Tinggal di Gubuk Reot, Daeng Sialle Sekeluarga Butuh Uluran Tangan

Penampakan gubuk milik Basri Daeng Siale warga Bontoduri VII Makassar.

Terkini.id, Makassar – Basri Daeng Sialle warga RT 5/ RW 7 Bontoduri VII Kelurahan Bontoduri Kecamatan Tamalate Kota Makassar Sulawesi Selatan, harus bertahan hidup tinggal di sebuah gubuk reot.

Daeng Sialle bersama anggota keluarganya tinggal di gubuk yang sangat memprihatikan. Dinding seadanya, beratap seng bocor termakan usia, berlantai tanah, isi rumah ala kadarnya, di sinilah mereka harus menghabiskan hari-harinya di gubuk reot ini.

Tempat tidur menyatu dengan dapur

Dapur dan tempat tidur menyatu jadi satu. Tak ada yang istimewa dari dalam rumahnya. Hanya tempat tidur dengan tikar tipis dan beberapa kain seadanya sebagai alasnya.

Dinding rumah tersebut hanya dengan seng berkarat, tiangnyapun sudah termakan rayap, bahkan tangga ke atas rumah panggung inipun meski butuh kehati-hatian dan keberanian yang luar biasa.

Jika tak biasa menaiki anak tangga kayu janganlah sesekali menapakinya, Anda bisa terjatuh.

Kondisi tempat tinggal Daeng Sialle

Menarik untuk Anda:

Jika melihat bentuk rumah milik Basri Daeng Sialle dan Kumala Daeng Ratu ini, penampakan awalnya adalah rumah panggung, namun karena lantai, tangga, dinding, atap dan tangganya sudah mulai rapuh termakan rayap, sehingga mereka memilih tidur di kolo rumah panggung itu.

Memang bangunan itu tampak sudah tak layak lagi untuk menjadi tempat tinggal hunian. Karena gubuk reot tersebut sewaktu- waktu bisa saja ambruk ke dasar tanah.

Penampakan lantai gubuk milik Daeng Sialle

Dari segi kesehatan, gubuk milik Daeng Sialle dan Daeng Ratu ini jauh dari kategori rumah sehat. Pencahayaan di dalam rumah terbilang minim.

Saking minimnya luas ruangan, mereka menyiasati kolong rumah untuk menyimpan perabot rumah tangga. Seperti gelas, piring, mangkok, kompor, dan alat masak lainnya, bahkan dapurnya ditempatkan sederetan tak jauh dari MCK seadanya. Di tempat itulah pula mereka bersantap seadanya bahkan tidur.

Kebutuhan sehari-hari
Pekerjaan Basri Daeng Siale adalah tukang bentor alias becak motor, namun selama Corona harus memarkir bentornya untuk mengikuti anjuran pemerintah. Sementara sang istrinya hanya sebagai ibu rumah tangga.

Daeng Ratu dan keluarganya

Diakuinya, dulu pernah menjadi penjual bakso namun karena minim modal usahanya pun gulung tikar. Gerobak miliknya kini hanya terparkir di depan gubuk mereka.

Untuk bisa menyambung hidup, anaknya ada yang biasanya membantu pedagang ayam di pasar untuk potong-potong ayam.

Biasanya ia akan diberikan upah tak seberapa ya paling buat beli beras dan kebutuhan lainnya.

”Kalau untuk makan, saya biasanya dapat beras dari orang-orang dan atau hasil upah anak saya yang bekerja di pasar karena selama Corona ini ruang gerak sehingga kami mengurung diri di rumah saja. Hanya anak yang ke pasar bantu-bantu orang potong-potong ayam,” beber Kumala Daeng Ratu saat ditemui terkini.id.

Penampakan lantai atas

Lanjut diakuinya gubuk tempatnya bernaung kini ini adalah hasil jerih payah keluarganya. Lokasi atau tanah tempat tinggalnya pun sudah hak milik. Ditanya soal bantuan apakah dirinya pernah tersentuh program bedah rumah, ia mengaku belum ada bantuan.

“Belum pernah ada bantuan, saya berharap semoga ada yang bisa membantu apalagi dalam situasi saat ini, karena penghasilan pun tidak ada selama korona,” terangnya.

Diketahui, keluarga Basri Daeng Sialle bersama Kumala Daeng Ratu kini sedang didampingi oleh Komunitas Jurnalis Berbagi untuk mencari jalan bagaimana agar keluarga mereka bisa produktif kembali minimal ketersediaan modal dan juga merenovasi gubuk panggungnya itu.

Koordinator Komunitas Jurnalis Berbagi, Echa Panrita Lopi membenarkan jika saat ini ada beberapa warga yang komunitasnya temukan berada pada taraf kurang mampu atau berada di bawah garis kemiskinan.

Menurut Echa, komunitasta sudah melakukan komuniksi dengan beberapa pihak untuk bisa membantu meringankan beban masyarakat apalagi di tengah Pandemi Covid-19 saat ini. Salah satunya adalah kelurga Basri Daeng Sialle ini.

“Syukur Alhamdulillah, selama ini saya pribadi dan juga teman-teman Komunitas Jurnalis Berbagi banyak membantu masyarakat Makassar dan sekitarnya. Dan Insya Allah kami akan tetap mencari cara halal untuk bisa membantu mereka yang membutuhkan, seperti keluarga Basri dan Kumala ini,” tegas Echa.

Ia juga berharap kepada pemerintah khusunya Dinas terkait agar aktif untuk melakukan pemantauan di tengah masyarakat. Mengingat ada begitu banyak masyarakat yang tidak tersentuh dan bahkan hampir mati kelaparan.

“Ya, sesekalilah menyapa langsung warga di pemukiman, biar tahu seperti apa kondisi mereka. Ini satu dari sekian banyak yang kami temukan selama ini. Tugas kami sebagai jurnalis adalah menyampaikan informasi kepada masyarakat, namun kami juga ada sisi kemanusiaan untuk membantu sesama,” terangnya.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Mengandung Racun, 5 Buah Ini Bisa Membunuh Anda Jika Dikonsumsi

Wanita Perlu Tahu, Inilah Tanda-tanda Anda Sudah Dinikahi Jin

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar