Toto Hanya Orang yang Mencintai Indonesia

TAHUN 2010. Publik Newyork terbelah pendapatnya. Pasalnya di lokasi dekat runtuhan gedung WTC yang hancur dihantam aksi teroris, hendak dibangun sebuah masjid. Sebagian warga menentang rencana itu. Bagi mereka, teroris yang membunuh ribuan warga AS, membawa simbol Islam. Merekapun protes keras jika di lokasi Ground Zero itu berdiri masjid.

Rakyat AS yang menolak masjid berpandangan, bahwa terorisme itu sama dengan Islam.

Ketika digelar jajak pendapat, suara orang yang menolak dan menerima hampir sama. Bahkan di beberapa jajak pendapat lain justru lebih banyak warga yang menolak. Sentimen anti Islam pasca peristiwa 911, sangat mewarnai bathin warga.

Tapi apa komemtar Presiden Obama, saat itu? “Konstitusi AS menjamin kebebasan beragama. Saya pemimpin AS. Tugas saya menjaga konstusi itu tetap tegak,” ujarnya dalam sebuah acara di bulan Ramadhan di Gedung Putih. Obamapun memberi dukungan pada rencana pembangunan masjid di dekat lokasi Ground Zero.

Sikap Obama ini habis-habisan dikritik politisi Republik. Tapi, sekali lagi, meski warga ada yang menolak, UUD Dasar Amerika Serikat menjamin warganya menjalankan keyakinan agama. Obama yakin, tugasnya sebagai CEO sebuah negara adalah memastikan konstitusi negaranya tetap regak. Apapun resiko politiknya.

Itu sebuah sikap. Karena untuk menjaga konstitusi negaranya itulah Obama duduk sebagai Presiden AS.

Sebetulnya Indonesia juga menganut prinsip yang sama dengan AS. Konstitusi kita menjamin hak beragama semua warganya. Negara menjamin warganya untuk memeluk dan menjalankan ibadah menurut agamanya masing-masing.

Siapa saja yang melarang orang dalam menjalankan keyakinanya, sesungguhnya ia adalah pelanggar konstitusi.

Lalu siapa yang harus menjaga agar konstitusi tetap tegak? Semua orang yang masih mencintai negaranya. Terutama mereka yang digaji dan dibiayai hidupnya dari pajak rakyat.

Artinya tugas aparat, perangkat negara, ASN, dan semua yang digaji oleh rakyat yang paling utama adalah konsisten menjaga dan menegakkan konstitusi. Di tangan merekalah konstitusi dilaksanakan. Sebab dengan begitu, sebagai bangsa Indonesia bisa tetap berdiri tegak.

Di Dharmasraya, Sumatera Barat, sudah lama setiap Natal, warga yang beragama Kristen tidak bisa melaksanakan ibadah. Tidak bisa menggelar perayaan hari besar agamanya. Alasannya, karena sebagian warga Kabupaten itu menolak.

Tapi apapun alasannya. Pelarangan perayaan Natal adalah bentuk nyata dari pelanggaran konstitusi. Semestinya aparat hukum dan pemerintah merupakan orang pertama yang menolak pelarangan tersebut.

Jikapun ada perjanjian antara sebagian warga. Tapi, atas nama konstitusi perjanjian itu batal demi hukum. Sebab bertentangan dengan aturan di atasnya.

Aktivis Pusaka (LSM yang memperjuangkan toleransi) Toto Sudarto, warga Sumbar, adalah orang secara berani berteriak membela konstitusi di wilayahnya. Ia membela hak penganut Kristen di Dharmasraya dan Sijunjung untuk bisa menggelar ibadah Natal.

Sebagai warga biasa. Toto sedang membantu aparat untuk menegakkan konstitusi Insonesia di Dharmasraya. Ia tidak ikhlas, wilayahnya menjadi lahan subur pelanggaran konstitusi secara membabi buta. Suara Toto nyaring sehingga membetot perhatian nasional. Mendagri ikut berkomentar, tidak boleh ada pelarangan perayaan Natal dimanapun. Kepala daerah wajib menjaga marwah Indonesia yang plural. Toleran dan guyub.

Atas seruan itulah, akhirnya warga di Sharmasraya dan Sijunjung bisa melaksanakan acara Natal tahun ini. Alhamdulillah.

Mestinya Bupati Dharmasraya, aparat keamanan, Kanwil Depag disana, berterimakasih pada Toto. Ia tidak digaji negara. Tapi gigih memperjuangkan agar konstitusi negara ini tidak melenceng. Ia tegar. Kadang melawan arus. Tapi, negara bukan sejenis ikan lele yang pasrah menghadapi arus.

Konstitusi sejatinya adalah alasan kenapa negera perlu ada. Adalah alasan kenapa pemerintah harus dibentuk. Juga alasan kenapa rakyat wajib bayar pajak, yang sebagian duitnya bisa menggaji aparat. Beli mobil dinas. Sampai membayar lauk pauk makan siang Bupati.

Tapi apa yang terjadi saat ini? Toto Sudarto ditangkap polisi. Dijadikan tersangka. Tuduhannya melanggar UU ITE. Sial, UU karet ini memakan korban lagi.

Kita heran. Jika seorang yang dengan lantang berani melawan arus untuk menegakkan konstitusi lalu ditangkap. Bagaimana kita bisa melihat masa depan yang cerah untuk Indonesia. Bagaimana kita bisa yakin bahwa di negeri ini setiap keyakinan bisa menjalankan ibadahnya sendiri-sendiri.

Iya, benar. Kadang ada kelompok rakyat yang tieak suka dengan mereka yang berbeda agama. Mereka berusaha menghalangi orang lain untuk ibadah. Tapi salah satu gunanya aparat adalah untuk menjamin ketidaksukaan itu tidak mewujud dalam pelarangan ibadah. Sebab, aparat seharusnya orang yang paling tahu, menghalangi siapa saja menjalankan keyakinan agamanya. Termasuk pelanggaran.

Aparat, Bupati, ASN harusnya berdiri paling depan menjaga konstitusi negeri ini.

Jika orang seperti Toto ditersangkakan hanya karena ia membela hak konstitusional sekelompok warga negara. Saya rasa kita wajib bersedih. Kita pantas pesimis dengan masa depan Indonesia.

Toto bukan kriminal. Toto hanyalah orang yang sadar untuk menjaga Indonesia dari kemungkinan tirani mayoritas. Toto adalah seorang pejuang tangguh dan gigih. Toto tidak pantas dijadikan tersangka.

Ayo, pak polisi di Dharmasraya. Jangan buat kami sedih. Jangan buat kami meragukan masa depan negeri ini.

Kami mencintai Indonesia. Seperti juga Toto yang mencintai negerinya. Jangan penjarakan orang yang mengekspresikan cintanya kepada Indonesia lewat media sosial. UU ITE tidak dibuat untuk itu.

Tugas kita adalah membela Toto. Meneriakkan agar aparat tidak bertindak konyol karena desakan satu dua orang yang intoleran. Kita akan hiasi status kita dengan suara lantang pembelaan ini.

Jika dibiarkan. Hari ini Toto. Mungkin esok kita yang akan dilibas secara konyol. Padahal kita –seperti juga Toto– hanya ingin memastikan Indonesia tetap menjadi Indonesia. Tidak berubah menjadi gurun tandus.

www.ekokuntadhi.id

Komentar

Rekomendasi

APD Jas Hujan

Sepenggal Cerita Awak Kabin Mengudara di Tengah Pandemi Covid-19

Seribu Bayangan Kematian di Udara

Isra’ Mi’raj dan Dunia Global

Apa Kabar Omnibus Law?

Pelakon Ekonomi Kerakyatan di Zaman Social Distancing

Al-Isra Wal-Mi’raj dan Covid-19

Zakir

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar