Tradisi Malam Qunut, Warga Barru Makan Kue Apang Usai Tarawih

Tradisi Malam Qunut, Warga Barru Makan Kue Apang Usai Tarawih
Tradisi Malam Qunut, Warga Barru Makan Kue Apang Usai Tarawih

Terkini.id, Barru – Budaya sebuah daerah tentunya memiliki perbedaan tersendiri, bagaimana jika yang terjadi di Kabupaten Barru, Kelurahan Tuwung, Kecamatan Barru, Kabupaten Barru.

Bertepatan dengan Malam Qunnut atau biasa dikatakan pertengahan malam Bulan Suci Ramadan yang tepat pada malam ke enam Belas Bulan Suci Ramadan, salah satu nuansa yang unik terjadi di lingkungan Kamara, Kelurahan Tuwung, Kecamatan Barru Kabupaten Barru.

Jika dikatakan malam pertengahan bulan suci Ramadan, pastinya identik dengan kue yang disajikan setelah selesainya Shalat Tarawih, namun di kelurahan tersebut ada sesuatu yang unik dan mengundang rasa penasaran tentunya.

Jika biasanya yang disajikan hanya kue biasa saja, namun berbeda di Kelurahan tersebut, masyarakat menyajikan kue yang merupakan makanan Khas Kabupaten Barru, yakni kue apang bahasa daerahnya, yang disajikan semua isi piring dalam pertengahan bulan suci Ramadan tersebut.

Ternyata penomena tersebut, bukan merupakan kali pertama dilakukan di Kelurahan itu, namun ini sudah menjadi kegiatan turun temurun, yang dilakukan sejak nenek moyang mereka, dan budaya itupun masih terus dipelihara oleh masyarakat di daerah tersebut, walaupun secara umum Kabupaten Barru, sudah sangat jarang ditemukan budaya ini.

Baca juga:

“Yah sajian kue apang ini sendiri, sudah dilakukan oleh nenek moyang kita, dan telah berlangsung berpuluh-puluh tahun lamanya, dan masih kami pelihara sampai sekarang ini, dan masyarakat di Kamara juga masih bersepakat untuk menjalankan budaya ini,”ujar Kepala Lingkungan Kamara, Kelurahan Tuwung, Rijal Samade, Kamis 31 Mei 2018 malam sesaat setelah melaksanakan Ibadah Shalat Tarawih.

Rijal, menuturkan, kalau dirinya belum tau persis apa makna yang terkandung dalam budaya ini sendiri, namun karena sudah menjadi rutinitas sejak dahulu, sehingga kami hanya memelihara budaya ini, untuk tetap kita kemudian pertahankan.

“Kami tidak tau persis apa makna dibalik sajian apang, yang disajikan setiap tahunnya di daerah kami, namun intinya tujuan ini hanya sebagai bentuk menjaga budaya yang ada sekarang ini,”terangnya.

Diapun mengaku, kalau sajian tersebut tanpa komando apapun, dan tidak ada yang mewajibkan mereka harus membawa sajian kue apang, pada pertengahan bulan Suci Ramadan itu, namun secara sukarela mereka setiap pertengahan bulan Ramadan akan memasak apang untuk disajikan dalam pertengahan bulan Ramadan.

Bertepatan dengan Malam Qunnut atau biasa dikatakan pertengahan malam Bulan Suci Ramadan yang tepat pada malam ke enam Belas Bulan Suci Ramadan, salah satu nuansa yang unik terjadi di lingkungan Kamara, Kelurahan Tuwung, Kecamatan Barru Kabupaten Barru.
Bertepatan dengan Malam Qunnut atau biasa dikatakan pertengahan malam Bulan Suci Ramadan yang tepat pada malam ke enam Belas Bulan Suci Ramadan, salah satu nuansa yang unik terjadi di lingkungan Kamara, Kelurahan Tuwung, Kecamatan Barru Kabupaten Barru.

“Jadi tidak ada yang mesti mewajibkan hal tersebut, namun mereka secara sukarela membuat apang di rumah masing-masing, untuk kemudian dibawah ke Masjid, yang mana mereka sajikan setelah pelaksanaan Shalat Tarawih,”pungkas Rijal.

Rijal mengungkapkan, kalau dengan budaya tersebut kemudian, ketika acara itu sudah dilakukan dalam bulan Suci Ramadan ini, maka menandakan kalau Ramadan tahun ini sudah masuk malam ke enam belas. “Jadi itu sudah menandakan kalau Bulan Ramadan tahun ini sudah masuk malam ke enam belas dan telah dilakukan setiap tahunnya pada waktu yang sama,”ungkap dia.

Selain tujuan untuk perayaan malam ke enam belas bulan suci Ramadan, tujuan diadakan budaya ini, dan tetap dipertahankan karena pada malam tersebut, hampir semua masyarakat muslim akan hadir di Masjid, untuk menantikan perayaan ini.

“Dengan demikian maka hubungan silaturrahim antara sesama masyarakat, berjalan dengan baik, dan tentunya ajang silatturahim dan persaudaraan antara sesama masyarakat, dan ini akan menjalin ukhuwah islamiah yang baik,”terang dia.

Nah apa kemudian makna kenapa mesti menggunakan apang, sedikit ungkapan yang tentunya menjadi ajang yang menarik untuk dipahami, karena ternyata antara Filosofi apang dengan budaya mempertahankan kemakmuran masjid, juga ternyata terkandung di dalamnya.

Dari berbagai sumber, dapat disimpulkan pendapat masyarakat Barru terkait kenapa mesti apang di pertengahan malam bulan Suci Ramadan.

Salah satu warga Barru, Ridwan yang mana memiliki pendapat hampir sama dengan kebayakan sumber yang diwawancarai tentang hal tersebut.

“Yah kenapa ada apang di malam qunnut, karena ada filosofi tersendiri dalam pembuatan apang ini, awalnya dimasak itu hanya ada sedikit saja, namun kemudian setelah terus di masak, maka kemudian akan terus mengambang, dan akhirnya menjadi besar dan berkembang,”urai Rijal.

Maka dari Makna itulah kemudian, maka diharapkan dengan sajian apang pada malam ke enam belas ini, tidak menyurutkan niat masyarakat Muslim, untuk senantiasa meramaikan masjid, dengan cara datang untuk melakukan ibadah Shalat Tarawih.

“Karena biasanya kan semakin tua bulan Ramadan, maka semakin kurang masyarakat yang berjamaah, maka kita bagaimana mempertahankan hal ini, dengan mengambil filosofi apang, semakin dimasak maka semakin besar, maka diharapkan semakin tua Ramadan jumlah jamaah tidak berkurang, dan bahkan makin terus bertambah,”tuas Ridwan

Komentar

Rekomendasi

Satu Santri Asal Barru Sembuh dari Corona, Langsung Diantar Bupati Pulang Kampung

7 Warga Barru Terjangkit Corona Kini Negatif di Swab Test Pertama

Tak Tersentuh Bansos Pemerintah, Warga Barru Ini dapat Bantuan dari AJB

Barru Zona Merah, Gurutta Faried Wadjedy Tandatangani Peniadaan Shalat Id di Masjid

Tujuh Warga Barru Terkonfirmasi Covid-19, Bupati Semangati Lewat Virtual

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar