karena tidak sabar, saya pindah ke dokter B. Ajaib. Saya sembuh, dan memuji kehebatan dokter B.

Baca juga:

Kata mahasiswiku dengan senyum dan hati-hati: “Bapak mungkin sekali salah. Mungkin sekali Bapak sembuh karena obat yang diberikan dokter A. Ketika Bapak mulai sembuh karena obatnya, Bapak pindah ke dokter B, dan mengira bahwa Bapak sembuh karena obatnya dokter B.”

Saya terpana. Menyerah. Menjadi lebih arif karena belajar dari mahasiswiku.

Kini, Indonesia sedang sakit: harga dolar yang meroket dan rupiah yang menukik. Berdasarkan pengalamannya, para dokter sudah memberikan sejumlah obat.

Akan tetapi, para pasien tidak sabar menunggu kesembuhannya. Karena tidak sabar, dan panik, ada yang memborong dolar.

Permintaan terhadap dolar meningkat, dan harganya lebih menggila. Muncullah peluang yang bagus bagi sebagian politisi untuk menjual gorengan politiknya, yang membuat keadaan menjadi lebih parah.

Di era globalisasi, penyakit ekonomi masa kini jauh lebih rumit dibandingkan dengan apa yang dialami sebelumnya.

Sebuah obat yang diterapkan di dalam negeri, kemungkinan besar akan mengundang balasan dari luar negeri.

Jika Indonesia menurunkan impor dari AS, misalnya, hal itu akan mengundang tindakan Presiden Trump untuk menurunkan impornya dari Indonesia.

Inilah yang dinamakan “beggar thy neighbour policy” dalam Ilmu Ekonomi Internasional. Setelah babak-belur karena tindakan balas-membalas, para pihak akan didorong untuk menemukan obat yang bersifat ‘win-win.’

Obat ‘win-win’ itu ditemukan melalui perundingan bilateral dan multilateral dalam waktu yang tidak pendek. Ketika obat itu diterapkan, dampaknya baru terasa melalui ‘time-lag.’

Sementara itu, jangan lupa berdoa agar tidak terjadi gempa bumi.

Gempa bumi akan menyebabkan menurunnya kunjungan wisatawan mancanegara, menurunnya pemasukan dolar, meningkatnya biaya penanggulangan akibat bencana alam, dan seterusnya.

Indonesia pernah sakit lebih parah pada tahun 1965, ketika mana inflasi mencapai 600%. Pada waktu pemerintahan Presiden Suharto diterapkan berbagai kebijakan ekonomi, dan lambat-laun, melalui ‘time-lag’ badai berlalu, dan Indonesia tidak bubar.

Saran: Setelah diminum obatnya, terapkan 3S: Sabar! Sabaarr!! Sabaaarrr!!!

Komentar

Rekomendasi

Rasisme itu Dosa Asal Amerika

Ekstrem Kanan dan Ekstrem Kiri di Amerika Serikat

Anarkis itu Suara yang Tak Terdengarkan

Hong Kong Konawe

Beli Motor Honda dari Rumah, Bisa dapat Potongan Harga Jutaan Rupiah

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar