UIN Alauddin: Empat Kasus Pelecehan Seksual Sudah Ditindak Tegas

Wakil Rektor III UIN Alauddin Makassar, Profesor Darussalam.(ist)

Terkini.id, Makasaar – Kekerasan dan pelecehan seksual di Perguruan Tinggi Negeri kembali mencuat, salah satunya di Universitas Islam Negeri Makassar.

Kasus kekerasan dan pelecehan seksual di kampus tersebut terhitung sudah 4 kali dalam beberapa tahun terakhir.

Empat kasus tersebut antara lain penemuan kamera tersembuyi yang disimpan di dalam toilet salah satu fakultas, kasus begal payudara terhadap mahasiswa dan yang menggegerkan, pelecehan yang dilakukan salah seorang CPNS UIN Makassar.

Terakhir, kasus teranyar adalah pelecehan melalui video call seks. Sejumlah mahasiswa menjadi korban dan kerap mendapat teror lewat video tak senonoh yang dikirimkan ke aplikasi chat ponselnya. Akibatnya, sejumlah korban pelecehan pun cenderung tertutup.

Wakil Rektor III UIN Makassar, Profesor Darussalam mengungkapkan, tiga di antara kasus tersebut sudah selesai. Adapun kasus terakhir, yakni soal video call seks, tim investigasi dan kepolisian telah mencari pemilik nomor telepon yang mengirim video call tersebut.

Menarik untuk Anda:

Kata dia, pihak kampus telah membentuk tim khusus investigasi yang diketuai oleh Wakil Dekan bidang kemahasiswaan dan sejumlah petinggi dari jurusan.

“Bahwa langkah yang kita tempuh membentuk tim investigasi karena  mengancam mahasiswa. Kita ambil wakil dekan kemahasiswaan dari fakultas terkait, ketua ketua jurusan serta penasihat akademik, serta ketua Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA),” kata dia, Selasa, 29 September 2020.

Fokus Tangani Kasus Video Seks

Dia mengatakan terhadap 3 kasus sebelumnya, pihaknya telah bersikap dan proses hukumnya telah berlangsung. 

Darussalam mengatakan pihak internal kampus, dan lembaga eksternal seperti LBH Apik, juga pihak kepolisian terlibat membantu percepatan proses kasus. Sehingga pelaku bisa segera ditemukan. 

“Mengenai beberapa korban (video call sex) kita alhamdulillah didampingi LBH Apik sudah melapor ke pihak kepolisian. Sementara kita dari fakultas tetap back up,” sebutnya. 

Selain tim investigasi, kampus juga telah menyiapkan wadah pendampingan psikolog bagi korban. 

“Kita menyiapkan di fakultas ada lembaga konseling, melakukan konseling terapi begitu juga di pusat PSGA untuk memulihkan psikis anak yang menjadi korban,” paparnya. 

Jika pelaku nantinya berasal dari internal kampus, pihak kampus akan ada dua sanksi yang menanti. Sementara jika berasal dari luar kampus, maka akan dikenakan sanksi pidana saja. 

“Kepolisian sudah menelusuri terbukti. Jika yang melakukan mahasiswa kami akan berikan sanksi akademik dan pidana, jika eksternal maka dikenakan pidana saja. kita tunggu hasilnya insyaallah,” pungkasnya

Senada dengan itu, Kepala Biro Kemahasiswaan Alwan Subhan mengatakan pihak kampus sudah menangani hal ini dengan serius.

“Kampus tetap membackup, bila terbukti pelakunya mahasiswa maka sanksi pidana dan administrasi,” ungkapnya.

“Jangan sampai anak kita jalan sendiri dalam menangani kasusnya,” tambahnya kemudian.

Terkait dengan kasus pelecehan melalui kampera tersembunyi yang disimpan dalam toilet, dia mengatakan pelaku sudah dipecat dari fakultas.

Sudah berproses di kejaksaan, namun dikembalikan ke kampus, lantaran tidak ada yang melapor. Lalu kampus ambil keputusan pecat pelaku,” kata dia.

Terhadap kasus oknum dosen yang melakukan pencabulan. Dia mengatakan hal itu telah berproses, pihaknya telah meminta SK pemecatan di kementrian selaku pemberi SK.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Kepala Ditebas Warga, Anggota Dewan di Sulsel Alami Pendarahan Parah

Akademisi Kedokteran Unpad Beberkan Penyebab Covid-19 Mudah Menyebar

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar